logo

Tradisi-tradisi yang Salah dalam Menyambut Bulan Ramadhan | Konsultasi Muslim




Allah berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ


“Beberapa hari yang ditentukan itu adalah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu. (QS. Al-Baqarah : 185).”


Banyak orang-orang yang saking semangatnya menyambut bulan suci Ramadhan, maka dia mengerjakan ibadah banyak dari biasanya.Ibadah yang dia lakukan sebenarnya bagus, tapi dia hanya mengkhususkan dalam menyambut bulan suci ramadhan saja, adapun di bulan-bulan biasanya tidak begitu. Seharusnya jika mengerjakan ibadah, maka harus seimbang dengan bulan-bulan lainnya.


Ada sebuah qoidah yang dibuat oleh ulama mazhab Syafi'i :


الأصل في العبادة التوقف


Asal hukum dalam ibadah adalah diam, sampai datang dalil yang menerangkannya.


Artinya, dalam mengerjakan suatu amalan tidak boleh dikhususkan di bulan atau hari tertentu tanpa adanya dalil yang menerangkan tentang ibadah tersebut. Seperti misalnya seseorang beribadah semalam suntuk untuk menyambut bulan suci ramadhan, ibadah ini dan itu, maka ini sama saja mengkhususkan pada waktu tertentu, padahal waktu beribadah tidak hanya sebelum ramadhan. Dan hal semacam ini dilarang didalam islam.


Contoh Tradisi-tradisi yang dilakukan sebelum Ramadhan :


1. Mengkhususkan ziarah kubur menjelang Ramadhan


Seperti yang diketahui bahwa ziarah kubur bisa dilakukan kapan saja, tidak mesti sebelum Ramadhan, karena pahalanya pun tentu sama sebelum Ramadhan dan hari-hari biasa.


Memang pada hakikatnya dia tidaklah berdosa, hanya saja setidaknya perbuatan itu makruh dilakukan berdasarkan qoidah :


الأصل في العبادة التوقف


Asal hukum dalam ibadah adalah diam, sampai datang dalil yang menerangkannya.


Nah, jadi ziarah kubur bisa dilakukan. Tapi ketika dia mengkhususkan sebelum bulan Ramadhan, apalagi berkeyakinan bahwa sebelum bulan Ramadhan lebih utama, maka ini tidak boleh.


Bagaimana jika waktu luangnya hanya sebelum Ramadhan? Lalu dia melakukan ziarah kubur, bolehkah hal semacam ini?


Hal semacam ini tentu dibolehkan di dalam Islam, seperti misalnya dia baru pulang ke kampung halamannya sebelum Ramadhan, kemudian dia melakukan ziarah kubur karena sebelumnya dia di rantau orang, tentu tidak bisa ziarah kubur. Hal semacam ini dibolehkan didalam Islam karena tidak mengkhususkan, hanya kebetulan saja dia pulang kampung dan berziarah ke makam sanak saudaranya.


Allah berfirman :


فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ


“Bertakwalah pada Allah semampu kalian. (QS. At Taghobun : 16).”


2. Padusan (mandi besar) menyambut bulan suci Ramadhan


Tidaklah tepat yang dilakukan sebagian orang, harus keramas atau mandi besar terlebih dahulu dalam menyambut bulan suci Ramadhan, apalagi terkadang mandi besar tersebut bercampur baur antara lelaki dan perempuan. Tentunya ini bukan lagi disebut berbahagia, tapi sudah masuk ranah kemaksiatan dan dosa.


Perlu diketahui bahwa tradisi-tradisi yang dilakukan nenek moyang terdahulu tidak selamanya benar menurut Islam. Dan jika terbukti tidak benar, maka harus ditinggalkan, dan kita patuh terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.


Allah berfirman :


وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ


“Apabila dikatakan kepada mereka : Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul. Mereka menjawab : Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak2 kami mengerjakannya. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa2 dan tidak pula mendapat petunjuk. (QS. Al-Maidah : 104).”


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.