logo

Meninggal Karena Corona, Apakah Mati Syahid? | Konsultasi Muslim




Perlu diketahui bahwa semakin hari wabah corona semakin menyebar di dunia ini, khususnya di negara kita tercinta yaitu Indonesia. Dan sudah ratusan orang yang terjangkit virus tersebut, ada yang sembuh dan banyak juga yang akhirnya dia harus berpulang ke rahmatullah, bertemu sang penciptanya karena sudah sampai janjinya ketika dalam kandungan ibunya.

Itulah misteri kematian, tidak ada yang tau kapan dan di mana seseorang akan mati dan pada jam berapa seseorang akan mati. Dan kematian pun tidak bisa ditarik ulur oleh manusia. Jika sudah waktunya, maka tak seorangpun yang bisa menghentikannya.

Allah berfirman :

لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS. Yunus : 49).

Apakah orang-orang meninggal akibat virus corona mati syahid?

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: المَطْعُونُ، وَالمَبْطُونُ، وَالغَرِقُ، وَصَاحِبُ الهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena ath-tha’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari, hadist no. 2829).

Di dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan :

(الشهداء خمسة) الذين لهم أجر الشهيد وثوابه خمسة أنواع من الموتى. (المطعون) الذي يموت بسبب وباء عام. (المبطون) من مات بسبب مرض أصابه في بطنه. (صاحب الهدم) الذي يموت تحت الهدم. (الشهيد في سبيل الله) الذي يقتل في القتال مع الكفار بقصد إعلاء كلمة الله عز وجل]


(Syahid itu ada lima) yang memiliki pahala orang syahid dan pahala tersebut disebabkan lima macam kematian. (Wabah) yang meninggal karena penyakit menular secara umum. (Sakit perut) adalah orang yang meninggal karena sakit di perutnya. (yang kejatuhan benda berat) yang mati di bawah pembongkaran. (syahid di jalan Tuhan) yang terbunuh dalam pertempuran dengan orang-orang kafir dengan tujuan menegakkan firman Tuhan Yang Mahakuasa. (Shahih Bukhari, jilid 1 halaman 132).

Begitu juga disebutkan di dalam kitab Al-Fiqhu Al-Islami wa Adillatuhu karangan Syekh Wahbah Az-Zuhaili :

شهيد في حكم الآخرة فقط: كالمقتول ظلماً من غير قتال، والمبطون إذا مات بالبطن، والمطعون إذا مات بالطاعون، والغريق إذا مات بالغرق، والغريب إذا مات بالغربة، وطالب العلم إذا مات على طلبه، أو مات عشقاً.  أو بالطلق أو بدار الحرب أو نحو ذلك.

Syahid akhirat saja adalah seperti orang yang meninggal teraniaya tanpa adanya peperangan, meninggal akibat sakit perut, wabah penyakit, tenggelam, meninggal sebab berkelana, meninggal ketika mencari ilmu, menahan cinta (karena Allah), tercerai, berada di daerah musuh dan sebagainya.  (Al-Fiqhu Al-Islamy wa Adillatuhu, jilid 2 halaman 1589).

Para ulama di atas mengatakan bahwa orang-orang yang meninggal karena penyakit tha’un (penyakit menular) yang menyebar dan mengakibatkan kematian, maka dia mati syahid atau dia meninggal dalam keadaan husnul khotimah.

Namun, sebagai seorang muslim kita diperintahkan untuk mencegah sebelum datang suatu kemudorotan yang akan menimpanya.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menolak kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat

Artinya, kita diperintahkan kalau bisa dicegah sebelum terjadi. Dan salah satu usaha kita agar terhindar dari virus yang berbahaya ini adalah dengan cara berdiam diri di rumah. Atupun jika ada saudara-saudara kita yang tidak diliburkan kerjanya oleh atasannya, maka dia hendaklah berikhtiyar dengan selalu memakai masker, mengoleskan sanitizer ke bagian-bagian badan yang sekiranya bisa tersentuh ketika berinteraksi dan usaha-usaha lainnya dalam mencegah datangnya virus ini. Dan berdo’a agar dijauhkan dari penyakit yang berbahaya ini.

Adapun setelah berusaha semaksimal mungkin dalam mencegahnya dan tetap terkena penyakit tersebut, maka itu sudah menjadi takdir yang Allah tuliskan untuknya dan hendaklah dia bertawakal sepenuhnya kepada Allah.

Mudah-mudahan kita semua dihindarkan oleh Allah dari virus corona yang berbahaya ini. Dan semoga Allah segera menghilangkan virus corona dari muka bumi ini sehingga kita bisa dengan tenang dalam menjalankan ibadah, terutama shalat tarawih berjama’ah di bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan dan kemuliaan.

Hasbunallah wa Ni’mal Wakil : “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.