logo

Hukum Selamatan Kehamilan 7 Bulanan Janin di dalam Kandungan | Konsultasi Muslim



Semakin berubah zaman, maka semakin banyak pula lah permasalahan-permasalahan yang baru, di mana permasalahan tersebut terkadang tidak dijumpai di zaman sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in dan juga tidak dikenal di zaman murid-muridnya ulama-ulama mazhab di zamannya.

 

Hanya di zaman kita inilah permasalahan itu muncul dan berkembang dan kemudian menjadi adat (kebiasaan) di suatu daerah. Seperti misalnya "Acara Selamatan Janin 4 Bulanan atau 7 Bulanan Janin di dalam Kandungan". Biasanya hal ini diamalkan oleh orang-orang Jawa. Dan dijadikan hal ini sebagai adat bahkan ada juga yang menganggap ini sebagai suatu tradisi yang tidak mungkin ditinggalkan.

 

Isinya membuat pengajian dengan mendatangkan ustadz, kiyai ataupun semisalnya. Serta mengundang masyarakat tersebut untuk datang dan kemudian diakhiri berdo'a dan makan bersama.

 

Lalu bagaimana Islam memandang perkara Ini?

 

Allah berfirman :

 

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ

 

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. (QS. Al-A'raf : 3).

 

Seperti yang kita ketahui bahwa yang menjadi panutan kita di dalam beragama adalah baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sebagai seorang Muslim, hendaklah kita mentaati Allah dan Rasulnya.

 

Memang, acara selamatan 4 bulanan atau 7 bulanan dibuat oleh para ulama dengan tujuan untuk mendo'akan bayi yang ada di dalam kandungan tersebut, seperti agar selamat, sehat, rupa yang baik, dan sebagainya. Tentunya permintaan ini sesuatu yang bagus, dan berdo'a untuk sang bayi merupakan sesuatu yang bagus juga.

 

Akan tetapi alangkah lebih baiknya tidak kita laksanakan, karena berdo'a tidak diharuskan mengumpulkan orang banyak, cukup ayah dan ibunya saja kemudian keluarga minta dido'akan supaya selamat dan tidak kurang satu apapun. Tidak perlu acara selamatan 4 bulanan atau 7 bulanan dengan mengeluarkan biaya yang lumayan besar. Dan tentunya jika dia membuat cara selamatan, biaya tersebut bisa diarahkan untuk proses kelahiran sang bayi nanti nya. Dan uangnya bisa disimpan.

 

Secara hukum, memang hukum selamatan tidak lah berdosa, karena tidak ada dalil khusus yang melarang nya. Dan karena tidak ada dalil khusus yang melarang nya, maka kembali ke hukum asalnya yaitu boleh.

 

Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :

 

الأصل في الأشياء الإباحة حتي يدل الدليل علي تحريمه

 

Asal hukum dari segala sesuatu adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

 

Dan berdo'a dan makan bersama pada asalnya, hukumnya boleh.

 

 

Kapan berdo'a dan makan bersama dilarang di dalam Islam?

 

Yaitu ketika ada acara di dalamnya sesuatu yang melanggar syari'at Islam, seperti menyediakan minuman keras, menyediakan makanan yang haram ataupun ada perbuatan yang menyalahi syari'at Islam. Itulah baru bisa dikatakan haram.

 

Akan tetapi, jika kumpul-kumpul selamatan yang isi di dalamnya berdo'a dan makan bersama tidak ada unsur yang melanggar syari'at, maka hukumnya kembali kepada hukum asal, yaitu boleh.

 

Dan juga tidak ada batasan dalam berdo'a. Allah berfirman :

 

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

 

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah : 186).

 

Nah, kita diperintahkan untuk berdo'a kapanpun dan dimanapun. Apalagi dengan mengundang masyarakat banyak, tentunya lebih bagus lagi, kenapa? Karena kita menampakkan rasa gembira kita dengan nikmat yang Allah berikan berupa karunia bayi, dan semakin banyak yang mengaminkan tentunya akan semakin bagus. Dan Rasulullah sendiri mengatakan jika diundang ke suatu jamuan, maka beliau akan menghadirinya.

 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 

لَوْ دُعِيتُ إِلَى كُرَاعٍ لَأَجَبْتُ

 

Seandainya aku diundang untuk jamuan makan sebesar satu satu paha belakang (kambing), pasti akan aku penuhi. (HR. Bukhari, hadist no. 5178).

 

Kapan sesuatu yang baru itu dianggap bid'ah yang sesat?

 

Imam Al-Hafizh Al-Baihaqi berkata di dalam kitab Manaqib al-Imam Asy-Syafi'i. Beliau mengatakan bahwa Imam Syafi'i berpendapat bahwa bid'ah itu terbagi menjadi 2 macam. Ada yang sesat dan ada yang tidak.

 

Beliau rohimahullah berkata :

 

اَلْمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ : مَا أُحْدِثَ مما يُخَالِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أثرا أوإِجْمَاعًا فَهذه بِدْعَةُ الضَّلالِ وَمَا أُحْدِثَ من الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهذه مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ.

 

Sesuatu yang baru (muhdats) itu ada dua : Sesuatu yang baru dikerjakan yang bertentangan dengan Al-Qur'an, Sunnah, atsar, atau ijma', maka ini adalah bid'ah yang sesat. Sementara sesuatu baru yang baik yang tidak bertentangan dengan sedikitpun dari hal itu maka ini adalah bid'ah yang tidak jelek. (Manaqib al-Imam Asy-Syafi'i, jilid 1 halaman 469).

 

Maka jelas dan teranglah bahwa di dalam selamatan itu berdo'a dan berkumpul bersama dan diakhiri dengan makan bersama sebagai suatu bentuk rasa syukur orang tua sang bayi atas karunia yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan secara hukum syari'at tidak bisa dihukumi bid'ah yang sesat, karena tidak ada satupun ritual yang bertentangan dengan yang 4 di atas atau tidak ada yang bertentangan dengan syari'at Islam.

 

Namun yang perlu digaris bawahi dan di ingatkan adalah, yang lebih baiknya adalah tidak mengerjakan hal itu. Kenapa? Karena uang yang diperuntukkan untuk acara itu bisa ditabung ataupun untuk proses kelahiran sang bayi nanti kalau sudah sampai waktunya.

 

Tinggal lagi urusan mendo'akan, cukuplah dengan menyampaikan dari mulut ke mulut agar dido'akan supaya anak tersebut selamat, sehat dan tidak kurang satu apapun dari tubuhnya ketika dilahirkan didunia ini.


Semoga bermanfaat.

 

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.