logo

Bacaan Dzikir dan Do’a Setelah Shalat Tarawih dan Witir | Konsultasi Muslim



Banyak kita temukan bacaan-bacan setelah shalat tarawih, dari yang bacaannya pendek sampai yang bacaannya panjang. Namun bacaan yang dibaca setelah shalat tarawih tersebut sebenarnya tidak terdapat di dalam hadist Nabi. Hanya saja do’a-do’a dan dzikir yang dibaca oleh masyarakat itu bagian dari ijtihad sebagian ulama dalam menulis dzikir-dzkir dan do’anya.

Dan sependek pengetahuan penulis, memang tidak ada do’a khusus yang diajarkan oleh baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk dibaca setelah shalat tarawih.

Lalu bolehkah membaca do’a apapun setelah shalat tarawih?

Jawabannya boleh. Karena do’a tidak terikat dengan apapun. Maka dari itu bisa membaca do’a apapun setelah shalat tarawih. Bahkan sekalipun dia berdo’a dengan bahasa Indonesia, maka hal itu tetap diperbolehkan, karena dia berdo’a dengan bahasa yang dia mengerti. Yang tidak boleh itu, jika misalnya ada do’a yang diajarkan oleh baginda Rasulullah, lalu kemudian dia rubah kalimat dari Hadist sesuai dengan hawa nafsunya, maka hal ini yang tidak diperbolehkan.

Adapun do’a yang terdapat di dalam Hadist adalah do’a setelah shalat witir. Apa do’anya?

1. Membaca do’a :

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

Maha Suci Raja Yang Maha Suci

Dari Ubay bin Ka’ab berkata :

فَإِذَا فَرَغَ، قَالَ عِنْدَ فَرَاغِهِ: «سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ»، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يُطِيلُ فِي آخِرِهِنَّ


Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari witirnya, beliau membaca subhaanal malikil qudduus (sebanyak tiga kali), beliau memanjangkan di akhirnya. (HR. An-Nasa’i, hadist no. 1699).

Apakah Tambahan “Robbil Malaaikati War Ruh” itu bid’ah?

Tambahan “Robbil Malaaikati War Ruh” yang dibaca setelah shalat witir bukanlah termasuk bid’ah, karena ada dalil pendukungnya. Adapun jika suatu amalan terdapat dalil yang mendukungnya, maka tidak bisa dikatakan bid’ah.

Dari Ubay bin Ka’ab berkata :

فَإِذَا سَلَّمَ قَالَ: " سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ " ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ فِي الْآخِرَةِ يَقُولُ: " رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam, beliau mengucapkan : “Subhaanal malikil qudduus” sebanyak tiga kali dan di suara ketiga, beliau memanjangkan suaranya. Lalu beliau mengucapkan : “Robbil malaikati war ruuh.” (HR. Al-Baihaqi, hadist no. 4862).


2. Membaca do’a :

Dari Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dari Aisyah bahwa Nabi membaca do’a :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Ya Allah, aku berlindung dengan ridhoMu dari kemurkaanMu, aku berlindung dengan maafMu dari hukumanMu, dan aku berlindung kepadaMu dari siksa-Mu. Aku tidak bisa menyebut semua pujian untukMu, sebagaimana Engkau memuji diriMu sendiri. (HR. Ibnu Majah, hadist no. 3841).

Adapun do’a-do’a di atas, bisa dibaca ketika sendiri. Apalagi sekarang sedang banyaknya penyebaran virus corona di Indonesia, dan pemerintah melarang untuk shalat berjama’ah di masjid, dalam rangka memutus mata rantai virus corona.

Namun, jika dia tetap mau berjam’ah, maka shalat lah di rumah secara berjama’ah. Karena shalat berjama’ah tarawih tidak harus dikerjakan di masjid, bahkan berjam’ah di rumahpun bisa. Apalagi sedang dalam genting seperti sekarang ini. Lebih baik mengerjakan shalat tarawih di rumah Bersama keluarga, dan itu lebih berhati-hati, karena tidak ada orang lain yang ikut shalat di dalam rumah tersebut, dan sudah diketahui kesehatannya.

Semoga bisa dipahami.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.