logo

Hukum Mengucapkan Selamat Natal dalam Islam | Konsultasi Muslim



Sebagian orang menganggap bahwa ucapan selamat natal tidaklah masalah karena tidak meyakini apapun. Akan tetapi ini adalah pendapat yang keliru yang perlu diluruskan.

Dan lebih anehnya lagi ada diantara kaum Muslimin yang berpendapat nyeleneh terhadap hukum ucapan selamat natal ini dengan berbagai alasan nyelenehnya.

Mulai dari alasan toleransi, ikut bahagia dengan bahagianya saudara se negara berhari raya, sikap saling menghormati dan sebagainya. Alasan ini semua nyeleneh dan menyesatkan banyak kaun Muslimin.

Jika memang alasannya toleransi, maka tidak mengganggu mereka berhari raya juga merupakan sifat Toleransi seorang Muslim kepada Agama lain. Bukan malah ikut-ikutan mengucapkan selamat, apalagi sampai ikut-ikutan merayakannya. Na'udzubillah. Karena Islam adalah Agama yang paling Toleransi. Silahkan beribadah sesuai Agama masing-masing, akan tetapi jangan saling memaksakan kehendak dan mengganggu ibadah agama lain.

Allah berfirman :

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

"Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. (QS. Al-Kafirun : 6)."

Jika saling toleransi dengan tidak mengganggu ibadah agama lain, sebenarnya ini sudah menunjukkan Toleransi. Bukan malah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syari'at Islam.

Kenapa mengucapkan selamat Natal dilarang?

1. Bisa membatalkan ke Islaman seorang Muslim.

Jika dia mengucapkan selamat Natal, maka sama saja dia memberi penghargaan kepada mereka atas lahirnya Tuhan mereka. Padahal yang mereka Anggap Tuhan itu dianggap Nabi dan Rasul di dalam Islam.

Nah, jika seorang Muslim mengucapkan selamat, sama saja dia mengakui Nabi Isa itu sebagai Tuhan mereka. Maka ini bisa mengeluarkan seorang Muslim dari Islam.

Ini merupakan strategi murtad terselubung sebenarnya, tapi banyak kaum Muslimin yang tidak tau dan bahkan sok tau tentang agama, padahal dia tidak belajar ilmu Agama.

Di dalam Islam sudah jelas diterangkan bahwa Nabi Isa itu adalah utusan Allah. Allah berfirman :

لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَـٰبَنِىٓ إِسْرَ‌ٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍۢ ﴿٧٢﴾ لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ ثَالِثُ ثَلَـٰثَةٍۢ ۘ وَمَا مِنْ إِلَـٰهٍ إِلَّآ إِلَـٰهٌۭ وَ‌ٰحِدٌۭ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا۟ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿٧٣﴾

"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata : "Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata : "hai bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan : "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS. Al-Ma'idah : 72–73)."

Oleh sebab itu tidak boleh kemudian jika seorang Muslim mengucapkan selamat atas kelahiran Tuhan mereka. Karena hal itu bisa membatalkan ke Islaman seorang Muslim.

Sebagai contoh : "Seorang siswa mendapatkan rangking 1 di sekolahnya. Lalu seorang siswa lainnya memberikan ucapan selamat."

Nah, ucapan selamat di sini bentuknya adalah penghargaan yang diberikan siswa itu kepada siswa yang mendapatkan rangking satu tersebut. Dia senang dan gembira atas pencapaian temannya itu.

Begitu juga jika seorang Muslim mengucapkan selamat natal kepada Agama lain. Maka itu sama saja memberikan penghargaan kepada yang bersangkutan.

Sama saja dia memberikan penghargaan atas : "Selamat atas lahirnya Tuhan kalian."

Padahal didalam Islam Nabi Isa dianggap sebagai Nabi dan Rasul, bukan Tuhan.

Tapi kan tidak ada niat mengatakan Nabi Isa Tuhan mereka, masih tidak boleh?

Apapun alasannya, mau alasannya toleransi, ikut bahagia karena mereka bahagia dan sebagainya, maka tetap tidak diperbolehkan karena Ikut bahagia berarti bahagia melihat mereka merayakan kelahiran Tuhan mereka. Sama saja senang terhadap kekufuran yang mereka lakukan.

Sekalipun tidak ada niat ketika mengucapkan, tetap saja memberikan ucapan selamat berarti memberikan penghargaan, apalagi alasannya ikut senang. Berarti senang atas kekufuran yang mereka lakukan. Na'udzubillah.

Ini adalah strategi murtad. Tapi banyak yang tidak sadar dengan ucapan selamat natal seperti ini.

2. Karena menyerupai orang-orang Kafir.

Jika mengucapkan selamat kepada mereka, atau berpakaian seperti mereka, maka ini menyerupai orang-orang kafir dan tidak diperbolehkan didalam Islam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. (HR. Abu Daud, hadist no. 4031)."

Bagaimana pendapat ulama Mazhab tentang ucapan selamat dan bahagia atas perayaan orang-orang kafir?

1. Mazhab Syafi'i.

Ibnu Hajar al-Haitami rohimahullah berkata di dalam al-Fatawa al-Fiqhiyah, jilid 4 halaman 238-239 :

(ثم رأيت بعض أئمتنا المتأخرين ذكر ما يوافق ما ذكرته فقال : ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهدية لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون وقد قال صلى الله عليه وسلم { من تشبه بقوم فهو منهم } بل قال ابن الحاج لا يحل لمسلم أن يبيع نصرانيا شيئا من مصلحة عيده لا لحما ولا أدما ولا ثوبا ولا يعارون شيئا ولو دابة إذ هو معاونة لهم على كفرهم وعلى ولاة الأمر منع المسلمين من ذلك ومنها اهتمامهم في النيروز... ويجب منعهم من التظاهر بأعيادهم)

"Aku melihat sebagian Ulama muta'akhirin menuturkan pendapat yang sama denganku, lalu dia berkata : Termasuk dari bid'ah terburuk adalah persetujuan muslim pada Nasrani pada hari raya mereka dengan menyerupai dengan makanan dan hadiah dan menerima hadiah pada hari itu. Kebanyakan orang yang melakukan itu adalah kalangan orang Mesir. Nabi bersabda : "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka". Ibnu Al-Haj berkata : Tidak halal bagi muslim menjual sesuatu pada orang Nasrani untuk kemasalahan hari rayanya baik berupa daging, kulit atau baju. Hendaknya tidak meminjamkan sesuatu walupun berupa kendaraan karena itu menolong kekufuran mereka. Dan bagi pemerintah hendaknya mencegah umat Islam atas hal itu. Salah satunya adalah perayaan Niruz (Hari Baru). Dan wajib melarang umat Islam menampakkan diri pada hari raya non muslim."

2. Mazhab Hambali.

Al-Buhuti rohimahullah di dalam Kasyful Qina' an Matnil Iqna', jilid 3 halaman 131 berkata :

(ويحرم تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم )، لأنه تعظيم لهم أشبه السلام. ( وعنه تجوز العيادة ) أي : عيادة الذمي ( إن رجي إسلامه فيعرضه عليه واختاره الشيخ وغيره ) لما روى أنس { أن النبي صلى الله عليه وسلم عاد يهوديا , وعرض عليه الإسلام فأسلم فخرج وهو يقول : الحمد لله الذي أنقذه بي من النار } رواه البخاري ولأنه من مكارم الأخلاق.

"Diharamkan mengucapkan selamat, takziyah (ziarah orang mati), iyadah (ziarah orang sakit) kepada non Muslim karena itu berarti mengagungkan mereka menyerupai (mengucapkan) salam. Boleh menziarahi kafir dzimmi apabila diharapkan Islamnya dan hendaknya mengajak masuk Islam. Karena, dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Nabi pernah iyadah pada orang Yahudi dan mengajaknya masuk Islam lalu si Yahudi masuk Islam lalu berkata : "Alhamdulillah Allah telah menyelamatkan aku dari neraka." Dan karena iyadah termasuk akhak mulia."

Dan perkataan ulama lainnya yang tidak membolehkannya. Karena sama saja menyetujui kemaksiatan yang mereka lakukan. Dan hal itu melanggar Syari'at Islam.

Oleh sebab itu, hati-hati dengan strategi baru untuk menyesatkan ummat Islam. Karena apapun akan dilakukan oleh setan supaya ummat Islam keluar dari ajaran Islam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

"Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya." Kami (para sahabat) berkata : "Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani? Beliau menjawab : "Lantas siapa lagi?" (HR. Muslim, hadist no. 2669)."

Semoga bisa dipahami.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.