logo

Meluruskan Pernyataan, Tidak Takut Corona Tapi Hanya Takut Kepada Allah | Konsultasi Muslim



Ada yang mengatakan : “Tidak apa-apa keluar rumah dan shalat di masjid karena yang pantas kita takuti hanya Allah bukan corona". Benarkah pernyataan ini?

Memang pada hakikatnya rasa takut kita terhadap sesuatu tidak boleh melebihi rasa takut kita kepada Allah, karena Dia lah pencipta alam semesta ini. Dan orang yang beriman tentunya akan lebih takut kepada Allah dibandingkan makhluk ciptaannya.

Akan tetapi, beda halnya dalam kasus virus corona ini. Tidak bisa kita hanya bertawakal kepada Allah tanpa adanya usaha dalam mencegahnya. Memang yang mendatangkan manfaat dan mudorot itu Allah dan yang harus kita takuti itu adalah Allah, namun apa usaha kita dalam mencegahnya? Tentunya dengan tidak keluar rumah dan berdiam diri di rumah dalam bentuk mencegah terkena virus corona tersebut.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menolak kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat

Sebelum terkena virus corona, maka hendaklah dicegah, bagaimana mencegahnya? Yaitu berdiam diri di rumah. Dan MUI (Majelis Ulama Indonesia) serta para ulama telah mengelaurkan fatwa agar di tempat-tempat yang telah tersebar virus corona agar tidak mengadakan kegiatan di luar, shalat di rumah dalam rangka mencegah tertularnya virus corona. Bukan menyuruh kaum muslimin untuk tetap mengadakan kegiatan dan tetap shalat berjam’ah di masjid. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa ini bukanlah pelarangan, tapi ini mengingatkan dalam rangka mencegah terjadinya mudorot. Ada Al-Maslahah Al-Mursalah dalam perkara ini seperti yang disebutkan dalam qoidah fiqih di atas.

Seorang sahabat berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أُرْسِلُ نَاقَتِيْ وَأَتَوَ كُّلُ قَالَ : اِغْقِلهَا وَتَوَ كَّلْ

Seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ikatlah kemudian bertawakkallah. (HR. Ibnu Hibban).

Di dalam riwayat lain disebutkan dari ‘Amr bin ‘Umayyah berkata bahwa dia bertanya kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أُقَيِّدُ رَاحِلَتِي وَأَتَوَكَّلُ عَلَى اللَّهِ أَوْ أَرْسِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟، قَالَ: «قَيِّدْهَا وَتَوَكَّلْ»

Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah. (Musnad asy-Syihab, hadist no. 633, jilid 1 halaman 368).

Berdasarkan hadist di atas bahwa kita diperintahkan untuk berusaha terlebih dahulu, kemudian baru bertawakal kepada Allah. Bukan bertawakal saja tanpa ada usaha mencegahnya. Memang yang mengatur seseorang terkena penyakit corona tau tidaknya adalah Allah, tapi jika kita tidak ada usaha dalam mencegahnya lambat laun akan terkena virus corona juga. Karena pada hakikatnya jika seseorang terkena corona, kemudian dia pergi ke masjid, maka bisa saja banyak yang terkena corona. Sekalipun tidak membawa virus corona, namun jika ada salah satu jama’ah yang membawa virus itu ke masjid gimana? Kan virus tersebut bereraksi dalam beberapa hari, bisa saja pada saat itu jama’ah tersebut biasa-biasa saja, tapi rupanya dia sudah positif terkena corona.

Nah, hal semacam inilah yang ditakutkan para ulama kita, termasuk MUI (Majelis Ulama Indonesia). Oleh sebab itu para ulama melarang untuk sementara waktu berkumpul atau membuat kegiatan dalam rangka mencegah tertularnya penyakit corona ini. Namun di daerah-daerah seperti di desa misalnya yang tidak terkena virus corona, tetap melaksanakan shalat berjama’ah seperti biasanya.

Sekali lagi para ulama bukanlah melarang, tapi mengantisipasi (mencegah) mudorot berupa corona yang akan ditimbulkan kepada banyak orang. Setidaknya ada ikhtiyar (usaha) dalam mencegahnya. Bukan semata-mata tawakal saja tanpa ikhtiyar. Karena orang yang bertawakal tanpa usaha, sama saja bohong, sedangkan usaha tanpa tawakal (do’a), maka bisa menjadi sia-sia.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.