logo

Bolehkah Pemerintah Meniadakan Shalat Jumat Berjamaah di Masjid? | Konsultasi Muslim



Para ulama seperti MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan lembaga agama di negara arab telah memutuskan untuk tidak melakukan shalat jum'at berjama'ah di masjid-masjid dalam rangka pencegahan virus corona yang terus menyebar dan mengakibatkan kematian. Hal ini juga di sarankan oleh pemerintah Indonesia agar tetap berada di rumah dan beribadah di rumah saja dan meniadakan ibadah di rumah-rumah ibadah untuk sementara, sampai telah dinyatakan aman dan wabah corona telah hilang dari negara Indonesia.

Meniadakan shalat jum'at berjam'ah di masjid adalah bagian dari ijtihad ulama tersebut, melihat besarnya penyebaran dan dampak dari virus corona ini. Banyak pertimbangan para ulama dalam hal ini, terutama tidak menginginkan korban dalam jumlah besar jika misalnya ada beberapa orang yang positif corona, tapi karena dia berkumpul dengan manusia lainnya, maka yang lainnya akan tertular covid 19 ini sehingga menimbulkan mudorot yang lebih besar.

Padahal Allah berfirman :

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman. (QS. Al-A'raf : 85).

Salah satu solusi yang diberikan para ulama terutama MUI (Majelis Ulama Indonesia) adalah dengan meniadakan shalat jum'at berjama'ah dan mengganggantinya dengan shalat zuhur di rumah. Hal ini dalam rangka mencegah datangnya kemudorotan yang lebih besar.

Sebuah qoidah fiqih yang menyebutkan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menolak kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.


Sekali lagi MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan lembaga fatwa di negara arab menganjurkan untuk meniadakan shalat jum'at berjama'ah dalam rangka mencegah datangnya mudorot yang lebih besar.

Memang yang menciptakan virus corona itu Allah, tapi kalo tidak ada usaha mencegahnya sama saja bohong.

Sama halnya dengan begini, setiap orang tau kalo pisau itu jika di tusuk di bagian manapun di tubuh bisa mengakibatkan luka. Tapi ada orang yang mengatakan : "Hanya Allah yang menentukan luka atau tidaknya manusia". Kemudian setelah dicoba ternyata luka dan bisa memudorotkannya.

Sama halnya dengan corona. Semua orang juga tau kalo yang menciptakan corona dan penyakit itu menular atas izin Allah. Tapi jika tidak ada usaha untuk mencegahnya, maka penyakit tersebut juga bisa menular atas izin Allah. Karena virus tidak kenal apapun, mau tempat ibadah kek, sekolahan kek, tempat olahraga kek. Jika berdekatan apalagi sampai bersentuhan, maka akan menular sebagaimana yang dinyatakan oleh pakar medis.

Maka dari itu, jika tidak mengetahui, hendaklah menanyakan kepada orang yang lebih mengetahui.

Allah berfirman :

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui. (QS. An-Nahl : 43).

Oleh sebab itu para ulama bukan mengira-ngira dalam memberikan fatwa. Namun penuh dengan pertimbangan. Apalagi menyangkut nyawa manusia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun orang lain. (HR. Ahmad, hadist no. 313).

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.