logo

Firasat Seorang Mukmin Menurut Islam | Konsultasi Muslim



Banyak kita temukan di kehidupan sehari-hari firasat orang-orang yang beriman, baik firasat itu baik maupun buruk. Terlebih orang-orang tua yang terkadang mengalami hal itu. Dan ada juga firasat orang tua kepada anaknya. Dan firasat yang satu ini terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.

Dan tidak sedikit pula orang yang meremehkan masalah firasat orang-orang yang beriman. Disangka hal semacam itu bagian dari khurofat lah, tahayyul lah dan lain sebagainya. Padahal perkara semacam ini terjadi di dalam kehidupan sehari-hari dan baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita semua untuk takut kepada firasat orang-orang yang beriman.

Dari Abu Sa'id al-Khudry rodhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللهِ، ثُمَّ قَرَأَ: {إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ}.

هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ، إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ هَذَا الوَجْهِ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ العِلْمِ فِي تَفْسِيرِ هَذِهِ الآيَةِ: {إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ} قَالَ: لِلْمُتَفَرِّسِينَ. (رواه الترمذي في سنن الترمذي رقم الحديث : 3127، الجزء 5 الصفحة 149)

"Takutlah akan firasat orang-orang yang beriman, karena sesungguhnya dia melihat dengan cahaya Allah." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca surat al-hijr ayat 75 : "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda." (HR. at-Tirmidzi, hadist no. 3127).

Imam at-Tirmidzi rohimahullah berkata : "hadist ini ghorib." Kami tidak menemukan hadist lain kecuali dengan jalur ini. Dan telah diriwayatkan dari sebagian ahli ilmu dalam menafsirkan surat al-hijr ayat 75 : "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.

Komentar para ulama mengenai hadist ini :

Di dalam kitab Syarah al-Hamawiyyah Ibnu Taimiyah jilid 9 halaman 3 pengarang kitab menyebutkan :

ورواه ابن جرير في تفسيره، والطبراني في المعجم الكبير، وأبو نعيم في الحلية، والعقيلي في الضعفاء، وذكره الهيثمي في المجمع وحسن إسناده، وذكره الكناني في تنزيه الشريعة وحسنه، وذكره أيضاً العجلوني في كشف الخفاء وحسن إسناده.

Dan Ibnu Jarir meriwayatkan di dalam tafsirnya, Tabhrani di dalam Mu'jam al-Kabir, Abu Nu'aim di dalam al-Hilyah, al-'Aqily di dalam ad-du'afa', dan al-Haitsami menyebutkan di dalam Majma' bahwa Sanad hadistnya "Hasan", al-Kinani menyebutkan di dalam Tanzih Asy-Syari'ah bahwa hadistnya Hasan, dan al-'Ajaluni juga menyebutkan di dalam Kasyful Khofa' dan dia mengahasankan sanad hadistnya.

وقال الشوكاني في الفوائد المجموعة بعد ذكر الحديث: وعندي أن الحديث حسن لغيره، وأما صحيح فلا، وذكر بعض الشواهد، وذكره ابن حجر في الفتح، وسكت عنه، هذا مجمل ما قيل في هذا الحديث الذي يعتبر أشهر الأدلة على الفراسة، وقد علق ابن القيم على هذا الحديث بقوله: وهذه الفراسة نشأت له من قربه من الله.

Dan Imam asy-Syaukani berkata di dalam al-Majmu'ah setelah disebutkan hadist ini : "Menurut saya hadist ini Hasan Lighoirihi", adapun sampai ke derajat shahih, maka tidak. Dan disebutkan oleh sebagian saksi-saksi, dan Ibnu Hajar menyebutkan di dalam Fathul Bari, dan dia diam. Apa yang dikatakan di dalam hadist ini bersifat global, dan hadist ini sangat terkenal mengenai dalil tentang Firasat. Dan Ibnul Qoyyim berkomentar tentang hadist ini : "Firasat ini tumbuh di dalam dirinya karena dia dekat kepada Allah".

Banyak para ulama yang mengomentari hadist ini sebagai hadist "hasan" yang berarti derajat hadistnya bagus.

Oleh sebab itu yang perlu diperhatikan adalah bagaimana firasat orang-orang mukmin, karena bisa saja firasat itu terjadi di dalam kehidupan nyata. Dan hendaklah dia takut akan firasat orang-orang mukmin tersebut. Bukan malah meremehkan firasat orang-orang mukmin, apalagi mengejeknya dengan kata-kata khurofat ataupun tahayyul atau yang lainnya.

Kepekaan orang-orang yang beriman karena dia dekat kepada Allah. Sebagaimana yang dikatakan Ibnul Qoyyim di atas bahwa firasat itu muncul karena dia dekat kepada Allah.

Allah berfirman :

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. (QS. Al-Hijr : 75).”

Orang-orang yang bisa merasakan firasat bukanlah sembarang orang, tapi hanya orang-orang yang dekat kepada Allah subhanahu wa Ta'ala sehingga ketika firasat itu tumbuh di dalam hati orang-orang yang beriman, dia akan cenderung akan melakukan antisipasi terhadap firasatnya tersebut.

Sebagai seorang Muslim, seharusnya hendaknya hati-hati terhadap firasat seorang Mukmin yang dekat kepada Allah. Tidak selalu yang mempunyai firasat itu hanya waliyullah saja, tapi bisa saja orang tua kandung terhadap anaknya, ataupun orang alim yang dekat kepada Allah, ataupun para ulama dan bisa saja firasat itu muncul dari orang-orang biasa saja, tapi dia dekat kepada Allah, ibadahnya rajin. Amalan wajib selalu dikerjakan, amalan sunnah dikerjakan dan dia selalu dekat kepada Allah. Maka orang-orang seperti ini bisa saja Allah berikan berupa firasat, meskipun orang tersebut tidak berpendidikan tinggi, tapi karena dekatnya dia kepada Allah, dia bisa mendapatkan keistimewaan seperti itu.

Firasat orang-orang yang beriman itu merupakan sebuah kelebihan yang Allah anugerahkan kepadanya. Untuk itu berhati-hatilah terhadap firasat orang-orang yang beriman.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.