logo

Hukum Pawai Obor 1 Muharram dilarang? Benarkah? | Konsultasi Muslim




Pertanyaan :

Assalamu'alaikum ustadz mau tanya apa hukumnya memperingati 1 muharram dengan pawai dijalanan membawa obor? Soalnya tadi baca postingannya temen yg mengatakan bahwa mereka yg ikut pawai obor telah merebut hak orang lain atas jalan yg di penuhi, malah tidak bermanfaat. Begitu katanya ustadz. Mohon pejelasannya.

Dari : Diana

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

1. Pawai obor hukumnya mubah (boleh), karena termasuk perkara mu'malah. Dan di dalam qoidah fiqih disebutkan:

الأصل في الأشياء الإباحة

Asal hukum segala sesuatu (dalam perkara Mu'malah) adalah boleh.

Sampai ada dalil yang mengharamkannya. Dan dalil larangan pawai obor untuk memperingati hari besar Islam tidak ada.

2. Adapun sebelum melaksanakan pawai obor, maka pihak-pihak yang melaksanakannya agar meminta izin kepada RT setempat sebagai pengelola ditempat tersebut. Agar jika ada terjadi sesuatu diselesaikan oleh pihak yang bersangkutan.

Sebuah qoidah ushul fiqh Menyebutkan :

ما ورد به الشرع مطلقا ولا ضابط له فيه ولا فى فى اللغة يرجع فيه الى العرف

Sesuatu yang berlaku mutlak karena syara' dan tanpa adanya yang membatasi didalamnya dan tidak pula dalam bahasa, maka segala sesuatunya dikembalikan kepada kebiasaan (Al-Urf) yang berlaku.

Artinya begini, pawai obor itu bagian dari adat kita di Indonesia dan hal itu diperbolehkan oleh pemerintah Indonesia. Ketika pemerintah sudah membolehkan otomatis sudah ada izin dari atasan.

Ada sebuah qoidah lagi menyebutkan :

الرضى بالشيء رضى بما يتولد منه

Rela akan sesuatu berarti rela dengan konsekuensinya.

Nah, jika pemerintah membolehkan nya, berarti siap dengan konsekuensi yang ditimbulkan karena pawai obor tersebut. Apa itu? yaitu macet dan mengambil sebagian jalan untuk digunakan sebagai pawai obor dalam rangka memperingati hari besar Islam. Nah, hukumnya bukan mengambil hak orang lain karena sudah mendapatkan izin dan ridho dari pemerintah.

Jalan itu bukan punya pribadi, tapi punya pemerintah. Jadi jika dibolehkan, tidak ada yang namanya merebut hak orang lain. Lagian, berapa lama sih acaranya berlangsung, setelah itu tidak ada lagi dilakukan kecuali tahun depannya.

Maka dari itu, petuah orang tua dahulu (orang Melayu) berkata :

"Duduk bersama itu lapang, duduk sendiri itu sempit."

Rupanya kesempitan hatilah yang membuat kita seperti itu. Maka jangan pernah berfikir untuk diri sendiri. Karena jika berfikir untuk diri sendiri hati akan menjadi sempit. Duduklah bersama, insyaAllah akan menjadi lapang.

Mungkin yang melakukan pawai obor hanya beberapa menit, kenapa kok merasa dirugikan hanya gara-gara itu?

Maka dari itu hati perlu ditata. Karena hati menentukan baik buruknya akhlak kita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika dia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika dia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa dia adalah hati (jantung). (HR. Bukhari, hadist no. 52).”

InsyaAllah, apa yang dia katakan seperti diatas tidaklah benar karena ini adalah urf (tradisi) dan sudah diizinkan oleh pemerintah setempat.

Semoga bermanfaat.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.