logo

Meluruskan Pemahaman Orang Yang Melarang Kata Al-Marhum | Konsultasi Muslim



Kata al-Marhum المرحوم berasal dari kata bahasa arab, bentuk nya Isim Maf'ul yang dalam bahasa indonesia di artikan sebagai orang yang dirahmati.

Kata ini sangat tidak asing di tengah-tengah masyarakat Melayu khususnya karna dari sana lah kata ini berasal.

Tapi ada orang-orang yang memang hobinya mencari cari kesalahan kaum muslimin, sampai mereka menanyakan hal ini kepada orang-orang yang bukan berasal dari indonesia dan jawaban nya adalah : Hanya Allah saja yang mengetahui kepastian seseorang itu diampuni atau dirahmati. Karna itu termasuk perkara yang ghoib.

Maka jawaban kami adalah :

Memang betul, apa yang di ucapkan seperti diatas. Akan tetapi, didalam suatu permasalahan kita harus tau dulu tujuan nya apa dan kenapa digunakan hal tersebut? Jadi didalam menghukumi sesuatu maka tidak boleh menghukumi tanpa adanya tabayun terlebih dahulu.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الأمور بمقاصدها

Setiap perkara tergantung tujuannya.

Artinya, setiap sesuatu menjadi baik dan buruk tergantung niat dan tujuan dia melakukannya.

Dan kaum muslimin di Indonesia mengatakan al-Marhum tujuannya adalah untuk mendo'akan orang islam yang sudah meninggal supaya mendapatkan rahmat Allah.Tentunya bukan hanya sekedar gelar saja.

Seharusnya memang kita mengatakan رحمه الله Semoga Allah merahmatinya. Akan tetapi kaum muslimin mengatakan المرحوم yang tujuan do'anya sama, yaitu mereka berdo'a mudah-mudahan Allah merahmatinya, bukan berarti mereka memastikan yang dido'akan sudah pasti dirahmati oleh Allah. Tapi tujuan mereka mudah-mudahan Allah merahmatinya, hanya saja cara melafadzkan nya saja yang berbeda.

Sama halnya dengan kata مبروك dan مبارك dalam ucapan selamat.

Banyak diantara orang arab mengatakan bahwa ketika mengucapkan selamat mereka mengucapkan  مبروك يا أخي padahal jika kita tinjau dari segi ilmu tata bahasanya, kata مبروك tidaklah tepat, karena مبروك artinya yang artinya unta yang menderum. Dan ucapan yang tepat itu adalah مبارك yang artinya selamat atau memberkati.

Sebenarnya ini hanya masalah pengucapan saja dan tergantung kepada kaum muslimin tersebut niatnya apa ketika mengucapkan kata al-marhum? Apakah dia meyakini mayit tersebut sudah pasti dirahmati atau tidak. Jika dia hanya sekedar mendo'akan dan tidak meyakini si mayit tidak pasti dirahmati, namun hanya mendo'akan mudah-mudahan Allah memberkahinya ketika mengucapkanal-marhum, maka tidaklah menyalahi sebagaimana yang dikatakan oleh kelompok yang menyalahkan tersebut.

Dan seorang muslim tentunya tidak boleh langsung berburuk sangka kepada sesama Muslim tanpa adanya Tabayun karna dia tidak tau bagaimana niat orang tersebut.

Dari Umar bin Khattab rodhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan itu dengan niat. Dan Setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan niatnya. (HR. Bukhari dan Muslim).”


Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim, maka kedepankan husnudzon kepada sesama Muslim. Jangan sampai kita menghukumi sesuatu tapi tidak tabayun dan tidak menelitinya terlebih dahulu.

Hal ini hanya perkara Furu'iyyah di dalam agama yang tidak mengeluarkan pelakunya dari islam. Jadi untuk apa menghebohkan perkara yang memang masih banyak perkara yang bermanfaat daripada ini?

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata di dalam kitabnya Jawaabul Kaafi, halaman 156 :

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, maka pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil.

Lebih banyak perkara yang harus dibenahi dan diperhatikan sebenarnya agar kaum muslimin menjadi lebih baik lagi, bukan dengan mengorek-ngorek perkara kecil sehingga menjadi besar. Dan orang seperti ini lah yang termasuk orang yang merugi di akhirat nanti. Dia sibuk mengurus orang lain, tapi dia lupa mengoreksi diri sendiri.

Makanya baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda :

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Dan janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. (HR. Muslim, hadist no. 2563).”

Jangan sampai kita sibuk dengan perkara kecil, lantas melupakan perkara yang besar. Sebagai orang yang mengetahui, hendaklah memotivasi kaum muslimin untuk terus beribadah kepada Allah, bukan malah membuat mereka bingung, ataupun membuat mereka lari dari agama ini.

Jika ada hal yang tidak dipahami dari kaum muslimin, tanyakan terlebih dahulu, jangan menghukumi sesuatu tapi tidak tau tentang perkara tersebut, dan ini tentu kurang tepat di dalam Islam.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.