logo

Larangan Mencela Makanan Yang Tidak Enak dalam Islam | Konsultasi Muslim



Memang, banyak manusia yang terbiasa mengatakan : "Ah, makanan ini gak enak banget, rasanya apek dan tidak ada manis-manisnya sama sekali.":

Sebenarnya, hal itu tidak semestinya diucapkan, karena baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika tidak menyukai suatu makanan, maka beliau tinggalkan makanan tersebut.

Dari Abi Hurairah rodhiyallahu 'anhu,bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : ما عاب رسول الله صلى الله عليه و سلم طعاما قط،كان إذا اشتهى شيئا أكله،و إن كرهه تركه

Rasulullah Shallallahu shallallahu 'alaihi wa sallam  tidak pernah mencela makanan sedikit pun. Apabila dia menyukai nya maka dia memakan makanan tersebut. Dan apabila tidak menyukai nya, maka dia meninggal kan nya. (HR. Muslim, hadist no. 2064).

Poin-poin penting :

1. Dilarang nya mencela makanan apapun jenis makanan tersebut.

2. Tinggalkan makanan tersebut jika tidak menyukai nya dan itu lebih baik daripada mencela nya.

3 Sedekah kan lah makanan tersebut jika tidak menyukai nya karna masih banyak yang menginginkan makanan tersebut.

 Oleh sebab itu, seorang muslim tidak lah seharusnya mencela makanan yang dia makan, karena itu merupakan nikmat Allah yang tak ternilai harganya. Pernahkah kita berfikir ketika kita mencela makanan dan membuangnya, teringat bahwa di luar sana masih banyak saudara-saudara kita yang tidak makan berhari hari karna tidak ada makanan, pernahkah kita berfikir demikian?

Selagi kita masih bisa memakan makanan, gunakanlah dengan sebaik baik nya. Jika tidak enak, jangan dicela, jika tidak enak, jangan dibuang. Karna diluar sana banyak orang-orang yang tidak makan karna tak punya apa-apa. Sementara kita menyia-nyiakan makanan yang ada didepan kita.

Tirulah sifat Rasulullah, jika tidak suka, maka beliau meninggal kan nya dan jika menyukai nya beliau memakan nya. Kecuali dalam rangka memberi komentar kepada Pemilik warung misalnya gorengan Bakwan yang dia makan terlalu asin. Maka dia berkata : "Bu, bakwan ini terlalu asin. Besok kurangi saja garamnya.”

Maka hal seperti ini boleh karena jika tidak diberikan komentar bakwan tersebut rasanya akan terus asin dihari berikutnya.

Sebuah qoidah Fiqih menyebutkan :

الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما

Hukum itu berputar beserta 'illatnya (sebabnya), baik ketika sebabnya ada maupun ketika tidak ada

Nah, disini ada penyebab dia berkata seperti itu, yaitu untuk memberikan Masukan kepada pemilik warung agar dihari selanjutnya tidak lagi memakai garam terlalu banyak.

Semoga bermanfaat.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.