logo

Hukum Meminta Ruqyah Menurut Ulama, Boleh ataukah dilarang? | Konsultasi Muslim




Banyak orang-orang jahil yang berbicara tentang ilmu dengan lantangnya bersuara ditempat umum, baik melalui pembicaraan langsung maupun menulis di media sosial dengan mengatakan bahwa "orang-orang yang meminta ruqiyah tidak masuk surga". Dia hanya membaca teks Hadist saja tanpa melihat tafsiran para ulama mengenai Hadist tersebut.


Imam An-Nawawi rohimahullah berkata bahwa hukum minta ruqiyah itu boleh bahkan bisa menjadi sunnah hukumnya jika dibutuhkan.


Lalu bagaimana dengan Hadist yang melarang ruqiyah?


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ, قَالُوا : وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللّهِ؟ قَالَ : هُمُ الّذِينَ لاَ يَكْتَوُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَعَلَى رَبّهِمْ يَتَوَكّلُونَ


“Akan masuk surga dari umatku 70 ribu dengan tanpa hisab. Sahabat bertanya : "Siapa mereka wahai Rasulullah"? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Mereka adalah orang yang tidak berobat dengan kay (besi),tidak minta diruqyah dan mereka bertawakkal pada Allah.” (HR. Bukhari).


Para ulama mengatakan bahwa ruqiyah yang dilarang di dalam Hadist ini adalah ruqiyah syirkiyyah (yang mengandung kesyirikan), di mana lafadz-lafadz-nya bukan berasal dari dzikir ataupun dari Al-Qur'an, dan lafadz nya bukan berbahasa Arab dan tidak dikenal artinya. Adapun lafadz-lafadz ruqiyah yang berasal dari dzikir-dzikir dan Al-Qur'an, maka hukumnya boleh.


Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab Syarah Shahih Muslim :


وَأَمَّا الرُّقَى بِآيَاتِ الْقُرْآن ، وَبِالْأَذْكَارِ الْمَعْرُوفَة ، فَلَا نَهْي فِيهِ ، بَلْ هُوَ سُنَّة . وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ فِي الْجَمْع بَيْن الْحَدِيثَيْنِ إِنَّ الْمَدْح فِي تَرْك الرُّقَى لِلْأَفْضَلِيَّةِ ،وَبَيَان التَّوَكُّل


Adapun ruqiyah yang lafadz nya berasal dari ayat-ayat Al Quran, dan dzikir-dzikir yang ma'ruf (dikenal), maka hal itu tidak dilarang,bahkan Hukumnya bisa menjadi Sunnah. Di antara mereka ada yang mengatakan dalam mengkompromikan dua hadits (yang nampak bertentangan), sesungguhnya pujian untuk meninggalkan ruqiyah menunjukkan (hal yang lebih utama), dan menampakkan tawakkal. (Syarah Shahih Muslim, jilid 7 halaman 325).


Beliau (Imam An-Nawawi) rohimahullah melanjutkan :


والمختار الأول وقد نقلوا الإجماع على جواز الرقى بالآيات، وأذكار الله تعالى قال المازري: جميع الرقى جائزة إذا كانت بكتاب الله أو بذكره، ومنهي عنها إذا كانت باللغة العجمية، أو بما لا يدرى معناه، لجواز أن يكون فيه كفر


Pendapat yang dipilih adalah yang pertama. Para ulama bahkan ada yang menukil adanya ijma’ (kesepakatan) atas bolehnya ruqyah dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan dzikir-dzikir kepada Allah Ta'ala.Al-Maziri berkata : seluruh Ruqiyah diperbolehkan apabila menggunakan kitabullah atau dzikir. Dan ruqiyah akan terlarang apabila menggunakan bahasa selain Arab atau yang tdk dipahami maknanya, karena adanya kemungkinan terkandung kekufuran di dalamnya.


Sejauh mana diri harus diruqiyah?


Yaitu sejauh yang kita membutuhkan untuk diruqiyah. Misalnya terkena sengat kalajengking. Tentunya diobati dengan cara kedokteran terlebih dahulu setelah itu bisa meruqiyah diri sendiri. Atau jika tidak bisa,maka minta tolong kepada orang-orang yang bisa meruqiyah.


Begitu juga seperti santet, guna-guna dan lain sebagainya yang mengharuskan kita untuk melakukan Ruqiyah, maka silahkan saja minta tolong kepada orang yag bersangkutan sebagai bentuk ikhtiyar (usaha) kita untuk sembuh. Akan tetapi tetap harus bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Allah berfirman :


وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ


“Dan hanya kepada Allah lah kalian betawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah : 23).


Jadi, jika sudah berusaha kita diperintahkan untuk tawakal kepada Allah, menyerahkan segala urusan hanya kepadanya. Karena dialah yang maha kuasa atas segala sesuatu.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.