logo

Keutamaan Menjaga Wudhu, Didoakan Malaikat | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

maaf pak guru mau tanya.

bagaimana hukumnya jika seorang wanita yg sedang haid sllu menjaga whudu. krn sdh terbiasa sllu menjaga whudu.

batal pun langsung berwhudu lg.
jika tdk berwhudu rasanya badan ini panas dan hati terasa tdk tenang.
bahkan pernah dgn ketidak sengajaan tiba2 kesenggol dgn lawan jenis.dalam hati pernah bergumam ya Allah, ini orang gk lihat2 dlu main trobos aja , bahkan orang tersebut juga tdk sengaja.
krn hati sdh bergumam seperti di atas, apakah hrs minta maaf dengan orang trsebut
terima mksh

Dari : Aminah

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

1. Orang yang menjaga wudhu' dido'akan malaikat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdo'a : Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci. (HR. Ibnu Hibban, Hadist no.329).”

Dan beruntunglah seorang Muslim/Muslimah yang selalu menjaga wudhu'nya, dan tidur dalam keadaan menjaga wudhu'nya, kecuali malaikat akan mendo'akan orang yang tidur dalam keadaan suci tersebut.


2. Sahkah wudhu' wanita haid?

Imam an-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab syarah Shahih Muslim jilid 3 halaman 218 :

أما أصحابنا فإنهم متفقون على أنه لا يستحب الوضوء للحائض والنفساء لأن الوضوء لا يؤثر في حدثهما فإن كانت الحائض قد انقطعت حيضتها صارت كالجنب

Adapun para ulama mazhab kami (Syafi'iyyah) sepakat bahwa tidak dianjurkan bagi wanita haid atau nifas untuk berwudhu' (sebelum tidur) karena wudhu'nya tidak berdampak pada statusnya, karena ketika darah haidnya sudah berhenti (sedangkan dia belum mandi suci), hukumnya seperti orang junub.

Ulama mazhab Syafi'i mengatakan bahwa apabila wanita haid berwudhu', maka tidak akan berpengaruh apa-apa dari dirinya. Karena wudhu' bisa menyucikan seseorang dari hadas, sementara wanita tersebut masih dalam keadaan haid. Bagaimana mungkin wudhu' bisa menyucikan seseorang sementara darah haidnya masih keluar. Maka hal ini tidak dianjurkan oleh para ulama mazhab Syafi'i.

3. Apakah harus meminta maaf kepada seseorang apa yang tebesit didalam hati?

Sesuatu yang terbesit didalam hati atau pikiran, maka dimaafkan didalam Islam, selama dia tidak melakukan apa yang terbesit didalam pikiran atau hatinya tersebut.

Imam an-Nawawi rohimahullah di dalam kitab al-Adzkar halaman 296 :

فأما الخواطر، وحديث النفس، إذا لم يستقر ويستمر عليه صاحبه فمعفو عنه باتفاق العلماء، لانه لا اختيار له في وقوعه، ولا طريق له إلى الانفكاك عنه وهذا هو المراد بما ثبت في الصحيح عن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) أنه قال: إن الله تجاوز لامتي ما حدثت به أنفسها ما لم تتكلم به أو تعمل

Dan adapun angan-angan yang lewat di benak seseorang dan bisikan di dalam hati bila tidak tetap atau tidak ditetapkan oleh yang bersangkutan maka itu dimaafkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Karena, lalu lalang angan-angan (khawatir) itu bukan pilihan kita. Tiada jalan untuk melepaskan diri. Ini yang dimaksud dalam sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : "Sungguh, Allah memaafkan umatku atas ucapan yang terbersit di dalam dirinya selagi tidak diutarakan atau diamalkan.

Apakah harus meminta maaf kepadanya?

Tidak meminta maaf, maka tidak mengapa karena itu bukan ghibah dan sebagainya, tapi hanya lintasan yang terbesit di dalam benak yang sifatnya sementara.

Hanya saja memang kita juga sekiranya meminta maaf, mungkin bukan hanya karena kesalahan itu saja, mana tau ada kesalahan-kesalahan yang lain juga. Lebih-lebih sering bertemu dengan orang yang bersangkutan. Jadi jika dia meminta maaf, maka itu lebih baik, tidakpun, maka dimaafkan insyaAllah dan dia tidak mendapatkan dosa, karena itu hanya sebuah lintasan yang terbesit didalam pikirannya atau hatinya, dan sifatnya sementara.

Semoga bisa dipahami.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.