logo

Hukum Uang Panai di dalam Islam | Konsultasi Muslim



Sudah menjadi tradisi di masyarakat kita, apabila menetapkan sesuatu sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu.

Bagaimana Islam memandang kebiasaan masyarakat?

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

العُرْفُ وَالْعَادَةُ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي كُلِّ حُكْمٍ حَكَمَ بِهِ الشَّارِعُ, وَلَمْ يَحُدَّهُ بِحَدٍّ

Urf dan kebiasaan dijadikan pedoman pada setiap hukum dalam syari'at yang batasannya tidak ditentukan secara tegas.

Di dalam qoidah lain disebutkan :

العادات محكمة

Kebiasaan bisa menjadi landasan hukum

Dengan syarat tidak bertentangan dengan syari'at Islam.

Uang hantaran (seserahan), uang panai, uang asap dan sebagainya adalah tradisi masyarakat Indonesia. Di mana tradisi seperti uang panai masyarakatnya menetapkan uang panai yang begitu mahal untuk calon suaminya. Seperti misalnya S1 100 juta, S2 150 juta, dokter 200 juta dan sebagainya. Sehingga banyak anak muda yang akhirnya takut untuk menikah karena biayanya yang terlalu mahal.

Ada sebuah ungkapan menyebutkan : "Jika mahar mahal, maka zina akan menjadi legal".
Mahalnya mahar bisa membuat anak-anak muda bisa berbuat zina dan sebagainya karena pernikahan yang dipersulit.

Sedangkan Islam mempermudah seorang Muslim untuk menikah, bukan mempersulit. Karena nikah itu Sunnah. Tujuan nikah adalah menghalalkan sesuatu yang sebelumnya Allah haramkan. Dan untuk menyempurnakan separoh agama, jadi ketika pernikahan dipersulit, maka boleh jadi zina akan merajalela. Sedangkan sebaik-baik pernikahan itu yang paling mudah maharnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ النِّكَاحِ أَيْسَرُهُ

“Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah. (HR. Abu Daud, hadist no. 2117).”

Artinya jika tau pernikahan itu untuk menyempurnakan separoh dari agama, untuk apa dipersulit.

Saat orang tua meninggikan mahar anaknya, ini harus dikaji ulang, tujuannya apa? Jangan hanya karena uang tersebut untuk orang tua, malah mempersulit anak untuk menikah. Padahal terkadang yang datang orang yang sholeh.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ أَنْ تَتَيَسَّرَ خِطْبَتُهَا وَأَنْ يَتَيَسَّرَ صَدَاقُهَا وَأَنْ يَتَيَسَّرَ رَحِمُهَا

“Termasuk berkahnya seorang wanita, yang mudah khitbahnya (melamarnya), yang mudah maharnya, dan yang mudah memiliki keturunan. (HR. Ahmad, Hadist No. 77).”

Nah, jika syari'at Islam mempermudah mahar, tapi adat mempersulit mahar dan harus membayar uang panai yang begitu tinggi, maka ini bisa menyalahi syari'at Islam.

Memang pada hakikatnya mahar bisa ditetapkan berapapun, akan tetapi jika mahar bisa dipenuhi oleh sang lelaki, tapi uang panai begitu tinggi sehingga tidak bisa dibayar uang panainya, maka dia juga akan mundur karena tidak bisa membayar uang panainya. Jadi inikan mempersulit yang di sunnahkan oleh baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Jika yang termasuk rukun dan yang wajib dipenuhi itu mahar, maka seharusnya orang tua akan longgar untuk masalah uang panai. Bukan mamatok dengan harga yang sangat tinggi.
Jangan mempersulit yang disunnahkan, jangan melarang anak untuk menyempurnakan agamanya dengan mamatok harga panai yang tinggi.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Bersabda :

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah dan jangan persulit, berilah buatlah mereka gembira dan jangan buat mereka lari. (HR. Muttafaq 'Alaih).”

Maka dari itu, jangan sampai syari'at Islam mempermudah, tapi adat menyulitkan.
Jika ada adat bertentangan dengan syari'at Islam, maka ikuti syari'at Islam dan tinggalkan adat.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.