logo

Kapan Membaca Ta'awudz di dalam Shalat? | Konsultasi Muslim



Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan dibacakan isti'adzah atau ta'awudz di dalam shalat.

Di dalam kitab al-Majmu' syarah al-Muhadzab jilid 3 halaman 325 Imam an-Nawawi rohimahullah berkata :

وَأَمَّا مَحَلُّهُ فَقَالَ الْجُمْهُورُ هُوَ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَابْنُ سِيرِينَ وَالنَّخَعِيُّ يَتَعَوَّذُ بَعْدَ الْقِرَاءَةِ وَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يَتَعَوَّذُ بَعْدَ فَرَاغِ الْفَاتِحَةِ لِظَاهِرِ الْآيَةِ وَقَالَ الْجُمْهُورُ مَعْنَاهَا إذَا أَرَدْتَ الْقِرَاءَةَ فَاسْتَعِذْ وَهُوَ اللَّائِقُ السَّابِقُ إلَى الْفَهْمِ

Dan adapun waktu untuk dibacakan istia'adzah atau ta'awudz adalah sebelum membaca Al-Qur'an (sebelum membaca al-Fatihah) di dalam shalat dan ini pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Dan Abu Hurairah, Ibnu Sirin dan an-Nakho'i berkata bahwa ta'awudz itu dibaca setelah membaca Al-Qur'an (setelah membaca al-Fatihah). Dan Abu Hurairah membaca ta'awudz setelah al-Fatihah di waktu kosong sebagaimana zohir ayat. Dan menurut jumhur (mayoritas) ulama artinya adalah apabila hendak membaca Al-Qur'an (surat al-Fatihah), maka bacalah ta'awudz dan ini pemahaman yang sesuai sebagaimana yang disampaikan terdahulu.

Perinciannya :

Waktu membaca isti'adzah atau ta'awudz di dalam shalat :

1. Pendapat jumhur (mayoritas) ulama : sebelum membaca surat al-Fatihah di dalam shalat.

Atau jika di dalam shalat dibaca sebelum membaca Al-Qur'an. Sebagaimana kebiasaan yang dilakukan selama ini.

2. Pendapat Abu Hurairah, Ibnu Sirin dan an-Nakho'i : dibaca setelah al-Fatihah. Di sela-sela waktu senggang setelah membaca surat al-Fatihah (sebelum membaca ayat-ayat pendek).

Lafadz-lafadz isti'adzah atau ta'awudz menurut ulama :

Imam an-Nawawi rohimahullah di dalam kitab al-Majmu' syarah al-Muhadzab jilid 3 halaman 325 :

1. Pendapat mazhab Syafi'i :

وَأَمَّا صِفَتُهُ فَمَذْهَبُنَا أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُولَ (أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ) وَبِهِ قَالَ الْأَكْثَرُونَ

Dan adapun mengenai bacaan yang harus dibaca ketika ta'awudz di dalam mazhab kami (Syafi'i) adalah

أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

"Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."

Dan ini adalah pendapat kebanyakan ulama.

2. Pendapat al-Qodhi dan at-Tsauri :

قَالَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَقَالَ الثَّوْرِيُّ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُولَ (أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إنَّ الله هو السميع العليم)

al-Qodhi Abu at-Thoyyib dan at-Tsauri berkata : "di sunnahkan membaca" :

أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إنَّ الله هو السميع العليم

"Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Sesungguhnya Maha mendengar lagi Maha mengetahui."

3. Pendapat Hasan Ibnu Sholeh :

وقال الحسن ابن صَالِحٍ يَقُولُ (أَعُوذُ بِاَللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ)

Dan Hasan Ibnu Sholeh berkata, dia membaca :

أَعُوذُ بِاَللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar dan Maha mengetahui dari setan yang terkutuk."

4. Pendapat as-Syasi :

وَنَقَلَ الشَّاشِيُّ عَنْ الْحَسَنِ بْنِ صَالِحٍ (أَعُوذُ بِاَللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إنَّ اللَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ)

Dan as-Syasi berpindah pendapat dari Hasan bin Sholeh. Dia membaca :

أَعُوذُ بِاَللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إنَّ اللَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar dan Maha mengetahui dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya Allah, Dia lah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui."

Hukum membaca isti'adzah atau ta'awudz :

Imam an-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab al-Majmu' syarah al-Muhadzab jilid 3 halaman 326 :

وَأَمَّا حُكْمُهُ فَمُسْتَحَبٌّ لَيْسَ بِوَاجِبٍ هَذَا مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ الْجُمْهُورِ

Dan adapun hukum membaca ta'awudz, maka dihukumi sunnah bukan wajib. Dan ini pendapat mahzab kami (Syafi'i) dan mazhab jumhur (mayoritas) ulama.

Apakah dibaca setiap raka'at?

1. Mazhab Syafi'i.

Imam an-Nawawi rohimahullah berkata :

وَأَمَّا اسْتِحْبَابُهُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْأَصَحَّ فِي مَذْهَبِنَا اسْتِحْبَابُهُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ

Dan adapun masalah di sunnahkan dibaca setiap raka'at, maka telah kami sebutkan bahwa yang paling benar di dalam mazhab kami (Syafi'i) di sunnahkan dibaca setiap raka'at.

2. Pendapat lain.

Ibnu Sirin, Atho', al-Hasan, an-Nakho'i, at-Tsauri dan Abu Hanifah.

وَبِهِ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ وَقَالَ عَطَاءٌ وَالْحَسَنُ وَالنَّخَعِيُّ وَالثَّوْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ يَخْتَصُّ التَّعَوُّذُ بِالرَّكْعَةِ الْأُولَى

Ibnu Sirin, Atho', al-Hasan, an-Nakho'i, at-Tsauri dan Abu Hanifah berkata bahwa membaca ta'awudz khusus dibaca di raka'at pertama saja.

Apakah makmum juga ikut membaca ta'awudz?

1. Mazhab Syafi'i.

Imam an-Nawawi rohimahullah berkata :

وَأَمَّا اسْتِحْبَابُهُ لِلْمَأْمُومِ فَمَذْهَبُنَا أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لَهُ كَمَا يُسْتَحَبُّ لِلْإِمَامِ وَالْمُنْفَرِدِ

Dan adapun mengenai di sunnahkannya membaca ta'awudz bagi makmum, maka di dalam mazhab kami di sunnahkan bagi makmum sebagaimana di sunnahkan bagi imam dan orang yang shalat sendiri.

2. Pendapat lain.

وَقَالَ الثَّوْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ لَا يَتَعَوَّذُ الْمَأْمُومُ لِأَنَّهُ لَا قِرَاءَةَ عَلَيْهِ عِنْدَهُمَا

Dan at-Tsauri dan Abu Hanifah berkata bahwa makmum tidak membaca ta'awudz karena tidak ada bacaan lain bagi keduanya.

Apakah membaca ta'awudz di jaharkan (dikeraskan)?

Imam an-Nawawi rohimahullah berkata :

وَأَمَّا الْجَهْرُ بِالتَّعَوُّذِ فِي الْجَهْرِيَّةِ فَقَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الرَّاجِحَ فِي مَذْهَبِنَا أَنَّهُ لَا يَجْهَرُ  وَقَالَ ابْنُ لَيْلَى الْإِسْرَارُ وَالْجَهْرُ سَوَاءٌ وَهُمَا حَسَنَانِ

Dan adapun mengeraskan bacaan ta'awudz di shalat jahar, maka telah kami sebutkan bahwa yang rojih (kuat) pendapat di dalam mazhab kami adalah tidak di jaharkan.

2. Pendapat Ibnu Umar, Abu Hanifah dan Abu Hurairah.

وَبِهِ قَالَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ يَجْهَرُ

Dan adapun Ibnu 'Umar, Abu Hanifah dan Abu Hurairah berkata di jaharkan.

3. Pendapat Ibnu Laila.

وَقَالَ ابْنُ لَيْلَى الْإِسْرَارُ وَالْجَهْرُ سَوَاءٌ وَهُمَا حَسَنَانِ

Dan Ibnu Laila berkata : Dipelankan atau dikeraskan keduanya sama saja dan keduanya bagus.


Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.