logo

Menggunakan Emoticon Haram? Benarkah? | Konsultasi Muslim



Perlu diketahui bahwa emoticon yang ada di media sosial itu bukan termasuk makhluk bernyawa, itu hanya menggambarkan ekspresi perasaan seseorang. Dan emoticon itu telah terpotong, artinya tidak ada badan, tangan, kaki dan sebagainya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

اَلصُّوْرَةٌ الرَّأْسُ، فَإِذَا قُطِعَ فَلاَ صُوْرَةٌ

Gambar itu adalah kepala, jika kepalanya dihilangkan maka tidak lagi disebut gambar. (HR. Al-Baihaqi, hadist no.270).

Dan emoticon itu hanya kepala saja, tapi itupun tidak ada hidung dan telinga. Ini tentunya tidak bisa disebut kepala karena tidak utuh. Dan ini tidak terhitung bernyawa sebagaimana makhluk hidup lainnya.

Emoticon hanya wakil dari ekspresi wajah saja, bukan termasuk makhluk yang bernyawa juga karena selain terpotong dengan bagian anggota tubuh lainnya, emoticon tidak mempunyai hidung dan telinga. Maka tidak bisa disebut makhluk hidup atau makhluk yang bernyawa.

Dan yang perlu diperhatikan adalah bahwa hadist yang mengancam pelaku masuk neraka adalah orang yang membuat gambar bernyawa, seperti dia membuat patung atau dia membuat gambar 3 dimensi yang apabila disenter ada bayangannya. Ini yang tidak diperbolehkan oleh para ulama.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah tukang penggambar. (HR. Bukhari, hadist no. 5950).

Di dalam hadist ini menitik beratkan yang di azab itu yang menciptakan gambar sejenis gambar 3 dimensi, seperti patung dan lain sebagainya karena dia sama saja ingin menandingi ciptaan Allah.

Dan emoticon bukan termasuk makhluk yang bernyawa, karena selain bukan termasuk kepala, dia tidak mempunyai hidung dan telinga. Oleh sebab itu tidak bisa dikatakan makhluk yang bernyawa. Dan tentunya hukum menggunakan emoticon boleh karena hanya sebagai perwakilan ekspresi wajah saja, bukan gambar kepala pada umumnya.

Dan sekalipun dia menghambar makhluk hidup, maka para ulama juga membolehkan karena yang dimaksud didalam hadist itu gambar yang 3 dimensi. Adapun gambar makhluk yang bernyawa yang digambarkan, maka dia bukan 3 dimensi. Yang dilarang itu seperti patung, karena menandingi ciptaan Allah.

Syekh Muhammad Bakhyat dan Yusuf al-Qordowi mengatakan bahwa yang dimaksud hadist tersebut adalah gambar 3 dimensi yang apabila di senter ada bayangan nya dan memantulkan cahaya dan berbentuk patung. Adapun seperti menggambar dikertas maka bukan disebut menandingi ciptaan Allah.

Karna di dalam hadist disebutkan bahwa gambar haram karna bisa menandingi ciptaan Allah, maka gambar dikertas tidak bisa menandingi ciptaan Allah dan yang bisa menandingi ciptaan Allah adalah gambar 3 dimensi dan gambar berbentuk patung.

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

و من أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي

Siapa yang lebih dzolim daripada orang yang menciptakan sesuatu seperti penciptaan yang aku lakukan? (HR. Bukhari).

Maka dengan hadist ini kedua ulama tersebut mengatakan yang haram adalah gambar yang 3 dimensi dan gambar seperti patung. Adapun menggambar dikertas sekalipun makhluk bernyawa maka tidak termasuk kedalam hadist diatas yang menyebutkan menandingi ciptaan Allah.

Dan tentunya hukum menggunakan emoticon hukumnya boleh berdasarkan dalil dan pendapat ulama diatas. Sekali lagi, karena emoticon hanya sebagai perwakilan ekspresi wajah semata. Bukan disebut makhluk bernyawa karena tidak mempunyai hidung dan telinga.

Oleh sebab itu, jangan cepat mengambil kesimpulan hukum, ditinjau dulu apa illat (sebab) yang mengharamkannya, apakah dia termasuk kedalam gambar yang bernyawa atau tidak. Dan jika termasuk gambar yang bernyawa, apakah gambar tersebut 3 dimensi atau bukan. Masih panjang prosesnya. Tidak serta merta langsung dihukumi haram hanya dengan satu atau dua hadist. Butuh istinbat hukum yang lain juga selain hadist, seperti ilmu ushul fiqh dan sebagainya. Bukan langsung menghukumi tanpa memandang apa illatnya dan gambar yang seperti apa yang diharamkan.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما

Hukum itu berputar beserta illatnya (sebabnya), baik ketika illatnya ada maupun ketika tidak ada.

Kesimpulan :

Emoticon hukumnya boleh karena tidak termasuk makhkuk yang bernyawa berdasarkan dalil diatas. Dan sekalipun termasuk makhluk yang bernyawa, maka tidak termasuk kedalam gambar yang 3 dimensi, karena menurut Syekh Muhammad Bakhyar dan Yusuf al-Qorodhowi, gambar yang diharamkan itu yang 3 dimensi yang apabila disenter menimbulkan bayangan, bukan gambar yang seperti digambrakan dibuku dan sebagainya, karena yang bisa menandingi ciptaan Allah itu gambar yang 3 dimensi seperti patung. Adapun gambar yang digambarkan di buku dan sebagainya, maka tidak bisa menandingi ciptaan Allah.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.