logo

Hukum Menggugurkan Kandungan Karena Jahitan Caesar Belum Sembuh | Konsultasi Muslim




Sebagian wanita di luar sana banyak yang melahirkan bayi secara sesar, dan tentunya mereka merasakan sakit karena perutnya dibelah. Dan lama sembuh setelah dijahit biasanya sampai 2 tahun lamanya. Jadi selama itu dia dilarang oleh dokter untuk mengandung sebelum jahitan di perutnya sembuh.

Karena jika dia mengandung sementara jahitan caesar di perutnya belum sampai 2 tahun, maka janin yang terus berkembang didalam perutnya akan bisa membahayakan nyawanya. Dan mungkin di antara wanita di luar sana bertanya tanya hukum menggugurkan kandungan nya itu dan takut untuk menggugurkan kandungan nya karena sama saja membunuh janin didalam perutnya.


Yang harus dibahas pertama kali adalah :


Apabila kita di dalam hutan tidak punya apa-apa, bekal habis, sementara ada didepan kita seekor babi, apa yang harus kita pilih? Pilih mati saja atau pilih memakan babi? IsIam memerintahkan untuk memakan yang ada terlebih dahulu sebelum mendapatkan makanan halal. Tidak boleh mati.


Allah berfirman :


وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ


“Dan Allah sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS. Al-Hajj : 78).”


Begitu juga dengan wanita yang melahirkan secara secar, dan dia kembali hamil, padahal jahitan di perutnya belum sampai 2 tahun, jika dia teruskan hamilnya ini akan mengancam nyawanya sendiri. Maka pada kondisi seperti ini dia diperbolehkan menggugurkan nya untuk menyelamatkan nyawanya.


Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :


الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المحْظُوْرَات


Dalam keadaan darurat membolehkan suatu yang terlarang.


Nah, dalam hal menggugurkan kandungan diatas termasuk kedalam darurat, karena bisa membahayakan nyawa wanita yang mengandung tersebut. Dan hukumnya boleh.


Sebuah qoidah menyebutkan :


لا محرم مع اضطرار ولا واجب مع عدم اقتدار


Tidak ada keharaman ketika dalam kondisi darurat, tidak ada kewajiban saat tidak mampu.


Pada dasarnya hukum menggugurkan kandungan itu dilarang, namun karena ada udzur syar'i, maka diperbolehkan di dalam Islam. Dan di dalam ilmu ushul fiqh hal itu dinamakan al-Maslahah al-Mursalah, yaitu mengambil manfaat dan menolak datangnya kemudorotan.


Jadi, sebelum kemudorotan itu muncul, maka kita cegah terlebih dahulu, kita berusaha menyelamatkan sang ibu yang sedang mengandung tersebut terlebih dahulu sebelum dia terkena mudorotnya.


Sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :


درء المفاسد مقدم على جلب المصالح


Menolak datangnya kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.


Loh ustadz, bukankah kematian itu di tangan Allah?


Betul sekali, tapi jika kita hanya pasrah begitu saja tanpa ada usaha untuk mencegahnya, maka selamanya akan tetap seperti itu. Sedangkan Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mengubah nasib hamba tersebut.


Allah berfirman :


إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ


“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra'd : 11).”


Tawakal itu setelah mengikat kuda, begitu disebutkan di dalam hadist Rasulullah, bukan melepaskan kuda begitu saja kemudian bertawakal kepada Allah. Tentu ada usaha terlebih dahulu agar mudorot tidak datang, barulah setelah itu kita serahkan segala urusan kepada Allah.


Semoga bermanfaat.


Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.