logo

Hukum Merayakan Ulang Tahun dalam Islam | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz....

Saya mau bertanya apakah benar mengucapkan selamat ulang tahun atau merayakan nya dengan syukuran itu merupakan tradisi paganisme???

Saya baca ini di Facebook ustadz... Mohon penjelasannya ustadz

Dari : Nanda Habibah

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Hukum merayakan ulang tahun ada 2 :

1. Hukumnya haram.

Jika di dalam ulang tahun itu merayakannya dengan meniup lilin, kemudian kue dari yang di bawah lilin yang ditiup itu dimakan sama-sama, dan yang menghadiri juga memakai topi-topi ulang tahun misalnya, ataupun mereka diwajibkan membawa amplop untuk diberikan kepada yang ulang tahun, maka perbuatan semacam ini haram hukumnya.

Kenapa? Karena merayakan ulang tahun dengan meniup lilin dan memakai topi ulang tahun dan sebagainya, itu adalah tardisi orang-orang kafir. Dan kita sebagai seorang Muslim dilarang untuk mengikuti budaya orang-orang kafir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. (HR. Abu Daud, hadist no. 4031).

Oleh sebab itu, perbuatan seperti diatas tidaklah dibenarkan di dalam Agama ini. Dan hukumnya haram berdasarkan Hadist diatas.

2. Hukumnya boleh.

Lembaga Darul Ifta Mesir menyebutkan :

Pertanyaan :

هل يجوز للمسلم الاحتفال بيوم ميلاده؟

Apakah boleh bagi seorang Muslim merayakan hari ulang tahunnya?

الجواب : نعم يجوز ذلك شرعًا، لما فيه من تذكر نعمة الله على الإنسان بالإيجاد، ويستأنس لذلك بقول الله تعالى حكاية عن سيدنا عيسى عليه السلام: ﴿وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وَلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا﴾ [مريم: 33]، وبأن النبي صلى الله عليه وآله وسلم سئل عن صوم يوم الإثنين، فقال : ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ. رواه مسلم، فأشار بذلك إلى المعنى الذي يقتضي الحكم أن يوم مولد الإنسان هو يوم نعمة توجب الشكر عليها

Jawaban : "Iya boleh hukumnya dan tidak dilarang didalam Agama, selama dia merayakannya dengan cara mensyukuri nikmat Allah". Adapun dasar pengambilan dalil diperbolehkannya adalah Firman Allah di dalam surat Maryam : "Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. (QS. Maryam : 33)." Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa Senin, lalu Beliau bersabda : "Pada hari itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari ketika aku diutus atau diturunkan kepadaku wahyu pada hari itu. (HR. Muslim, hadist no. 1162)." Hadist ini menunjukkan bahwa hari kelahiran manusia adalah hari yang terdapat kenikmatan di dalamnya dan wajib disyukuri. (Fatwa no. 3467).

Merayakan ulang tahun menjadi boleh hukumnya, jika ketika dia ulang tahun, maka dia tidak merayakannya dengan meniup lilin dan memotong kue, akan tetapi dia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan cara bersedekah.

Seperti misalnya dia mengundang kaum muslimin disekitar rumahnya untuk makan-makan dirumahnya. Dia gunakan itu untuk mensyukuri nikmat Allah, karena Allah masih memberi umur panjang kepadanya, kemudian dia bersedekah dengan mengundang orang untuk makan sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah, ataupun agar mendo'akan umurnya barokah dan dilancarkan rezekinya, maka perbuatan seperti ini insyaAllah hukumnya boleh. Karena tidak ada perbuatan yang melanggar syari'at Islam. Dan kita diperintahkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk menyelisihi kaum kafir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ

Selisihilah kaum musyrikin. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika mereka merayakan ulang tahun dengan meniup lilin dan memotong kue, yang di mana perbuatan tersebut tidak ada yang bisa diamabil manfaatnya, maka sebagai seorang muslim, selisihi perbuatan mereka dengan sesuatu yang baik, dengan cara seperti diatas, yaitu syukuran makanan misalnya dan berdo'a dirumahnya, ataupun yang lainnya sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah atas nikmat umur yang masih Allah percayakan kepadanya.

Dan juga baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tatkala di hari kelahiran beliau, maka baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallammelakukan perbuatan yang baik.

Dari Abu Qotadah Al-Anshary rodhiyallahu ‘anhu berkata :

أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم سئل عن صوم يوم الإثنين؟ فقال : ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Senin, Beliau bersabda : "Pada hari itu adalah hari di mana aku dilahirkan dan hari ketika aku diutus, atau diturunkan kepadaku wahyu pada hari itu." (HR. Muslim, hadist no. 1162).

Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan perbuatan baik pada hari kelahirannya, maka melakukan syukuran di hari kelahiran dengan bersedekah makanan adalah termasuk hal yang baik di dalam Islam, sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah yang telah memberinya kepercayaan umur, sehingga dia masih bisa hidup dan beraktifitas. Oleh sebab itu, kenikmatan tersebut disyukuri dengan bersedekah makanan kepada kaum muslimin atau bersedekah kepada orang-orang yang berada di sekitar rumahnya saja. Dan perbuatan ini tidaklah melanggar syari'at Islam insyaAllah.

Semoga bisa dipahami.

Wallahu Ta'ala a’lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.