logo

Hukum Wanita Mengajukan Syarat Sebelum Menikah | Konsultasi Muslim



Syarat-syarat yang manfaat dan kepentingannya kembali kepada perempuan, seperti syarat lelaki tidak boleh mengeluarkan perempuan tersebut dari rumahnya atau dari negerinya, atau tidak bepergian bersamanya atau lelaki tidak menikah untuk kedua kalinya selama dia masih mampu melayaninya, maka para ulama berbeda pendapat tentang pernikahan bersyarat seperti ini.

Sebagian ulama tidak membolehkan hal tersebut disebabkan syaratnya tersebut tidak tertulis di dalam Al-Qur'an dan Hadist dan cenderung mengharamkan yang halal. Dan lelaki tidak harus mentaatinya dan tidak harus setia. Adapun sebagian ulama lainnya menganggap nya sebagai sesuatu yang dibolehkan karena manfaat dan faedah-nya itu kembali kepada perempuan. Dan wajib setiap atas apa yang disyaratkan perempuan itu. Jika tidak setia, maka pernikahannya menjadi fasakh (putus) pernikahannya.

Dan mengenai nikah bersyarat ada 2 pendapat para ulama :

Di dalam kitab Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq rohimahullah, jilid 2 halaman 298 disebutkan :

1. Mazhab Syafi'i dan Hanafi dan banyak dari ahli ilmu mengatakan bahwa pernikahan bersyarat tidak boleh.

Dalil para ulama di atas adalah :

1. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

المسلمون على شروطهم، إلا شرطا أحل حراما أو حرم حلالا

“Kaum muslimin itu harus mentaati syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Abu Dawud, hadist no. 3594).

Sayyid Sabiq berkata, para ulama menjelaskan :

وهذا الشرط الذي اشترط يحرم الحلال، وهو التزوج والتسري والسفر وهذه كلها حلال

Syarat-syarat yang disyaratkan ini sama saja mengharamkan yang halal, seperti tidak menikah lagi, menahan diri untuk tidak keluar, dan tidak safar (bepergian). Maka yang semua ini adalah halal.

2. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

كل شرط ليس في كتاب الله فهو باطل وإن كان مائة شرط

“Setiap syarat yang bukam berasal dari Kitabullah (Al-Qur'an atau Hadist), maka batil sekalipun 100 syarat.” (HR. Ahmad, hadist no. 213).

3. Para ulama di atas mengatakan :

قالوا : إن هذه الشروط ليست من مصلحة العقد ولا مقتضاه

Para ulama berkata : "Sesungguhnya syarat-syarat ini tidak ada kepentingannya didalam akad dan tidak diperlukan".

2. Mazhab Umar bin Khattab, Sa'ad bin Abi Waqqosh, Mu'awiyah, Amr bin Ash, Umar bin Abdul Aziz, Jabir bin Zaid, Thowus, Al-Auza'i, Ishaq, dan mazhab Hambali mereka membolehkan nikah dengan syarat-syarat seperti di atas.

Dalil ulama diatas yang membolehkan adalah :

1. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” (QS. Al-Maidah : 1).

2. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

المسلمون على شروطهم

Kaum muslimin harus menatati sesuatu yang telah disepakati bersama. (HR. Abu Dawud, hadist no. 3594).

3. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أحق الشروط أن يوفى به ما استحللتم به الفروج

“Persyaratan yang berhak untuk dipenuhi adalah persyaratan yang diajukan untuk melanjutkan pernikahan.” (HR. Bukhari, hadist no. 2721).

Ibnu Qudamah berkata sebagaimana yang di nuqil oleh Sayyid Sabiq :

مرجحا هذا الرأي ومفندا الرأي الأول : إن قول من سمينا من الصحابة، لا نعلم له مخالفا في عصرهم، فكان إجماعا

Yang paling roojih (kuat pendapat nya) adalah pendapat ini (pendapat kedua). Dan menyangkal untuk pendapat yang pertama. Sesungguhnya pendapat kami apa yang disandarkan dari pendapatan sahabat. Tidak kami dapati perbedaan pendapat pada masa mereka (sahabat), dan itu merupakan Ijma' (kesepakatan ulama). (Fiqhus Sunnah, jilid 2 halaman 299).

Beliau melanjutkan :

وقولهم : إن هذا يحرم الحلال، قلنا : لايحرم حلالا، وإنما يثبت للمرأة خيار الفسخ إن لم يف لها به.

Dan mereka berkata : "Sesungguhnya ini mengharamkan yang halal, kami berkata : tidak mengharamkan yang halal, hanya saja menetapkan bagi wanita itu pilihan fasakh (memutuskan pernikahan) jika lelaki tersebut tidak setia kepada syarat-syarat yang telah diajukannya".

Nah, sebagai seorang penuntut ilmu kita dipersilahkan memilih pendapat yang menurut kita lebih tepat dan sesuai dengan dalil dan sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Jika sekiranya syarat-syarat seperti di atas memberatkan bagi lelaki, maka jangan diajukan, akan tetapi jika lelaki tersebut setuju, maka silahkan saja ajukan syarat-syarat nya. Akan tetapi tidak dengan memaksa harus memenuhi syarat-syarat di atas. Dan tentunya syarat-syarat diatas disepakati sebelum aqad, atau di Indonesia ketika hari dan tanggal pernikahan mau ditetapkan.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.