logo

Perempuan Yang Ikut Suami dan Jauh dari Orang Tua Berdosa? Benarkah? | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

 

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh

Ustadz, sya bertanya bagaimana hukum anak perempuan yg meninggalkan orang tuanya (pisah rumah jauh) karena sudah menikah dan ikut suaminya?

Saya pernah mendengar ceramah salah satu Ustadz klu hal itu hukumnya dosa. Mohon dasar dalil dan penjelasannya.

Dari : Nova Pamungkas

 

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى    melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

 

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

 

Saya rasa pernyataan salah seorang ustadz tersebut tidak benar, karena setau saya hal itu tidak ada dalil yang menerangkannya.

Jika seorang perempuan menikah, maka yang wajib dia taati pertama kali adalah suaminya. Yang kedua baru kedua orang tuanya.

Dan mentaati suami hukumnya wajib. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan di dalam Hadistnya.

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

 

Seandainya seorang manusia boleh ku perintahkan untuk bersujud kepada manusia lainnya, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya. (HR. At-Tirmidzi, hadist no. 1159).


Jadi, seorang suami itu pemimpin di dalam rumah tangga, mau ke manapun dia pergi, istri juga harus mentaatinya, harus ikut bersamanya. Bukan berdosa jika meninggalkan orang tua.

Allah berfirman :

فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ

 

Tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya. (QS. Al-Qashas : 29).


Imam Al-Qurtubi rohimahullah berkata di dalam tafsirnya Al-Qurtubi jilid 13 halaman 281 :

فيه دليل على أن الرجل يذهب بأهله حيث شاء لما له عليها من فضل القوامة

 

Ini adalah dalil bahwa seorang suami jika pergi (pindah kesuatu tempat), maka dia membawa keluarganya (istrinya) sesuai yang dia kehendaki. Suami unggul dalam hal ini karena posisinya sebagai pemimpin keluarganya.

 

Dari penjelasan ini jelas bahwa ke manapun suami pergi, maka istri dan anak-anak harus mengikutinya. Karena suami pemimpin didalam rumah tangganya, bukan berdosa jika meninggalkan orang tuanya, karena memang setelah menikah , orang yang wajib dia taati pertama kali adalah suaminya. Kemudian baru kedua orang tuanya.

 

Adapun apa yang disampaikan oleh salah satu ustadz yang antum maksud, bahwa wanita meninggalkan orang tuanya berdosa, maka saya tidak mendapatkan dalilnya. Ntah saya yang kurang membaca atau seperti apa. Namun se pengetahuan saya hal itu tidaklah benar adanya sebelum dia mendatangkan dalil.

 

Adapun jika kasusnya, misalnya kedua orang tuanya sudah tinggal menunggu detik-detik kematiannya, namun dia tidak juga pulang kerumah orang tuanya, maka ini barulah dihukumi berbeda dan hal ini dalam keadaan darurat.

 

Kamal Ibnu Kamam rohimahullah menuqil pendapat Ibnu Nujaim, seorang ulama dari Mazhab Hanafi di dalam kitab Al-Bahrur Ra'iq Syarhu Kanzid Daqa'iq, jilid  4 halaman 212 :

 

وَلَوْ كَانَ أَبُوهَا زَمِنًا مَثَلًا وَهُوَ يَحْتَاجُ إلَى خِدْمَتِهَا وَالزَّوْجُ يَمْنَعُهَا مِنْ تَعَاهُدِهِ عَلَيْهَا أَنْ تَعْصِيَهُ مُسْلِمًا كَانَ الْأَبُ أَوْ كَافِرًا ، كَذَا فِي فَتْحِ الْقَدِيرِ

 

Dan sekalipun jika bapaknya istri menderita penyakit kronis dan dia membutuhkan bantuan perawatannya namun suami melarang istrinya untuk menjenguknya, maka dia boleh membangkang larangan suaminya, baik bapaknya muslim maupun kafir. Demikianlah sebagaimana pendapat Ibnu Nujaim di dalam Kitab Fathul Qadir.

 

Semoga bisa dipahami.


Wallahu Ta'ala a’lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.