logo

Doa Sahabat Nabi Ketika Menyambut Datangnya Ramadhan | Konsultasi Muslim



Pada hakikatnya tidak terdapat do’a khusus diterangkan dalil Hadist tentang adanya do’a menyambut datangnya bulan Ramadhan. Namun seorang muslim boleh memakai do’a apapun untuk menyambut bulan Ramadhan, karena do’a sifatnya tidak terbatas. Bisa diucapkan apa saja, selagi maknanya baik dan tidak menyalahi syari’at Islam.

Ibnu Rojab rohimahullah menuqil perkataan seorang tabi’in bernama Mu’alla bin Fadhol di dalam kitab Lathoif Al-Ma’arif :

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم وقال يحيى بن أبي كثير كان من دعائهم: اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdo'a agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan. Yahya bin Abi Katsir berkata, di antara do’a mereka adalah : “Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathoif Al-Ma’arif, jilid 1 halaman 148).

 Do’anya :

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.

Ini do’a para sahabat dulu seperti yang disebutkan oleh Mu’alla bin Fadhol, tapi juga tidak terdapat di dalam Hadist. Maka dari itu membaca do’a apa saja boleh-boleh saja bagi seorang muslim untuk mengekpresikan kegembiraannya dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Dan silahkan saja berdo’a jauh-jauh hari kepada Allah Subahanhu wa Ta’ala agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan, karena di bulan Ramadhan penuh dengan rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagaimana hukum menggunakan do’a dengan Hadist dho’if?

Ada sebuah hadist yang tersebar di Indonesia, namun hadist tersebut di dho’ifkan oleh para ulama. Hadist tersebut adalah :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَب، وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban. Dan jumpakanlah kami kepada bulan Ramadhan. (HR. At-Thabrani, hadist no. 3939).

Hadist ini di dho’ifkan oleh para ulama. Tapi bolehkah menggunakannya dalam berdo’a?


Pada hakikatnya seorang muslim boleh menggunakan do’a apa saja dalam menyambut bulan suci Ramadhan, dengan catatan :

1. Tidak menyandarkan do’a tersebut kepada baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenapa? Karena tidak ada do’a khusus di dalam hadist shahih yang menerangkan tentang do’a menyambut bulan Ramadhan.

Artinya : Do’a yang dibaca tersebut tidak dikatakan : Do’a ini disunnahkan oleh baginda Rasulullah sebagaimana di dalam Hadist dho’if. Kata-kata seperti ini hendaklah dihindari.

2. Tidak meyakini do’a yang dibaca tersebut disyari’atkan di dalam Islam untuk dibaca.

Keterangan ulama tentang bolehnya mengamalkan hadist dho'if dalam Fadho’il A'mal.

Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahullah berkata di dalam kitab Al-Qoul Al-Musaddad :

وَقد ثَبت عَن الإِمَام أَحْمد وَغَيره من الْأَئِمَّة أَنهم قَالُوا إِذا روينَا فِي الْحَلَال وَالْحرَام شددنا وَإِذا روينَا فِي الْفَضَائِل وَنَحْوهَا تساهلنا

Telah ada ketetapan dari Imam Ahmad bin Hanbal dan juga dari selainnya bahwa mereka berkata : "Apabila kami meriwayatkan tentang masalah Halal dan Haram kami memperketat,dan apabila kami meriwayatkan tentang masalah Fadho'il (Keutamaan) dan sejenisnya kami mempermudah." (Al-Qoul Al-Musaddad, jilid 1 halaman 11).

Imam Al-Hattob Ar-Ru’yani rohimahullah berkata di dalam kitab Mawahib Al-Jalil :

فَقَدْ اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ

Para ulama telah sepakat mengenai bolehnya beramal dengan hadits dho'if dalam hal Fadho'il A'mal. (Mawahib Al-Jalil, jilid 1 halaman 17).

Oleh sebab itu, mengamalkan hadist dhoif seperti do’a : "Allahumma Baarik lana Fii Rojaba Wa Sya’ban, Wa Baliggna Romadhona", boleh dibaca dengan syarat tidak meyakini bahwa do’a ini disyari’atkan di dalam Islam dan tidak menyandarkan Hadist tersebut dibolehkannya atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena tidak ada hadist khusus yang menerangkan adanya do’a tentang penyambutan bulan Ramadhan.

Boleh bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, dan boleh mengekpresikannya dalam bentuk apapun, dan do’anya pun boleh do’a apa saja, tidak ditentukan, karena do’a sifatnya bebas. Sekali lagi, selama tidak meyandarkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak menganggap do’a tersebut disyari’atkan di dalam Islam.

Kesimpulan :

Boleh membaca do'a seperti di atas dan boleh membaca do'a apa saja. Asalkan sesuai dengan ketentuan yang disebutkan di atas.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.