logo

Shalat tepat waktu atau Shalat di awal waktu? | Konsultasi Muslim




Banyak kaum muslimin terkhusus di Indonesia tercinta ini yang menanyakan tentang shalat tepat waktu dan awal waktu. Manakah di antara keduanya yang paling benar?

Allah berfirman :


إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا


“Sesungguhnya shalat memiliki waktu yang telah ditetapkan bagi orang beriman. (QS. An-Nisa' : 103).”


Menurut para ulama mengerjakan shalat itu hendaklah di awal waktu, kecuali beberapa shalat seperti isya dan shalat zuhur yang pada musim yang sangat panas.


Dari Ummu Farwah berkata :


سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلاَةُ فِى أَوَّلِ وَقْتِهَا


“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya : Amalan apakah yang paling afdol? Beliau pun menjawab : Shalat di awal waktunya. (HR. Abu Daud, hadist no. 426).”


Di dalam kitab Subulus Salam Imam Ash-Shon'ani rohimahullah berkata :


فالحديث دل على أفضلية الصلاة في أول وقتها على كل عمل من الأعمال


Hadist ini menunjukkan atas keutamaan mengerjakan shalat di awal waktunya. (Subulus Salam, jilid 1 halaman 121).


Lalu bagaimana dengan hadist yang menyebutkan :


Dari Ibnu Mas'ud rodhiyallahu 'anhu berkata :


سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا


“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam : "Amal apa yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala? Beliau menjawab : Shalat pada waktunya." (HR. Bukhari, hadist no. 527).”


Menurut Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahullah bahwa maksud shalat pada waktunya adalah shalat di awal waktunya. Beliau menukil pendapat Ibnu Battol rohimahullah.


Ibnu Hajar rohimahullah berkata di dalam kitab Fathul Baari :


قال ابن بطال : فيه أن البدار إلى الصلاة في أول وقتها أفضل من التراخي فيه


Ibnu Battol rohimahullah berkata : "Di dalam hadist ini disimpulkan bahwa menyegerakan shalat di awal waktunya itu lebih afdol (utama) dari pada menundanya". (Fathul Baari, jilid 2 halaman 9).


Imam Ash-Shon'ani rohimahullah mengatakan bahwa salah satu shalat yang boleh di akhirkan adalah shalat Isya.


Beliau rohimahullah berkata di dalam kitabnya Subulus Salam :


وهو دليل على أن وقت العشاء ممتد، وأن آخره أفضله، وأنه صلى الله عليه وسلم كان يراعي الأخف على الأمة


Waktu shalat isya itu lapang, dan mengakhirkan pengerjaan nya adalah afdol (lebih utama) dan hal itu lebih meringankan bagi ummat. (Subulus Salam, jilid 1 halaman 113).


Maka dari itu para ulama membolehkan shalat Isya di akhirkan pengerjaan nya karena waktunya lapang dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri pun pernah mengerjakan di akhir waktu.


Didalam Hadist Jabir rodhiyallahu 'anhu disebutkan :


وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا يُقَدِّمُهَا وَأَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا: إِذَا رَآهُمْ اِجْتَمَعُوا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ وَالصُّبْحَ : كَانَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ


"Adapun shalat Isya, kadang beliau mengawalkannya dan kadang mengakhirkannya. Apabila beliau melihat jama'ah sudah berkumpul, beliau mengawalkan. Dan apabila beliau melihat jama'ah belum berkumpul, beliau mengakhirkannya. Sementara subuh, beliau selalu melaksanakannya ketika masih gelap. (Subulus Salam, hadist no. 147)."


Selain shalat Isya, ada juga shalat yang boleh di akhirkan, yaitu shalat Zuhur apabila di hari yang sangat panas.


Di dalam kitab Hadist Subulus Salam disebutkan :


إِذَا اِشْتَدَّ اَلْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ فَإِنَّ شِدَّةَ اَلْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ


Apabila panas sangat menyengat, maka tunggulah sampai dingin untuk shalat, karena panas yang menyengat itu termasuk hembusan neraka jahannam. (Subulus Salam, hadist no. 151, jilid 1 halaman 114).


Dengan syarat cuacanya sangat panas, bukan cuaca yang panas. Karena jika cuaca panas, maka di Indonesia sering mengalami cuaca panas, terlebih di arab saudi. Maka dari itu yang di maksud adalah apabila cuacanya sangat panas.


Kesimpulan :


Ada 2 shalat yang boleh di akhirkan pengerjaannya menurut para ulama :


1. Shalat Isya


2. Shalat Zuhur apabila di musim cuaca yang sangat panas


Adapun selain dari keduanya, maka tidak diperbolehkan di dalam Islam.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.