logo

Benarkah Ijab Qobul Harus Satu Nafas? | Konsultasi Muslim



Berita yang beredar di masyarakat adalah bahwa mempelai pria menjawab ijab harus dengan satu nafas. Padahal tidak ada satu dalilpun dan tidak ada satu perkataan ulama pun yang mengharuskan untuk menjawab ijab dengan satu nafas. Tentunya yang beredar dimasyarakat ini hanya dari mulut ke mulut yang tidak ada dasarnya dan juga tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Dan masyarakat salah paham dengan maksud menjawab dengan satu nafas. Padahal yang dilarang itu jika wali perempuan sudah mengucapkan : “ku nikahkan engkau dengan putriku” lalu mereka berpisah dan bertemu di tempat lain, lalu pria tersebut menjawabnya : ‘Aku terima”, maka pernikahan seperti ini yang tidak sah dan dilarang oleh para Ulama, karena ada jedanya. Adapun dalam menjawab ijab, maka tidak diharuskan dalam satu hembusan nafas.

Di dalam kitab al-Fiqhu ‘ala Madzahibil Arba’ah jilid 4 halaman 16 disebutkan :

اتفقوا جميعا على ضرورة اتحاد مجلس العقد فلو قال الولي : زوجتك ابنتي وانفض المجلس قبل أن يقول الزوج : قبلت ثم قال في مجلس آخر أو في مكان آخر لم يصح

"Para ulama 4 mazhab sepakat ijab qobul harus dilakukan dalam satu majlis akad. Sehingga andaikan wali mengatakan : "saya nikahkan kamu dengan putriku" lalu mereka berpisah sebelum suami mengatakan : "aku terima". Kemudian di majlis yang lain atau di tempat lain, dia baru menyatakan menerima, ijab qobul ini tidak sah."

Perlu diketahui, bahwa yang dilarang dan tidak sah itu jika menjawabnya ada jedanya dan menjawabnya ditempat lain dan berpisah ketika ucapan wali perempuan yang mengatakan : "saya nikahkan kamu dengan putriku" kemudian mereka berpisah dan dijawab oleh mempelai  pria ditempat atau majlis lain. Hal semacam ini sebenarnya yang tidak boleh, bukan menjawab ucapan nikah harus satu tarikan nafas, dan kalau tidak satu nafas, maka tidak sah. Bukan begitu pemahamannya.

Maka pemahaman masyarakat yang seperti ini perlu diluruskan, karena hal ini tidaklah ada dasarnya. Tidak ada dalil dan perkataan ulama satupun yang menerangkan tentang ini, sehingga pemahaman seperti itu tidak bisa dibenarkan dan harus diluruskan didalam Islam, sehingga pemahamannya bisa benar kembali sesuai dengan apa yang diajarkan di dalam Islam.

Allah berfirman :

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ. إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persanggkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira saja. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An'am : 116-117)."

Jika hanya bermodalkan ikut-ikutan, maka hal itu tidak dibenarkan di dalam Islam, karena dalam menjalankan sesuatu haruslah dengan dalil, bukan dengan ikut-ikutan saja karena belum tentu benar menurut Islam.

Semoga Bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.