logo

Suami ngasih nafkah Istri dari uang Riba, halalkah bagi Istri? | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamualaukum ust..mau nanya terkait pertanyaan soal riba td..bila yg menerima tidak termasuk memakan harta riba..utk suami yg bekerja di dunia riba..bagai mana dengan nafkah yg diberikan pada istri nya sedang istri hanya pihak.menerima


Mohon penjelasannya ust.krn ini masalah yg sedang keluarga saya hadapi.mohon nasihat nya ust.jazakumullah khairan


Dari : Fulanah

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى    melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp


Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.


Ada sebuah qoidah menyebutkan seperti ini :


تبدل سبب الملك قائم مقام تبدل الذات


“Perubahan sebab kepemilikan suatu barang merubah kedudukan hukum barang secara dzatnya

Artinya adalah istri mendapatkan nafkah dari suami yang bekerja di tempat riba misalnya, di mana riba itu haram.


Uang itu halal, hanya saja cara mendapatkan nya saja yang haram.


Dan apabila harta haram tersebut berpindah tangan, artinya diberikan kepada orang lain. Diberikan kepada istri, anak, keponakan dan sebagainya, maka hukumnya menjadi halal karena perubahan kepemilikan. Dan bagi si istri nafkah tersebut halal berdasarkan qoidah di atas.


Begitu juga qoidah yang menyebutkan :


أن ما حُرِّم لكسبه فهو حرام على الكاسب فقط، دون مَن أخذه منه بطريق مباح


“Sesuatu yang diharamkan karena usahanya, maka dia haram bagi orang yang mengusahakannya saja, bukan pada yang lainnya yang mengambil dengan jalan yang boleh.

Bagi si istri halal nafkah tersebut.


Tapi kan yang menjadi masalah lagi adalah jika nafkah dari hasil riba tersebut diberikan kepada istri dan anak, maka apa yang ada difikiran istri dan anak dari harta riba. Dan boleh jadi akan menghambat cara berfikir anak dan istri.


Ibnu Taimiyah rohimahullah di dalam kitab Majmu' Fatawa halaman 541 berkata :


الطَّعَامَ يُخَالِطُ الْبَدَنَ وَيُمَازِجُهُ وَيَنْبُتُ مِنْهُ فَيَصِيرُ مَادَّةً وَعُنْصُرًا لَهُ ، فَإِذَا كَانَ خَبِيثًا صَارَ الْبَدَنُ خَبِيثًا فَيَسْتَوْجِبُ النَّارَ، وَلِهَذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ جِسْمٍ نَبَتَ مَنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ . وَالْجَنَّةُ طَيِّبَةٌ لَا يَدْخُلُهَا إلَّا طَيِّبٌ.


“Makanan akan bercampur dengan tubuh dan tumbuh menjadi jaringan dan sel penyusunnya. Jika makanan itu jelek maka badan menjadi jelek, sehingga layak untuknya neraka. Karena itulah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam  mengingatkan : Setiap jasad yang tumbuh dari harta haram, maka neraka layak untuknya. Sementara surga adalah kebaikan, yang tidak akan dimasuki kecuali tubuh yang baik.

Dan bisa juga tidak barokah nafkah yang diberikan sekalipun halal.


Solusinya adalah : Suami harus mencari pekerjaan lain, biarlah berpenghasilan kecil asal halal. Dan insyaAllah masih banyak pekerjaan halal yang bisa dilakukan.


Semoga bisa dipahami.


Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.