logo

Kapan Suami Boleh Mendekati (Menjima') Istrinya setelah Haid? | Konsultasi Muslim



Kapan suami boleh mendekati (menjima') istrinya setelah haid?

Allah berfirman :

وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَۚفَاِ ذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّا بِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertubat dan menyukai orang yang menyucikan diri. (QS. Al-Baqarah : 222).”

Syekh Muhammad Ali as-Shobuni rohimahullah berkata di dalam kitab tafsir Rowaai'ul Bayaan aayat Ahkaam minal Qur'an jilid 1 halaman 281 :

على أنه لا يحل للرجل قربان المرأة في حالة الحيض حتى تطهر، وقد اختلف الفقهاء في الطهر ما هو؟

Ayat ini adalah dalil bahwa tidak dihalalkan bagi suami mendekati (menjima') istrinya dalam keadaan haid hingga dia suci.

Para ulama berbeda pendapat tentang arti suci. Dan mengenai ini ada 3 pendapat Ulama :

1. Pendapat Imam Abu Hanifah.

فذهب أبو حنيفة إلى أن المراد بالطهر انقطاع الدم، فإذا انقطع دم الحيض جاز للرجل أن يطأها قبل الغسل، إلا أنه إذا انقطع دمها لأكثر الحيض وهو (عشرة أيام) جاز وطؤها قبل الغسل، وإن كان انقطاعه قبل العشرة لم يجز حتى تغتسل أو يدخل عليها وقت صلاة

Imam Abu Hanifah berkata bahwa arti suci disini adalah terputusnya (tidak mengalir) darah, apabila darah haidnya tidak mengalir lagi, maka boleh bagi suami menjima' istrinya sebelum istrinya mandi wajib. Dengan syarat darah haidnya tidak mengalir diatas 10 hari. Dan jika darahnya tidak mengalir sebelum 10 hari, maka belum boleh menjima' nya sampai istrinya mandi wajib, atau masuk waktu shalat (selesai haid).

Kenapa Imam Abu Hanifah mensyaratkan harus 10 hari?

Karena Imam Abu Hanifah berpendapat wanita paling lama haidnya selama 10 hari.

2. Jumhur (Mayoritas) ulama.

وذهب الجمهور (مالك والشافعي وأحمد) إلى أن الطهر الذي يحل به الجماع، هو تطهرها بالماء كطهور الجنب، وأنها لا تحل حتى ينقطع الحيض وتغتسل بالماء

Dan Jumhur (Mayoritas) ulama (Imam Malik, Syafi'i dan Ahmad) berkata bahwa suci itu, halal baginya untuk menjima' istrinya. Yaitu setelah istrinya mensucikan dirinya dengan air seperti mandi junub, dan tidak halal bagi suaminya menjima' istrinya sampai darah haid istrinya tidak mengalir lagi dan setelah istrinya mandi seperti mandi junub.

3. Pendapat Thowus dan Mujahid.

وذهب طاوس ومجاهد إلى أنه يكفي في حلها أن تغسل فرجها وتتوضأ للصلاة

Thowus dan Mujahid berpendapat bahwa wanita apabil telah suci, cukup baginya mencuci kemaluannya dan berwudhu' seperti berwudhu' untuk shalat, dan boleh setelah itu boleh di jima' oleh suaminya.

Dan seorang suami hendaklah memperhatikan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan fiqih dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan rumah tangga, agar tidak sembarangan melaksanakan sesuatu. Karena terkadang seorang muslim menganggap apa yang dia kerjakan itu baik, padahal didalam Islam melarang hal tersebut.

Maka dari itu, baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepada ummatnya agar menuntut ilmu, karena dengan menuntut ilmu bisa membedakan antara yang haq dan batil, dan dengan menuntut ilmu bisa mengantarkan diri kita menuju surga Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kenapa? Karena orang yang berilmu mengerjakan sesuatu sesuai dengan ilmu yang dia miliki. Maka dari itu dia bisa memilah dan memilih yang baik dan buruk, sehingga dia terhindar dari murka Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim, hadist no. 2699).”

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.