logo

Hukum Wanita Haid Menulis Do'a-do’a Yang Berasal dari Al-Qur’an | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamu'alaikum ustadz,  bagaimana dengan hukum wanita haid yg menulis ayat al-qur'an atau tulisan arab seperti do'a-do'a? Apa diperbolehkan atau tidak?

Syukron ustadz.

Dari : Annisa

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Seorang wanita haid boleh baginya menulis do'a-do'a yang ada di dalam Al-Qur'an di kertas.

Imam An-Nawawi berkata di dalam kitabnya at-Tibyan fii Aadaabi Hamalatil Qur'an halaman 59 :

قال أصحابنا الخراسانيون : ويجوز أن يقولا عند ركوب الدابة : (سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ) [الزخرف : ١٣] وعند الدعاء (رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) [البقرة : ٢٠١] إذا لم يقصد القراءة

Ulama mazhab kami (Syafi'iyah) dari Khurosan berkata  : Dan boleh bagi keduanya (wanita haid dan orang yang junub) berdo'a ketika mengendarai hewan : (do'a dalam perjalanan) : "Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. (QS. Az-Zukhruf : 13). Jika dia tidak bermaksud membaca ayat Al-Qur'an, maka diperbolehkan. Begitu juga ketika dia membaca do'a : (Do'a agar selamat dunia dan akhirat) : "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah : 201). Jika dia tidak bermaksud membaca ayat Al-Qur'an, tapi hanya sekedar bermaksud membaca do'anya.

Menurut mazhab Syafi'i di atas, bahwa membaca do'a yang ada di dalam Al-Qur'an dibolehkan, asalkan tidak dimaksudkan membaca Al-Qur'an, akan tetapi hanya bermaksud membaca do'anya saja, yang kebetulan do'a tersebut berasal dari Al-Qur'an, maka hukum membacanya boleh.

Begitu pula jika wanita haid menulis do'a-do'a yang misalnya do'a-do'a tersebut berasal dari Al-Qur'an, jika dia hanya bermaksud menulis do'anya saja tanpa bermaksud menulis ayat-ayat Al-Qur'an, maka boleh hukumnya, walaupun do'a-do'a yang dia tulis tersebut berasal dari ayat-ayat Al-Qur'an, tapi ketika dia tidak bermaksud menulis ayat Al-Qur'an, namun hanya sekedar menulis do'a-do'a, yang kebetulan do'a-do'a tersebut berasal dari Al-Qur'an, maka hukumnya boleh. Tidak mengapa insyaAllah.

Dan ini sama halnya dengan yang dikatakan Imam An-Nawawi di atas tentang bolehnya wanita haid dan orang yang junub membaca do'a-do'a yang berasal dari Al-Qur'an, asalkan maksudnya bukan membaca Al-Qur'an, tapi hanya membaca do'a-do'a saja, yang kebetulan do'a-do'a tersebut berasal dari Al-Qur'an.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الامور بمقاصدها

Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.

Jadi kesimpulannya adalah bolehnya bagi wanita haid menulis do'a-do'a yang berasal dari Al-Qur'an, dengan syarat dia tidak bermaksud menulis ayat-ayat Al-Qur'an, tapi hanya sekedar menulis do'a-do'a, yang kebetulan berasal dari ayat-ayat Al-Qur'an.

Bagaimana jika do'anya berasal dari Hadist Ustadz?

Boleh hukum menulisnya. Karena hadist tidak sama dengan Al-Qur'an.

Karena membaca hadist tidak disyaratkan bersuci seperti membaca Al-Qur'an, begitu juga menyentuh kitab hadist tersebut. Dan tidak ada dalil yang menerangkan bahwa membaca dan memegang kitab Hadist harus berwudhu' terlebih dahulu atau harus dalam keadaan suci.

Jadi, hukumnya boleh insyaAllah.

Semoga bisa dipahami.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.