logo

Begini Hakikat Aqad Nikah di dalam Islam | Konsultasi Muslim



Banyak dari kaum Muslimin yang tidak memahami hakikat akad yang sebenarnya di dalam Islam. Oleh sebab itu berikut akan kami rincikan permasalahan-permasalahan yang berkaitan seputar akad tersebut :

A. Mempelai wanita tidak harus hadir di tempat pernikahan.

Jika selama ini kaum Muslimin meyakini akan harusnya kehadiran mempelai pria ditempat dilangsungkannya pernikahan, maka ulama seperti Taqiyuddin al-Husaini al-Hushni menganggapnya tidak apa-apa jika mempelai wanita tidak hadir di tempat acara pernikahan tersebut.

Di dalam kitab Kifayatul Akhyar, jilid 2 halaman 43 disebutkan :

يُشْتَرَطُ فِي صِحَّةِ عَقْدِ النِّكَاحِ حُضُورُ أَرْبَعَةٍ وَلِيٍّ وَزُوْجٍ وَشَاهِدِي عَدْلٍ وَيَجُوزُ أَنْ يُوَكَّلَ الْوَلِيُّ وَالزَّوْجُ

Di syaratkan dalam kesahan akad nikah kehadiran empat pihak, yaitu wali, mempelai pria, dan dua orang saksi yang adil. Dan diperbolehkan wali dan mempelai pria diwakilkan.

Oleh sebab itu kehadiran mempelai wanita tidak disyaratkan di dalam sebuah pernikahan, dan jika dia tidak hadir sekalipun ditempat dilangsungkannya pernikahan, maka pernikahan tersebut akan tetap sah, bukan batal dan tidak pula rusak disebabkan hanya ketidakhadiran mempelai wanitanya. Yang penting ijab qobul-nya dilaksanakan oleh kedua belah pihak, antara wali wanita tersebut dengan calon suaminya. Jika itu telah selesai dilaksanakan, maka pernikahan akan menjadi sah, sekalipun tanpa kehadiran mempelai wanita ditempat pernikahan tersebut.

B. Mempelai wanita di samping mempelai pria, bolehkah?

Memang pada hakikatnya hal ini tidak ada yang secara langsung melarang semacam ini, akan tetapi hendaklah mempelai wanita tidak berada di samping mempelai pria, dengan tujuan untuk menghindari fitnah. Seperti mempelai pria tergoda dengan kecantikan mempelai wanita, dan akhirnya dia tidak fokus dalam proses ijab qobul-nya, atau mempelai wanita tersebut dilihat oleh laki-laki ditempat pernikahan tersebut. Karena mempelai wanita tentunya akan di dandan secantik mungkin untuk menyambut mempelai pria yang akan menjadi calon suaminya. Dan di dalam Islam, kita diperintahkan untuk menjauhi fitnah.

Allah berfirman :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah (siksaan) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal : 25).

Berdasarkan dalil ini, maka segala bentuk fitnah seharusnya dihindari oleh seorang Muslim, begitu juga halnya kehadiran mempelai wanita di samping mempelai lelaki ketika proses ijab dan qobul, maka hendaklah tidak menghindarinya agar mempelai pria juga bisa fokus dengan proses ijab qobul-nya.

Muhammad Ali as-Shobuni rohimahullah menuqil pendapat Imam Ibnu Katsir sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab tafsir Rowaai’ul Bayaan Ayat Ahkam minal Qur’an jilid 2 halaman 167 :

وذهب ابن كثير رَحِمَهُ اللَّهُ إلى أن المرأة منهية عن كل شيء يلفت النظر إليها، أو يحرك شهوة الرجال نحوها

Ibnu Katsir rohimahullah berpendapat bahwa seorang perempuan dilarang dari segala hal yang yang menjadikan pandangan mengarah kepadanya atau menggerakkan syahwat para lelaki padanya.

Memang tidak ada dalil khusus yang melarangnya, namun jika dikhawatirkan akan terjadinya fitnah bagi mempelai pria ataupun bagi laki-laki yang hadir pada acara tersebut, maka alangkah lebih baik tidak menghadirinya dalam rangka mencegah datangnya fitnah. Dan berdiam diri di dalam kamar tentunya lebih selamat dari fitnah tersebut karena di dalam kamar tersebut hanya ada kaum wanita tersebut. Dan mempelai wanita keluar kamar dan berada disebelah mempelai pria jika prosesi ijab dan qobul sudah selesai dilaksanakan. Itu lebih selamat daripada hadir disamping mempelai pria dan dilihat oleh banyak kaum laki-laki, dan tentunya mempelai pria bisa saja tidak fokus dalam proses ijab dan qobul-nya karena terpesona, gerogi dan sebagainya kepada mempelai wanita tersebut. Maka hendaknya seorang Muslim menghindari ini semua.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.