logo

Merubah Kemungkaran, Tapi Tidak Mampu | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz... Apa yg harus saya lakukan jika kedzaliman terjadi di depan mata saya?

Dari : Nanda Habibah

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Allah berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran : 104).

Sebagai sesama Muslim, seharusnya harus saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling mencegah dalam keburukan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

من رأى منكرًا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, sekiranya dia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan sekiranya dia tidak mampu (juga), maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah keimanan.” (HR. Muslim, hadist no. 49).

Menurut hadist diatas ada 3 tingkatan cara mencegah kemungkaran :

1. Mencegah dengan tangannya.

Mencegah kemungkaran dengan tangannya bukanlah sembarangan orang. Bukan dengan memukul, dengan kekerasan ataupun dengan sesuatu yang bisa menyakiti yang lain. Oleh sebab itu tidak bisa dilakukan oleh orang biasa. Akan tetapi mencegah dengan tangan hanya bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai kekuasaan. Seperti misalnya dia menjadi seorang gubernur, maka dia bisa mencegah kemungkaran dengan tangannya.

Contoh : "Dia melarang adanya acara perayaan valentine day, karena disana banyak kemungkaran-kemungkaran yang terjadi". Di mana di dalam nya disebut hari kasih sayang dan wanita menyerahkan tubuhnya kepada pasangannya.

Ini bentuk kemungkaran. Dan yang bisa mencegah hal seperti ini adalah orang yang mempunyai kekuasaan. Kemudian dia gunakan untuk menolong agama Allah dan dia gunakan untuk mencegah kemungkaran dan menolong manusia agar tidak melakukan kemungkaran.

Sebelum itu terjadi, maka dia cegah dengan cara misalnya dia membuat surat pernyataan larangannya kemudian surat itu dia tanda tangan. Maka ini bisa mencegah kemungkaran.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Menolak kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.

Sebelum itu terjadi, maka dia mengeluarkan surat pernyataan larangan melakukan kegiatan tersebut.

2. Mencegah dengan lisan (perkataan) berupa nasehat

Allah berfirman :

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Dan saking menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya dalam kesabaran.” (QS. Al-Ashr : 3).

Artinya jika kita mampu, maka ingatkan dia dengan lisan, yaitu berupa nasehat agar dia berhenti dari berbuat kemungkaran. Dengan syarat menasehatinya haruslah dengan cara lemah lembut agar hatinya tersentuh untuk kembali kepada jalan yang benar.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya sikap lemah lembut tidak akan berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika lemah lembut itu dicabut dari sesuatu, melainkan dia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim, hadist no. 2594).

Karena hanya dengan sifat lemah lembutlah terkadang hati seseorang bisa lunak dan tersentuh dan akhirnya kembali ke jalan yang lurus, dan pada akhirnya meninggalkan kemungkaran tersebut, artinya dia meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

3. Mencegahnya dengan hati.

Yaitu pergi meninggalkan nya, atau tetap diam tapi didalam hati mengingkari perbuatan keji yang dilakukan manusia. Akan tetapi, jika seseorang punya kekuasaan, tapi tidak mau mencegahnya dengan tangannya, tapi hanya diam, maka ini tidak lah boleh. Karena dia mampu mencegah dengan kekuasannya. Dan dia mampu mencegah kemungkaran ini dengan tangannya.

Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab Roudhotut Tholibin :

ولا يكفي الوعظ لمن أمكنه إزالته باليد، ولا تكفي كراهة القلب لمن قدر على النهي باللسان

Tidak cukup memberi nasihat bagi orang yang mampu menghilangkan kemunkaran dengan tangan. Dan tidak cukup ingkar di dalam hati bagi orang yang mampu mencegah kemunkaran dengan lisan. (Roudhotut Tholibin, jilid 5 halaman 123).

Jika dia mampu mencegah kemungkaran dengan tangannya, namun dia tidak melakukannya, malah memilih aman dengan memilih tingkatan terakhir yaitu diam dan menolaknya dengan hatinya, maka dia telah berbuat dzolim dan boleh jadi akan Allah timpakan kepadanya azab dan juga kepada penduduk negeri tersebut.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ

“Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zhalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumanNya pada mereka semua.” (HR. At-Tirmidzi).

Jika dia mampu mencegah dengan kekuasaanya, dan dia melihat orang-orang yang berbuat dzolim (kemungkaran), tapi dia diam saja dan tidak mencegahnya, maka Allah akan menjatuhkan hukuman kepada orang yang berkuasa tersebut dan kepada mereka-mereka yang tau terhadap ke dzoliman tersebut. Na'udzubillah.

Semoga kita semua terhindar dari azab Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Wallahul Musta'an.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.