logo

Kriteria Laki-laki yang Layak dijadikan Suami | Konsultasi Muslim



Banyak wanita yang memilih lelaki yang menjadi suaminya hanya bermodalkan cinta semata. Padahal modal cinta tidaklah cukup bila tidak dibarengi dengan bagusnya agama dan akhlak calon suaminya.

Beberapa kriteria laki-laki yang layak dijadikan suami adalah:

1. Bagus agama dan akhlaknya.

Dalam memilih suami, yang harus diperhatikan pertama kali adalah agama dan akhlaknya. Tidak cukup hanya karena cinta buta kepada lelaki tersebut akhirnya tidak melihat dari segi agama dan akhlaknya. Oleh sebab itu baginda Rasulullah mengingatkan agar memilih lelaki yang baik agama dan akhlaknya.

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ، وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

Apabila ada orang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, yang meminang putri kalian, nikahkan dia. Jika tidak, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. (HR. At-Tirmidzi, hadist no. 1080).

Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan kepada wanita Muslimah sejak 1400 tahun yang lalu. Namun sedikit sekali yang menerapkan apa yang dikatakan oleh baginda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ada wanita yang rela memilih lelaki karena ketampanan, gagah dan dari orang berada dengan mengesampingkan agama dan akhlaknya. Padahal ketampanan dan harta tiada berguna di alam kubur. Hanya ilmu agama yang bisa mengantarkan seseorang untuk menggapai ridho Allah.

Ketika suaminya menyakitinya, berbuat kasar, ataupun melakukan kemaksiatan dia mengatakan itu takdir Allah, padahal Allah memberikan pilihan kepadanya untuk memilih calon suami yang baik agama dan akhlaknya. Tapi dia mengesampingkan itu semua. Setelah kejadian, baru dia menyesali perbuatannya tersebut.

Sebuah maqolah ulama menyebutkan :

لَنْ تَرْجِعَ الأَياَّمُ الَّتِيْ مَضَتْ

Tidak akan pernah kembali hari-hari (waktu) yang telah berlalu.

Oleh sebab itu berhati-hatilah dalam memilih pasangan hidup. Jangan asal halal kemudian menikah. Itu saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan bekal ilmu tentang pernikahan.

2. Bersikap lemah lembut dalam bertutur kata dan bersikap.

Sejatinya seorang pemimpin rumah tangga yang harus dipilih adalah yang lembut dalam bertutur kata dan bersikap. Karena dengan kelembutan sikap dan tutur katanya akan memperngaruhi akhlak istri juga. Dan sang istri akan lebih senang jika dia diperlakukan dengan lemah lembut, karena fitrahnya wanita suka diperlakukan dengan lembur, suka disayang dan disanjung.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

Sesungguhnya kelembutan tidaklah menyertai sesuatu, kecuali dia akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu, melainkan akan semakin memperburuknya. (HR. Muslim, hadist no. 2594).

Oleh sebab itu kelembutan akan menghiasi setiap sesuatu, begitu juga jika tutur kata dan sikap dihiasi dengan kelembutan, maka akan menjadi bagus. Apalagi bertutur dan bersikap lembut kepada istri, tentunya akan menyenangkan hatinya.

Seorang wanita haruslah memperhatikan hal ini, kelihatan spele dan jarang diperhatikan oleh banyak wanita, namun dampaknya bisa membuat sebuah hubungan suami istri menjadi retak gara-gara istri diperlakukan kasar oleh suaminya.

3. Mau menafkahi istrinya.

Allah berfirman :

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang telah Allah karuniakan kepadanya. Allah tidaklah memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang telah Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan. (QS. At-Thalaq : 7).

Hendaklah memilih calon suami yang bertanggungjawab, mau menafkahi dan bertanggungjawab atas apapun yang dilakukan istrinya. Karena suaminya tersebut akan menjadi seorang pemimpin.

Betapa banyak lelaki yang melupakan kewajibannya sebagai seorang pemimpin di dalam rumah tangga. Tidak mau menafkahi istrinya, tidak berkerja dan hanya berdiam diri di rumah. Tentunya yang seperti ini harus diperhatikan. Kelihatan spele, tapi bisa berdampak besar ketika sudah berumah tangga.

Sebelum itu semua terjadi, maka persiapkan diri dan cegah agar tidak terjadi.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menolak kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.

Sekali lagi, jangan asal menikah dan jangan asal halal selesai. Menikah tidak sesimple itu. Sebelum menikah harus tau dulu ilmu yang berkaitan dengan pernikahan dan rumah tangga, agar ketika sudah menikah tidak kaget dengan hak dan kewajiban yang harus dilakukan di dalam rumah tangga. Pilihlah suami yang sesuai dengan perintah agama, setidaknya ada usaha untuk semakin dekat kepada Allah dan insyaAllah lelaki yang mengetahui agama tidak akan semena-mena terhadap istrinya, karena dia mengamalkan setiap sesuatu sesuai dengan ilmu agama yang dia dapatkan. Dan insyaAllah akan semakin mendekatkan diri kepada Allah dan akan mendapatkan ridho dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.