logo

Hukum Memanggil Pasangan Abi dan Umi dalam Islam | Konsultasi Muslim



Banyak orang yang mengatakan bahwa memanggil istri dengan panggilan ummi sama dengan menyamakan Istri dengan ibu kandung sendiri.

Nah, didalam Islam ada istilah yang dinamakan zihar.

Apa itu Zihar?

Zihar adalah menyamakan Istri seperti ibu sendiri sehingga istri nya tidak dijima'.

Contoh : Kamu seperti punggung ibuku. Ataupun kamu haram Bagiku.

Jika diniatkan zihar, maka jatuhlah zihar. Apabila niatnya thalaq, maka jatuh thalaq.

Allah Berfirman :

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَائِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنكَراً مِّنَ الْقَوْلِ وَزُوراً وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ
Orang-orang yang menzhihar istrinya diantara kamu,(menganggap istrinya sebagai ibunya) padahal tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mujadalah : 2).
 Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :

مقاصد اللفظ على نية اللافظ
Maksud sebuah ucapan tergantung pada niat yang mengucapkan
Apabila maksudnya zihar (menyamakan dengan ibunya) sehingga tidak menjima' nya, maka ini haram Hukumnya.

Contoh lain : memanggil ummi, ibu dan lainnya kepada istri.

Jika panggilan itu hanya untuk penghargaan kepada istri ataupun panggilan kasih sayang,maka Hukumnya boleh dan tidak dilarang karna hal itu merupakan adat kita di indonesia. Bukan untuk tujuan zihar tapi untuk menghargai dan membuat istri senang.

Syekh Utsaimin rohimahullah berkata :

فإذا قال: يا أمي تعالي، أصلحي الغداء فليس بظهار، لكن ذكر الفقهاء رحمهم الله  أنه يكره للرجل أن ينادي زوجته باسم محارمه، فلا يقول: يا أختي، يا أمي، يا بنتي، وما أشبه ذلك، وقولهم ليس بصواب؛ لأن المعنى معلوم أنه أراد الكرامة، فهذا ليس فيه شيء، بل هذا من العبارات التي توجب المودة والمحبة والألفة

Maka jika suami berkata kepada istrinya : Wahai Ibuku ayo siapkan makan siang, maka itu bukanlah zihar. Namun sebagian fuqoha, semoga Allah merahmati mereka,menuturkan bahwasanya dimakruhkan kepada suami memanggil istrinya dengan nama mahram abadi nya,maka tidak boleh memanggil wahai ibuku, anakku, atau apapun yang semacamnya, dan penuturan sebagian fuqoha tersebut tidaklah benar,karena sudah maklum bahwasanya makna panggilan tersebut adalah bentuk penghargaan,tidak ada (efek hukum) apa pun, melainkan itu bagian dari ekspresi yang dapat menimbulkan rasa sayang, cinta dan kelembutan.
Nah, jadi kebiasaan orang indonesia memanggil istrinya dengan sebutan dek, ummi, ibu dan lainnya bukanlah untuk zihar, tapi untuk menyenangkan hati istri dan menghargai dia sebagai seorang ibu.

Maka disini berlaku hukum adat (Kebiasaan) setempat. Dan Islam tidak melarang adat selama tidak bertentangan dengan syari'at Islam.

Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :

العُرْفُ وَالْعَادَةُ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي كُلِّ حُكْمٍ حَكَمَ بِهِ الشَّارِعُ, وَلَمْ يَحُدَّهُ بِحَدٍّ
Urf dan Kebiasaan dijadikan pedoman pada setiap hukum dalam syariat yang batasannya tidak ditentukan secara tegas.

Qoidah lain menyebutkan :
العادات محكمات
Kebiasaan bisa dijadikan sebagai landasan Hukum
Nah, kembali kepada kebiasaan orang-orang di indonesia dalam memanggil istri sebagai ummi. Tidak ada sedikit pun niat zihar didalam hatinya. Melainkan panggilan tersebut merupakan panggilan kasih sayang dan sebagai penghormatan kepada istri tersebut.

Dan disaat istri memanggil suaminya abang, mas, akhi dan sebagainya bukan dalam artian dia menyamakan suaminya dengan saudara kandungnya. Akan tetapi panggilan itu hanya sekedar untuk menghormati sang suami.

Jadi, kebiasaan orang-orang Jahiliyah tidak lah bisa disamakan dengan orang-orang Indonesia karna hal itu tidak tepat karna orang-orang Arab Jahiliyah dulu memanggil istri nya kamu seperti ibuku, kamu seperti adik ku. Maksud mereka bahwa mereka menyamakan istri mereka dengan mahrom mereka sehingga istrinya tidak boleh lagi di jima' sebelum dia membayar kaffaroh zihar.

Maka sekali lagi kebiasaan suatu negeri tentulah berbeda satu sama lain.

Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :

الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما
Hukum itu berputar beserta illatnya,baik dari sisi wujudnya maupun ketiadaannya.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.