logo

Setelah Hijrah Tidak Mau Menyapa di luar Kelompoknya | Konsultasi Muslim



Sekarang sedang trend-trend-nya hijrah dikalangan anak-anak muda Islam. Ikut kelompok ini, ikut kajian ustadz ini dan itu.

Di dalam berhijrah itu yang harus diperhatikan pertama kali adalah niatnya dalam berhijrah. Niatnya sudah benar atau belum karena jika niatnya salah, maka tidak mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Rasulullah shallallahu 'slaihi wa sallam bersabda :

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang dia tuju. (HR. Bukhari, hadist no. 1).”

Niat hijrahmu karena Allah atau karena trend zaman sekarang? Tentunya harus karena Allah, karena jika hijrah karena Allah maka insyaAllah akan Allah mudahkan proses hijrahmu.

Apa itu hijrah?

Rasulullah shallallahu 'slaihi wa sallam bersabda :

ﻭَﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮُ ﻣَﻦْ ﻫَﺠَﺮَ ﻣَﺎ ﻧَﻬَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪ

“Dan orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wata'ala. (HR. Bukhari dan Muslim).”

Nah, sebelum hijrah misalnya antum masih suka bermaksiat kepada Allah, setelah hijrah antum tobat dan meninggalkan itu semua, maka inilah yang dimaksud didalam Hadist di atas.

Ustadz, bagaimana jika ada yang sudah hijrah kemudian dia tidak menyapa orang lain selain yang satu kelompok dengannya. Bagaimana hukumnya?

Berarti ada yang salah dengan niat hijrah dan cara belajarnya.

Orang yang sudah hijrah akan senantiasa ramah dan mempererat tali silaturahmi kepada siapapun diantara kaum Muslimin, dengan catatan bukan kepada lawan jenis.

Jika sebelum nya dia sering bertengkar, maka setelah berhijrah dia harus mempererat tali silaturahmi dengan siapapun.

Tapi jika setelah hijrah dia malah semakin memutuskan tali silaturahmi, maka ada yang salah dengan hijrahnya. Dan dia bukannya mendapat pahala, tapi malah mendapat dosa.

Rasulullah shallallahu 'slaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan silaturahmi. (HR. Bukhari).”

Hijrahmu perlu dipertanyakan ukhti, bagaimana mungkin tidak mau menyapa diluar kelompok mu? Bagaimana mungkin tidak memberi salam dan tidak menegur mereka-mereka yang diluar kelompokmu?

Berarti ada yang salah dengan niat hijrah dan cara belajar agamamu. Dan ini perlu diluruskan.

Rasulullah shallallahu 'slaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الرَّحِمَ شِجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ ، فَقَالَ اللَّهُ مَنْ وَصَلَكِ وَصَلْتُهُ ، وَمَنْ قَطَعَكِ قَطَعْتُهُ

“Sesungguhnya kata rahim diambil dari nama Allah Ar-Rahman. Allah berkata : Barangsiapa menyambungmu (silaturahmi), maka Aku akan menyambungnya, dan barangsiapa memutuskanmu, Aku akan memutuskannya. (HR. Bukhari).”

Apakah kau merasa lebih baik dari yang lain? Apakah kau merasa kelompok mu lebih baik dari yang lain? Na'udzubillah. Jika sampai ini terjadi, maka kau termasuk orang yang sombong, dan sedangkan sombong adalah salah satu sifatnya iblis. Dan orang yang didalam hatinya ada rasa sombong walaupun sebesar biji sawi, maka dia tidak masuk surga.

Rasulullah shallallahu 'slaihi wa sallam bersabda :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi. Ada seseorang yang bertanya : Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus? Beliau menjawab : "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim, hadist no. 91).”

Jika benar hijrahmu karena Allah, maka jauhi sifat sombong. Tegurlah siapapun sebagai bentuk mempererat silaturahmi sekalipun tidak secara langsung datang kerumahnya. Namun sapalah mereka-mereka, karena sama-sama masih hamba Allah. Tapi jangan sapa lawan jenismu karena bisa menimbulkan fitnah.

Jangan hanya gara-gara menganggap orang lain sebagai ahli bid'ah,ahli maksiat dan sebagainya lantas kau tidak menegurnya. Karena terkadang orang yang kau tuduh itu dia punya argumen yang sama-sama berasal dari Al-Qur'an dan Hadist Nabi. Hanya saja dia mengambil pendapat ulama lainnya. Dan apabila keduanya sama-sama ijtihad, maka tidak ada yang bisa membatalkan ijtihad tersebut. Karena ijtihad dengan ijtihad tidak bisa batal kecuali dengan dalil. Dan tentunya para ulama juga berijtihad berdasarkan dalil dari Al-Qur'an dan Hadist.

Sebuah qoidah fiqih Menyebutkan :

الإجتهاد لاينقد بالإجتهاد

Suatu ijtihad tidak bisa dibatalkan dengan ijtihad lainnya.

Jauhilah sifat sombong. Apalagi menganggap diri dan kelompok nya lebih baik dan selamat dari yang lainnya. Tentunya hal ini bukan mendatangkan ridho dari Allah, tapi malah mendatangkan murka dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.