logo

Belum Mengqadha Puasa Sampai Setahun, Harus diganti Dobel? | Konsultasi Muslim





Pertanyaan :

Assalamualaikum ustadz. Bagaimana cara qodho' puasa yang sudah lebih dari setahun, apakah masih di qodho' seperti biasa , karena saya pernah dengar kalo udah melewati setahun maka harus bayar mud dan puasanya kalo sehari di qodho'nya dobel, terimakasih banyak sebelumnya atas penjelasannya.

Dari : Virda

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Allah memberi keringanan bagi setiap muslim yang tidak mampu mengerjakan puasa, baik karena sakit, hamil, bepergian jauh atau karena sebab lainnya untuk tidak melaksanakan puasa Ramadhan, tapi wajib di qodho' di hari setelah Ramadhan.

Allah berfirman :

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu dia berbuka : Maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah : 184).”

Dengan catatan ada udzur yang menyebabkan dia untuk tidak berpuasa, maka yang harus dia lakukan setelah ramadhan hanya mengqodho' saja tanpa membayar fidyah dan sebagainya.

Bagaimana jika seseorang belum mengqodho' puasa Ramadhan tanpa udzur yang syar'i?

Mengenai ini ada 2 pendapat ulama :

1. Jumhur (mayoritas ulama) mengatakan dia wajib mengqodho' dan juga membayar fidyah.

Imam asy-Syaukani rohimahullah berkata di dalam kitab Nailul Author jilid 4 halaman 278 :

وقوله صلى الله عليه وسلم : ويطعم كل يوم مسكينًا : استدل به وبما ورد في معناه مَن قال: بأنها تلزم الفدية من لم يصم ما فات عليه في رمضان حتى حال عليه رمضان آخر، وهم الجمهور، ورُوي عن جماعة من الصحابة؛ منهم : ابن عمر، وابن عباس، وأبو هريرة. وقال الطحاوي عن يحيى بن أكثم قال: وجدته عن ستة من الصحابة، لا أعلم لهم مخالفًا

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : Dia harus membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin, hadist ini dan hadist semisalnya, dijadikan dalil Ulama yang berpendapat bahwa wajib membayar fidyah bagi orang yang belum mengqodho' ramadhan, hingga masuk ramadhan berikutnya. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan pendapat yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah. At-Thahawi menyebutkan riwayat dari Yahya bin Akhtsam, yang mengatakan : Aku jumpai pendapat ini dari 6 sahabat, dan aku tidak mengetahui adanya sahabat lain yang mengingkarinya.

2. Kewajiban nya hanya mengqodho' puasa yang telah lalu, dan tidak wajib membayar kaffaroh. Pendapat ini dipegang oleh an-Nakhai, Abu Hanifah, dan para ulama Hanafiyah. Dalilnya adalah Allah berfirman :

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan lalu dia berbuka, maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqarah : 184).”

Para ulama diatas mengatakan bahwa pada ayat ini tidak adanya kalimat yang mengatakan harus membayar fidyah. Maka dari itu ulama mazhab Hanafi tidak mewajibkan membayar fidyah.

Mana yang paling rojih (paling kuat pendapatnya) diantara 2 diatas?

Allahu a'lam. Sebagai penuntut ilmu yang tidak ada apa-apa nya dibanding ulama mazhab,bahkan seujung kuku mereka pun ilmu kita tidak seberapa, tidak pantas rasanya merojihkan menurut pemahaman sendiri. Karena hal itu termasuk su'ul adab (adab yang buruk) kepada ulama-ulama mazhab. Karena ulama-ulama Mazhab sama-sama memakai dalil yang kuat. Dan bersumber dari Al-Qur'an dan Hadist.

Jika salah satunya benar, batalkah ijtihad lainnya? Jawabannya tidak. Kenapa?

Di dalam qoidah ushul fiqh disebutkan :

الإجتهاد لاينقض بالإجتهاد

Suatu ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lainnya.

Karena yang bisa membatalkan ijtihad adalah yang bersumber dari Al-Qur'an dan Hadist.

Nah, seorang muslim silahkan memilih 2 pendapat diatas yang diyakini lebih kuat menurut dirinya.

Semoga bisa dipahami.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.