logo

Menghadiri Pemakaman Non Muslim, Bolehkah? | Konsultasi Muslim



Banyak sekali di antara kaum Muslimin khususnya di Indonesia, entah mereka tidak tau ataukah agar mereka dipandang sebagai orang yang bertoleransi, mereka terkadang melanggar batas-batas yang ditentukan didalam Islam. Mereka menjadikan orang-orang kafir seperti layaknya orang-orang islam, padahal tidaklah seperti itu.

Dan salah satu yang tidak diperbolehkan bagi kaum Muslimin adalah memandikan serta menguburkan jenazah orang-orang kafir tersebut, karena hal itu termasuk setia terhadap mereka. Dan Islam melarang hal itu.

Allah berfirman :

يا أيها الذين آمنوا لا تتولوا قوما غضب الله عليهم

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memberikan wala' (loyalitas) kepada kaum yang dimurkai oleh Allah (orang-orang kafir). (QS. Al-Mumtahanah : 13).”

Oleh sebab itu sudah sepatutnya sebagai orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah menjauhi itu semua. Dan para ulama sendiri melarang seorang Muslim untuk hadir di pemakaman orang-orang kafir tersebut.

Di dalam kitab Kasyaful Qona' jilid 2 halaman 123 disebutkan :

ويحرم أن يغسل مسلم كافرا ، ولو قريبا ، أو يكفنه ، أو يصلي عليه ، أو يتبع جنازته ، أو يدفنه )، لقوله تعالى : (يا أيها الذين آمنوا لا تتولوا قوما غضب الله عليهم ) وغَسلُهم ونحوه : تولٍّ لهم ، ولأنه تعظيم لهم ، وتطهير ؛ فأشبه الصلاة عليه ( إلا أن لا يجد من يواريه غيره ، فيوارَى عند العدم)

Seorang muslim  diharamkan memandikan orang kafir, meskipun dia kerabat dekat. Dilarang pula mengkafani, menshalati mayatnya, mengikuti jenazahnya atau menguburkannya. Berdasarkan firman Allah : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memberikan wala' (loyalitas) kepada kaum yang dimurkai oleh Allah" Sementara memandikan mayit dan semacamnya, termasuk memberikan loyalitas kepadanya. Karena mengandung unsur, mengagungkan dan mensucikan mereka. Statusnya seperti menshalati mereka. kecuali jika tidak ada orang lain yang menguburkannya maka keluarganya harus menguburkannya.

Nah, jika memang sudah tidak orang lain dari saudaranya yang memandikan, mengiringi, dan menguburkannya, maka barulah diperbolehkan jika takut jenazahnya tidak dipedulikan oleh orang lain.

Lalu bagaimana hukum menjenguk Non Muslim yang Sakit atau meninggal dunia?

Para ulama mengatakan bahwa jika dia kafir Dzimmi (orang-orang yang tidak memerangi ummat Islam) dan diharapkan ke Islamannya, maka diperbolehkan untuk menjenguknya. Apalagi dia tetangga atau keluarga dekat yang diharapkan ke Islaman nya.

Dasar pengambilan dalilnya adalah Hadist yang diriwayatkan Anas bin Malik rodhiyallahu 'anhu berkata :

أَنَّ غُلَامًا مِنَ اليَهُودِ كَانَ يَخدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ : أَسلِم . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ لَه : أَطِع أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ . فَأَسلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ : الحَمدُ لِلَّهِ الذِي أَنقَذَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya ada pemuda Yahudi yang melayani Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam Suatu hari dia sakit dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam datang menjenguknya, dan beliau duduk di sebelah kepalanya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkata : Hendaklah kamu masuk Islam. Pemuda tersebut melihat pada bapaknya yang duduk di sebelah kepalanya. Kemudian bapaknya berkata pada pemuda (anaknya) tersebut : Ikutilah Abul Qosim, yaitu Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Kemudian pemuda tersebut masuk Islam dan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam setelah itu keluar seraya berkata : Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka. (HR. Bukhari).”

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.