logo

Mahar Yang Paling Bagus dan Dianjurkan di dalam Pernikahan | Konsultasi Muslim



Mahar hukumnya wajib di dalam Islam dan harus diberikan kepada calon istri.

Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا

"Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya." (QS. An-Nisa : 4).

Imam as-Syaukani rohimahullah berkata di dalam kitab Fath al-Qodir jilid 1 halaman 485 :

وَفِي الْآيَةِ دَلِيلٌ: عَلَى أَنَّ الصَّدَاقَ وَاجِبٌ عَلَى الْأَزْوَاجِ لِلنِّسَاءِ

Dan ayat ini adalah dalil bahwa mahar hukumnya wajib diberikan oleh suami kepada istrinya.

Seorang istri berhak meminta mahar dan menentukan maharnya, karena mahar akan dia simpan sendiri ataupun dia gunakan sehari-hari. Namun baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga memperingatkan agar tidak menetapkan mahar yang berlebihan sehingga menyulitkan calon suami untuk memenuhinya.

Dari 'Uqbah bin Ibnu 'Amir rodhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ

Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah maharnya. (HR. Abu Daud, hadist no. 2117).

Derajat Hadist :

Imam ad-Dzahabi rohimahullah berkata di dalam kitabnya Syiar A'lam an-Nubala jilid 5 halaman 58 :

"خير النكاح أيسره" ، وسنده صحيح، وصححه ابن حبان

"Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah dalam urusan mahar." Dan sanadnya shahih, dan di shahihkan juga oleh Ibnu Hibban.

Berdasarkan hadist di atas bahwa mahar yang paling bagus adalah mahar yang mudah untuk dipenuhi oleh calon suaminya dan tidak memberatkan calon suaminya tersebut. Dan seorang wanita haruslah mengerti keadaan calon suaminya, karena mudahnya seorang suami dalam memenuhi mahar, maka akan semakin mudah meraih keberkahan di dalam pernikahan.

Mahar memang di atur di dalam Islam dan diperintahkan oleh baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk mempermudahnya. Dan para ulama seperti Imam Ibnul Qoyyim rohimahullahjuga tidak membolehkan apabila mahar seorang wanita berlebih-lebihan, karena menunjukkan pernikahannya sulit dan sedikitnya berkah dalam pernikahannya.

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata di dalam kitabnya Zaadul Ma'adjilid 5 halaman 162 :

وَتَضَمَّنَ أَنَّ الْمُغَالَاةَ فِي الْمَهْرِ مَكْرُوهَةٌ فِي النِّكَاحِ وَأَنَّهَا مِنْ قِلَّةِ بَرَكَتِهِ وَعُسْرِهِ

Dan termasuk berlebih-lebihan dalam urusan mahar dalam pernikahan hukumnya makruh, karena hal ini menunjukkan sedikitnya berkah dan sulitnya pernikahan tersebut.

Seorang wanita juga harus tau bahwa kehidupan sesungguhnya adalah setelah pernikahan, bukan saat menikah. Karena jika di awal saja pernikahan sudah di persulit, maka di kemudian hari pun juga bisa saja tambah dipersulit lagi dan hal ini bisa saja menghambat kebahagiaan di dalam rumah tangga. Jika maharnya itu memberatkan bagi calon suami dan dipersulit, maka hal ini tentunya bertentangan dengan apa yang diperintahkan oleh baginda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Hakikatnya, semua wanita menginginkan maharnya tinggi, namun juga tidak boleh egois dengan mengesampingkan kemampuan calon suaminya. Apakah tega melihat ketidakmampuan calon suami dalam memenuhi besarnya mahar yang diajukan oleh wanita? Apakah tega melihat calon suami berhutang ke sana ke sini hanya untuk memenuhi mahar pernikahan yang diajukan oleh sang wanita, yang pada akhirnya harua dia bayar setelah menikah. Uang yang awalnya full untuk menafkahi istrinya harus dikurangi untuk membayar hutang pernikahan.

Perkara seperti ini juga harus ikut dipikirkan oleh sang wanita. Tidak boleh egois dalam menentukan mahar. Diskusikan dengan calon suami dan setidaknya mahar yang mudah untuk dia penuhi agar pernikahan menjadi lancar.

Memang terlihat spele, namun efeknya begitu luar biasa bagi calon suami. Dan orang tua semestinya tidaklah boleh ikut campur dalam hal mahar dan pesta, kecuali ikut campur dalam memberikan solusi, bukan mengatur yang pada akhirnya pendapat anak (calon istri) dan orang tua berbeda. Dan kadang-kadang kedua mempelai sudah sepakat ingin mengatur acaranya begini dan begitu, namun orang tua ikut campur dalam mengaturnya, sehingga acara menjadi tidak lancar jalannya.

Seharusnya, jika memang percaya kepada anak, jangan lagi ikut campur dalam mengatur, tapi hanya ikut campur dalam memberikan solusi saja.

Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu 'anhu, dia berkata:

لَمَّا تَزَوَّجَ عَلِيٌّ فَاطِمَةَ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعْطِهَا شَيْئًا»، قَالَ: مَا عِنْدِي شَيْءٌ، قَالَ: أَيْنَ دِرْعُكَ الْحُطَمِيَّةُ؟

Manakala Ali hendak menikahi Fathimah, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Ali : "Berikanlah kepada Fatimah sesuatu". Maka Ali berkata : "Aku belum memiliki harta". Maka Rasulullah bersabda : "Mana perisaimu yang sudah hancur?" (HR. Abu Daud, hadist no. 2125).

Di dalam hadist ini kita bisa melihat betapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak langsung memerintahkan kepada Ali untuk memberi perisainya, tapi baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallammemerintahkan secara umum dulu. Dan ini menunjukkan bahwa sebagai orang tua harus memberi kebabasan dulu kepada sang calon menantu, dia mampunya memberikan apa. Bukan langsung mengatakan berikan ini dan itu untuk anakku. Karena baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mencontohkan untuk memberikan kesempatan apa yang bisa diberikan untuk putrinya. Dan kemudian setelah itu barulah orang tua mendiskusikan dengan kedua mempelai dan orang tua berada pada pertengahan, dalam arti kata pemberi solusi dan memberi kesempatan kepada kedua mempelai serta berdiskusi bagaimana baiknya pernikahan tersebut. Dan yang paling terpenting dalam hal ini adalah mengesampingkan egois masing-masing pihak. Karena hal itu akan menghambat lancarnya suatu pernikahan.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.