logo

Hukum Menimbun Masker di Tengah-Tengah Wabah Corona | Konsultasi Muslim



Banyak orang-orang di luar sana yang memanfaatkan situasi-situasi genting untuk mencari keuntungan, lebih-lebih pada saat ini masyarakat sangat membutuhkan masker. Maka ada orang-orang yang dengan teganya memborong masker sampai habis dan tidak sedikir juga orang-orang yang masa bodo dengan kehidupan masyarakat lainnya. Tindakan seperti ini adalah tindakan yang salah dan tidak dibenarkan di dalam Islam.

Tindakan memborong barang disebut juga monopoli di mana dia mengumpulkan barang-barang tertentu, kemudian dia menjualnya ketika harganya melonjak naik dan cenderung ingin mendapatkan keuntungan yang berlipat-lipat, dan hal ini termasuk menindas yang lemah dari segi ekonominya ekonominya. Terutama pada saat sekarang ini, masyarakat Indonesia sangat membutuhkan masker sebagai ikhtiyar untuk melindungi tubuh dari serangan virus corona.

Ada sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كانت أم خاصة

Hajat (kebutuhan) suatu ketika bisa menempati derajat darurat, baik secara umum atau secara khusus.

Berdasarkan qoidah ini, bahwa perbutan menimbun masker diharamkan di dalam Islam karena masker pada saat ini sudah menjadi kebutuhan setiap masyarakat sebagai ikhtiyar melindungi diri dari serangan virus yang mematikan.

Baginda Rasulullah juga mengingatkan agar seorang muslim tidak menimbun barang untuk kepentingannya sendiri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا يَحْتَكِرُ إِلَّا خَاطِئٌ

Tidak boleh menimbun barang, jika tidak, maka dia termasuk orang yang berdosa. (HR. Muslim no. 1605).

Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim :

وَهَذَا الْحَدِيثُ صَرِيحٌ فِي تَحْرِيمِ الِاحْتِكَارِ قَالَ أَصْحَابُنَا الِاحْتِكَارُ الْمُحَرَّمُ هُوَ الِاحْتِكَارُ فِي الْأَقْوَاتِ خَاصَّةً. وَالْحِكْمَةُ فِي تَحْرِيمِ الِاحْتِكَارِ دَفْعُ الضَّرَرِ عَنْ عَامَّةِ النَّاسِ.


Dan hadist ini menegaskan pengharaman menimbun barang. Ulama kami (mazhab Syafi’i) berkata : Perbuatan menimbun barang adalah sesuatu yang diharamkan, di mana dia menimbun barang di waktu khusus. Dan hikmah dari pengharaman menimbun barang adalah menolak mudorot yang ditimbulkan bagi khalayak ramai. (Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, jilid 11 halaman 43).

Ibnu Bathol rohimahullah berkata di dalam kitab Syarah Shahih Bukhari :

معنى هذا النهى عند الفقهاء فى وقت الشدة وما ينزل بالناس من الحاجة

Makna larangan dari hadist ini di sisi ulama-ulama fiqih adalah bahwa dia menimbun barang di waktu sulit dan di waktu manusia membutuhkannya. (Syarah Shahih Bukhari, jilid 6 halaman 258).

Menimbun masker pada saat ini adalah perbuatan yang tercela, di saat semua orang membutuhkan untuk perlindungan diri, ada sebagian orang yang malah memanfaatkan situasi ini untuk mencari keuntungan bagi dirinya. Bahkan tidak sedikit juga yang tidak mau dibeli walau hanya satu biji sekalipun dengan asalan butuh. Padahal yang dia beli begitu banyak.

Perbuatan seperti ini mendzolimi banyak orang dan diharamkan di dalam Islam sebagaimana yang disebutkan di dalam hadist di atas dan penjelasan para ulama yang melarang dan mengharamkan menimbun barang pada saat darurat.

Oleh sebab itu hendaklah sesama manusia harus saling memperhatikan dan saling membantu satu sama lain dan tidak menzolimi orang lain. Dan hendaklah dia meninggalkan perbuatan menimbun masker dan barang-barang yang dibutuhkan pada saat sekarang ini, kecuali untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Karena pada saat-saat genting seperti ini seharusnya kita saling tolong menolong satu sama lain, karena tindakan saling tolong menolong mendapatkan pahala, sebab meringankan beban sesama manusia.

Allah berfirman :

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah : 2).

Semoga Allah menghindarkan kita dari sifat-sifat yang tidak terpuji sehingga bisa menimbulkan mudorot bagi khalayak ramai dan mudah-mudahan rakyat Indonesia saling tolong menolong dan bahu-membahu dalam kebenaran.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.