logo

Hukum 3 Kepala Keluarga Berkumpul dalam Satu Rumah Menurut Islam | Konsultasi Muslim




Pertanyaan :

Bismillah. Asalamualaikum ust. Saya mau tanya. Jika dalam 1 rumah tinggal 3 org kepala rumh tangga itu tidak boleh, dan salah 1 dari 3 kpla rumh tangga itu bisa menimbulkan celaka. Apakah itu benar ustadz?


Dari : Serly Ana

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى    melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp


Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.


Keyakinan seperti ini tidaklah benar dan ini pernyataan yang batil yang tidak ada dasarnya sama sekali dari Al-Qur'an maupun Hadist Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.


Dan sebagai seorang muslim hendaklah kita terus belajar dan juga bertanya seperti sekarang ini terhadap sesuatu yang tidak diyakini, untuk menyelamatkan kita dari sesuatu yang bisa merusak aqidah kita.


Apalagi misalnya dengan tinggal 3 kepala keluarga bisa mendatangkan mudorot, tentunya hal ini bisa merusak aqidah kita kepada Allah. Padahal, tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat dan mudorot kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Allah berfirman :


قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ


“Katakanlah : Aku tidak berkuasa menarik kemanfa'atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudhorotan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-Araf : 188).


Jadi, jangan meyakini akan datang celaka jika 3 kepala keluarga berkumpul dalam satu rumah. Ini adalah mitos yang tidak ada dasarnya sama sekali. Jangan Hadist shahih, di Hadist maudu' (palsu) sekalipun hal ini belum tentu ada Hadist yang menerangkan tentang masalah ini. Dan juga jangan menganggap sial sesuatu, misalnya dia berkeyakinan : "Kesialan ini terjadi karena 3 kepala keluarga berkumpul dalam satu rumah".


Nah, menganggap sial sesuatu juga tidak boleh. Dan menganggap sial karena sesuatu itu juga syirik, karena meyakini sesuatu bisa mendatangkan manfaat dan mudorot.Dan dia berkeyakinan selain Allah bisa mendatangkan manfaat dan mudorot. Dan ini tentunya dilarang di dalam Islam.


Dari Abdullah bin Mas'ud meriwayatkan hadist secara marfu' (Hadistnya sampai) kepada Rasulullah :


الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ. ثَلاَثًا وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.


“Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas'ud berkata : Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal. (HR. Abu Daud, hadist no. 3910).


Semoga Allah menyelamatkan kita semua dan anak cucu kita nantinya dari rusaknya aqidah kepada-Nya. Dan semoga Allah memudahkan segala urusan kita, serta melapangkan rezeki kita, serta melancarkan rezeki kita sebagaimana kurma yang tak henti-hentinya berbuah. Aamiin Ya Allah Ya Robbal 'Aalamiin.


Semoga bisa dipahami.


Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.