logo

Kaffaroh bagi yang menyetubuhi Istrinya ketika haid | Konsultasi Muslim



Para ulama sepakat mengharamkan menyetubuhi istri ketika dalam keadaan haid, dan para ulama berbeda pendapat apa yang diwajibkan baginya setelah melakukan itu.

 

Syekh Muhammad Ali As-Shobuni rohimahullah berkata di dalam kitab Tafsir Rowaai'ul Bayaan Ayat Ahkaam Minal Qur'an jilid 1 halaman 280,

 

 

1. Pendapat jumhur ulama : Dia meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada Allah.

 

 

فقال الجمهور : (مالك والشافعي وأبو حنيفة) : يستغفر الله ولا شيئ عليه سوى التوبة والاستغفار، لأنه معصية كسائر المعاصي، تحتاج إلى توبة واستغفار

 

Jumhur (mayoritas) ulama (Imam Malik, Imam Syafi'i dan Imam Abu Hanifah) berkata : "Dia meminta ampun kepada Allah, dan tidak ada satupun yang dia lakukan selain bertaubat dan beristighfar. Karena maksiat yang dia lakukan seperti kemaksiatan yang lain pada umumnya, dan membutuhkan taubat dan istighfar.

 

 

2. Pendapat Imam Ahmad : Dia bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar.

 

 

وقال أحمد : يتصدق بدينار أو نصف دينار، لحديث ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم في الذي يأتي امرأته وهي حائض قال : يتصدق بدينار أو نصف دينار

 

Imam Ahmad berkata : Dia bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar, berdasarkan hadist Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menyebutkan orang yang mendatangi istrinya ketika haid. Rasulullah Bersabda : Dia bersedekah dengan satu dinar atau dengan setengah dinar. (HR. At-Tirmidzi, hadist No. 136).

 

Syekh Muhammad Ali As-Shobuni menuqil pendapat Imam Al-Qurtubi rohimahullah :

 

حجة من لم يوجب عليه كفارة إلا الاستغفار والتوبة هذا الحديث عن ابن عباس، قال : ومثله لاتقوم به حجة، وأن الذمة على البراءة

 

Hujjah bagi orang yang tidak mewajibkan baginya kaffaroh kecuali istighfar dan taubat, hadist ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata : Dan semisalnya tidak memerlukan alasan, dan bahwa  hukum asal itu terbebas dari tanggungan.

 

Maka dari itu seorang muslim haruslah memperhatikan perintah dan larangan di dalam Islam. Dan tentunya dia juga harus menuntut ilmu agama agar mengetahui perintah dan larangan Allah tersebut.

 

Bisa belajar langsung di sekolah, secara formal maupun non formal. Dan di zaman yang serba canggih ini tidak ada alasan lagi untuk tidak menuntut ilmu, karena semuanya serba online dan sudah disediakan untuk dipelajari. Tinggal lagi manusianya, mau membaca dan belajar atau tidak.

 

Semoga kita semua tidak lelah untuk belajar, membaca dan bertanya, agar wawasan bertambah dan agar bisa membedakan mana perintah dan mana larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.

Oldest Page