logo

Hukum Mengadopsi Anak di dalam Islam, Bolehkah? | Konsultasi Muslim


Pertanyaan :

 

Assalamualaikum.


Ustadz saya mau bertanya tentang adopsi anak. Apakah boleh nanti klu anak adopsi sudah besar lalu nikah bin nama (ayah angkat)? Saya masih bingung soalnya ada salah satu Ustad bilang tidak boleh, ada yang bilang boleh tapi harus adopsi anak laki2 dan kalau prmpuan tidak bisa pke bin.

Mohon penjelasannya

 

Dari : Nova Pamungkas

 

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى    melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

 

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

 

Mengenai hukum adopsi anak, para ulama berbeda pendapat, dan di sini terbagi menjadi 2 kelompok ulama :

 

1. Pendapat ulama yang mengharamkan adopsi anak.

 

Syekh Muhammad Ali As-Shobuni rohimahullah berkata di dalam kitabnya tafsir Rowaai'ul Bawan Ayat Ahkaam minal Qur'an :

 

كما أبطل الإسلام الظهار، أبطل التبني وجعله محرما في الشريعة الإسلام، لأن فيه نسبة الولد إلى غير أبيه. وهو من من الكبائر التي توجب السخط واللعنة. فقد ورد فيه الحديث الشريف عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال : من ادعى إلى غير أبيه أو انتمى إلى غير مواليه, فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين, لايقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا

 

Sebagaimana Islam membatalkan zihar, maka Islam juga membatalkan adopsi (anak angkat), dan menjadikan hukumnya haram didalam Syari'at Islam karena anak tersebut disnisbatkan (disandarkan) kepada selain ayah kandungnya. Dan perbuatan ini termasuk dosa besar dan  ini bisa mendatangkan murka dan laknat. Dan perbuatan ini telah ditolak oleh hadist yang baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam : Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, Allah tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah. (HR Muslim, Hadist No. 3314).” (Rowaai'ul Bawan Ayat Ahkaam minal Qur'an jilid 2 Halaman 248).

 

Beliau rohimahullah melanjutkan : pengarang tafsir Ruuhul Ma'ani berkata :

 

Zohirnya ayat mengharamkan penisbatan seorang anak kepada selain ayah kandungnya. Karena hal itu sama halnya dengan tradisi orang-orang zaman jahiliyah dulu.

 

وأما إذا لم يكن كذلك كما يقول الكبير للصغير على سبيل (التحنن والشفقة) يا ابني، وكثير ما يقع ذلك فالظاهر عدم الحرمة

 

Adapun jika tidak seperti itu, sebagaimana orang yang lebih besar memanggil kepada orang lebih kecil, seperti contoh  tanda dia berkasih sayang : "Wahai anak ku, dan kebanyakan ini tidaklah mengapa, dan zohirnya perbuatan seperti ini tidak haram.”

 

Dan para ulama mengatakan bahwa kebolehan adopsi (anak angkat) telah dihapus oleh surat Al-Ahzab ayat 5. Allah Berfirman :

 

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

 

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan menasabkan kepada bapak-bapak mereka. Hal itu lebih adil di sisi Allah. Maka apabila kalian tidak mengetahui bapak-bapak mereka maka panggillah mereka sebagai saudaramu dalam agama dan maula-maula kalian. Tidak ada dosa atas kalian di dalam apa yang tak kalian sengaja, akan tetapi berdosa apa yang disengaja oleh hati kalian. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab : 5).

 

2. Pendapat yang membolehkan adopsi (anak angkat) dengan bersyarat.

 

Syarat-syaratnya adalah :

 

1. Anak yang diadopsi tidak dirubah nasabnya kepada orang yang mengadopsi.

 

Tidak mengubah status anak menjadi anak kandung. Dan dia tetap dinasabkan kepada ayah aslinya.

 

2. Orang yang mengadopsi tidak bisa menjadi wali nikah, jika yang dia adopsi itu anak perempuan. Dan walinya tetap ayahnya yang asli (Ayah kandung).

 

Jika syarat-syarat ini dilanggar, maka tentunya kebolehannya bisa berubah menjadi haram disebabkan tidak memenuhi kriteria.

 

Akan tetapi sebaiknya, untuk lebih selamatnya tidak mengadopsi anak, kecuali anak tersebut memang betul-betul butuh bantuan seperti misalnya dia hidup sebatang kara dan tidak punya penghasilan apapun. Maka hal semacam ini silahkan di adopsi. Akan tetapi jika dia sudah ditempat tinggalkan di panti asuhan misalnya, kalau bisa biarkan saja disana. Tapi jika mau mengadopsi juga, harus memenuhi syarat-syarat seperti diatas.

 

Semoga bermanfaat dan bisa dipahami.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.