logo

Hukum Memakan Hewan Pemakan Kotoran, Bolehkah? | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabaraktuh.. afwan ustadz mau tanya saya pernah datang ke suatu kampung yang orang² di sana untuk buang hajat (BAB) di sungai tapi dari sungai itu juga di ambil ikan²nya untuk di konsumsi.

Hukumnya seperti apa ustadz jika ikan tersebut memakan kotoran manusia?

Dari : Ummu Ukasyah

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى  melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Dari Ibnu Umar berkata :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا

Rasulullah melarang dari memakan daging hewan jallalah (pemakan kotoran) dan meminum air susunya. (HR. At-Tirmidzi, hadist no. 1824).

Di dalam kitab al-Majmu' syarah al-Muhadzab, jilid 9 halaman 28 :

ويكره أكل الجلالة ، وهي التي أكثر أكلها العذرة من ناقة أو بقرة أو شاة أو ديك أو دجاجة ، لما روى ابن عباس رضي الله عنهما  أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن ألبان الجلالة ولا يحرم أكلها لأنه ليس فيه أكثر من تغير لحمها وهذا لا يوجب التحريم. فإن أطعم الجلالة طعاما طاهرا وطاب لحمها لم يكره. لما روى عن ابن عمر رضى الله عنهما قال تعلف الجلالة علفا طاهرا ان كانت ناقة أربعين يوما وان كانت شاة سبعة أيام وان كانت دجاجة فثلاثة أيام

Dan dimakruhkan memakan hewan jallalah (pemakan kotoran manusia), yaitu hewan yang makanannya lebih banyak kotoran, baik unta, sapi, kambing, ayam jantan dan ayam betina, karena Ibnu Abbas Rodhiyallahu 'Anhuma meriwayatkan sebuah hadist bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang meminum susu hewan jallalah. Dan tidak diharamkan memakannya, karena pada hewan tersebut tidak ada perubahan yang lebih banyak dibanding dagingnya. Dan ini tidak menyebabkan keharaman. Dan jika jallalah diberi makanan yang baik dan suci hingga dagingnya menjadi baik, maka tidak makruh memakannya. Hal ini sebagaimana hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'Anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Hewan Jallalah (pemakan kotoran) diberi makanan yang suci, jika dia unta, maka diberi makan selama 40 hari, dan jika kambing, maka diberi makan 7 hari, dan jika ayam betina, maka diberi makan 3 hari. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i dengan sanad yang Shahih, Imam at-Tirmidzi berkata: "hadist hasan shahih."

Nah, kesimpulan dari perkataan Imam an-Nawawi di atas, bahwa memakan hewan yang memakan kotoran itu boleh, selagi tidak berubah baunya dan warnanya.

Begitu juga dengan ikan, dimana ikan lebih banyak memakan makanan alami daripada kotoran manusia, apalagi dia di sungai, berbagai macam makanan lainnya dia makan. Dan memakan makanan yang lain lebih banyak daripada kotoran manusia, jadi hukum memakannya juga boleh. Kecuali ikan tersebut sudah berubah warnanya dari warna aslinya, dan baunya pun sudah bau kotoran manusia, maka seperti ini sudah berubah hukumnya menjadi makruh menurut para ulama.

Akan tetapi, jika warna dan baunya tidak berubah, maka hukum memakannya boleh insyaAllah. 

Semoga bisa dipahami.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.