logo

Benarkah Salah Mengucapkan Mahar Nikahnya tidak Sah dan Harus diulang? | Konsultasi Muslim



Perlu diketahui bahwa mahar dalam pernikahan bukanlah termasuk rukun nikah, jika tidak disebutkan di dalam ijab qobul maka pernikahannya tetap sah. Bukan membatalkan akad nikah dan diulang kembali. Ini tidak perlu dilakukan karena sekalipun mahar tidak disebut di dalam pernikahan, maka pernikahan tetap sah menurut para ulama.

Para ulama berdalil dengan firman Allah surat Al-Baqarah ayat 236. Allah berfirman :

لا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً

Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. (QS. Al-Baqarah : 236).

Kebanyakan di masyarakat tidak mengetahui hukum penyebutan mahar di dalam pernikahan. Oleh sebab itu jika mempelai pria salah dalam mengucapkan mahar dalam pernikahan tersebut, maka pernikahan tersebut dianggap tidak sah dan harus diulangi pengucapan ijab dan qobulnya. Dan pada dasarnya tidaklah demikian, sebab sekalipun mempelai pria salah dalam mengucapkan maharnya, pernikahan tetap sah sebab mahar bukan termasuk rukun nikah, begitu pula penyebutan mahar bukanlah termasuk keharusan dan tidak termasuk syarat sahnya sebuah pernikahan.

Imam an-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab Roudotut Tholibin jilid 7 halaman 249 :

قَالَ الْأَصْحَابُ: لَيْسَ الْمَهْرُ رُكْنًا فِي النِّكَاحِ، بِخِلَافِ الْمَبِيعِ وَالثَّمَنِ فِي الْبَيْعِ ; لِأَنَّ الْمَقْصُودَ الْأَعْظَمَ مِنْهُ الِاسْتِمْتَاعُ وَتَوَابِعُهُ، وَهُوَ قَائِمٌ بِالزَّوْجَيْنِ، فَهُمَا الرُّكْنُ، فَيَجُوزُ إِخْلَاءُ النِّكَاحِ عَنْ تَسْمِيَةِ الْمَهْرِ، لَكِنَّ الْمُسْتَحَبَّ تَسْمِيَتُهُ

"Para ulama mazhab berkata : mahar bukanlah termasuk rukun nikah, berbeda dengan barang yang diperjual-belikan dan uang dalam jual beli, karena yang diharapkan yang lebih besar darinya adalah mendengar dan transaksi, dan dia bagian dari kesempurnaan, maka keduanya adalah bagian dari rukun. Boleh tidak menyebutkan mahar dalam pernikahan, akan tetapi dianjurkan untuk menyebutkan maharnya."

Ibnu Qudamah rohimahullah berkata di dalam kitab al-Mughni jilid 7 halaman 237 :

وَجُمْلَتُهُ أَنَّ النِّكَاحَ يَصِحُّ مِنْ غَيْرِ تَسْمِيَةِ صَدَاقٍ، فِي قَوْلِ عَامَّةِ أَهْلِ الْعِلْمِ. وَقَدْ دَلَّ عَلَى هَذَا قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى (لا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً) (البقرة: 236)

"Dan kesimpulannya bahwa nikah tetap sah meskipun tanpa menyebutkan maharnya. Hal ini sebagaiamana pendapat kebanyakan ahli ilmu (ulama). Dan dalil yang menunjukkan akan hal ini adalah firman Allah : “tidak ada kewajiban membayar atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. (QS. Al-Baqarah : 236).”

Sekalipun tanpa menyebutkan mahar pernikahan tetap sah, akan tetapi para ulama tetap menghukuminya sebagai mustahab (dianjurkan) untuk disebutkan di dalam pernikahan sebagaiamana yang disebutkan oleh Imam an-Nawawi di atas.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.