logo

Bolehkah Menjaga Jarak Shaf Karena Takut Tertular Wabah Corona? | Konsultasi Muslim



Indonesia sedang dilanda wabah yang menyebar luas di berbagai daerah. Oleh sebab itu MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Pemerintah Republik Indonesia menganjurkan untuk melakukan ibadah di rumah saja untuk mengantisipasi penyebaran virus corona dari satu orang ke yang lainnya.

Namun masih ada juga masjid-masjid yang masih buka agar kaum muslimin tetap beribadah di dalamnya. Dan tentunya masjid-masjid yang masih buka sudah disterilkan oleh pihak masjid dengan cara menyemprotkan cairan disinfektan ke berbagai daerah masjid, baik di luar maupun di dalam masjid dan menyediakan hand sanitizer bagi kaum muslimin yang hendak berwudhu’ agar terlebih dahulu tangannya bersih dan bebas dari kuman sehingga virus corona tidak mudah melekat di tubuhnya.

Di antara kaum muslimin ada yang menjaga jarak sekitar 1 meter ketika shalat, karena informasi yang dikeluarkan oleh pemerintah bahwa jarak agar tidak terkena corona itu sekitar 1-2 meter. Oleh sebab itu jarak shaf yang dibuat pun berjarak 1-2 meter ketika shalat berjama’ah di masjid tersebut.

Sahkah shalat yang shafnya berjarak 1-2 meter untuk menghindari penularan virus corona?

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami rohimahullah berkata di dalam kitab Tuhfatul Muhtaj Syarah Al-Minhaj :

إنْ كَانَ تَأَخُّرُهُمْ لِعُذْرٍ كَوَقْتِ الْحَرِّ بِالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَلَا كَرَاهَةَ وَلَا تَقْصِيرَ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ

Jika mereka terpisah dari shaf karena udzur seperti saat cuaca panas di masjidil haram, maka tidak termasuk makruh dan lalai sebagaimana zahirnya. (Tuhfatul Muhtaj Syarah Al-Minhaj, jilid 2 halaman 311).

Menurut Imam Ibnu Hajar Al-Haitami rohimahullah ketika ada udzur yang mengharuskan dia memisahkan shafnya, maka tidak termasuk makruh (dibenci). Hal ini tentunya dalam rangka mencegah kemudorotan bagi yang menjalankan juga. Sedangkan di dalam Islam kita diperintahkan untuk menolak kemudorotan terlebih dahulu sebelum datang.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menolak mudorot lebih didahulukan daripada mengambil manfaat

Imam An-Nawawi rohimahullahmengatakan bahwa ketika seseorang mengasingkan diri dari shaf jama’ah, maka hukumnya makruh karena seharusnya dia mengisi shaf yang masing kosong apabila shaf itu renggang dan masih bisa di isi. Namun jika dia berdiri sendiri, artinya shafnya berjarak agak jauh dari shaf jama’ah lainnya, maka shalatnya tetap sah.

Imam An-Nawawi rohimahullahberkata di dalam kitab Roudotut Tholibin wa ‘Umdatul Muftin :

إِذَا دَخَلَ رَجُلٌ وَالْجَمَاعَةُ فِي الصَّلَاةِ، كُرِهَ أَنْ يَقِفَ مُنْفَرِدًا، بَلْ إِنْ وَجَدَ فُرْجَةً، أَوْ سِعَةً فِي الصَّفِّ، دَخَلَهَا. وَلَوْ وَقَفَ مُنْفَرِدًا، صَحَّتْ صَلَاتُهُ.

Apabila seorang masuk dan jama’ah sedang shalat, dimakruhkan baginya berdiri sendiri. Tapi jika dia menemukan celah atau tempat yang luas pada shaf tersebut, hendaknya dia mengisi celah tersebut. Dan sekalipun dia berdiri sendiri, maka shalatnya tetap sah. (Roudotut Tholibin wa ‘Umdatul Muftin, jilid 1 halaman 360).

Kesimpulan dari keterangan ulama di atas bahwa ketika ada udzur, maka tidak makruh jika shaf diberikan jarak dalam rangka mencegah datangnya mudorot, seperti musim panas di masjidil haram, ataupun wabah corona yang sekarang tengah melanda negara Indonesia, maka memberikan jarak shaf tidak termasuk makruh menurut keterangan ulama di atas.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.