logo

Hukum mencicipi Masakan saat Puasa, bolehkah? | Konsultasi Muslim



Kebiasaan dari ibu-ibu di Indonesia mereka selalu mencicipi masakannya untuk memantapkan rasa masakannya, kira-kira garamnya sudah pas atau belum, pedasnya sudah pas atau belum dan sebagainya. Dan hal itu sudah biasa dilakukan didalam kehidupan sehari-hari di masyarakat kita.

Namun apakah juga berlaku di saat sedang puasa? Bolehkah mencicipi makanan yang di masak untuk sekedar mengetahui sudah pas atau tidaknya masakan kita?


Pendapat ulama mengenai ini terbagi menjadi 2 :


1. Mencicipi makanan saat puasa hukumnya Boleh dengan syarat ada hajat (keperluan).


Ini pendapat Ibnu Abbas, Hasan Al-Basri dan Imam An-Nakho'i rohimahumullah.


Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhu berkata :


لَا بَأسَ أَن يَذُوق الخَلَّ أو الشَيءَ مَا لَـم يَدخُل حَلقَه وهو صائم.


“Tidak mengapa mencicipi cuka atau makanan lainnya selama tidak masuk ke kerongkongan. (HR. Bukhari dan Ibnu Abi Syaibah didalam Mushonnafnya, Hadist No. 9277).”



Di dalam kitab Umdah Al-Qoori Syarah Shahih Bukhari halaman 12 disebutkan :


وَقَالَ ابْن عَبَّاس لَا بَأْس أَن تمضغ الصائمة لصبيها الطَّعَام وَهُوَ قَول الْحسن الْبَصْرِيّ وَالنَّخَعِيّ


“Ibnu Abbas berkata : Tidak mengapa seorang wanita yang sedang berpuasa mengunyahkan makanan untuk anak bayinya. Imam Hasan Al-Basri dan Imam An-Nakho'i juga berpendapat seperti itu.”


Ulama di atas membolehkan nya berdalil dengan perkataan Ibnu Abbas diatas, dengan syarat ada hajat (keperluan) yaitu untuk memastikan apakah rasa masakannya sudah pas atau belum.


Dan dengan syarat makanan tersebut tidak sampai ditelan, akan tetapi hanya sampai di ujung lidah saja untuk memastikan rasanya sudah pas atau belum.


2. Hukumnya makruh.


Ini pendapat Jumhur (mayoritas ulama).


Imam Malik, Imam An-Nawawi dan ulama-ulama lainnya melarang untuk mencicipi makanan sebagai bentuk kehati-hatian. Karena jika sampai tertelan, maka batal puasanya.


Di dalam kitab At-Taudhih Li Syarhil Jaami' As-Shahih halaman 201 disebutkan :


وقال مالك أكرهه ولا يفطر إن لم يدخل حلقه



“Imam Malik Rohimahullah berkata : Aku tidak menyukainya (orang berpuasa mencicipi makanan), tapi puasanya tidak batal jika makanan tidak masuk ke kerongkongannya.”



Imam An-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzab jilid 6 halaman 354 :


يكره له مضغ الخبز وغيره من غير عذر وكذا ذوق المرق والخل وغيرهما فإن مضغ أو ذاق ولم ينزل إلى جوفه شئ منه لم يفطر


“Dimakruhkan bagi orang yang berpuasa mengunyah roti dan sebagainya atau mencicipi kuah gulai dan cuka dan selain dari keduanya. Jika dia mencicipinya tidak melewati tenggorokan saja, maka puasanya tidak batal.”


Nah, masalahnya adalah iman kita zaman sekarang ini tidak sama dengan imannya Ibnu Abbas, Hasan Al-Basri dan Imam An-Nakho'i dan para ulama yang membolehkan jika ada hajat.


Ulama-ulama yang membolehkan hal itu imannya kuat. Dan bisa saja mereka mengontrol hal itu jangan sampai tertelan dan hanya sampai di ujung lidah saja.


Lalu bagaimana dengan kita kaum muslimin pada saat ini? Apakah bisa menahan rasa hanya sampai kerongkongannya?


Ini adalah hal yang paling sulit untuk dihindari. Maka dari itu Jumhur (mayoritas ulama) seperti Imam Malik, Imam An-Nawawi dan ulama-ulama lainnya memakruhkan untuk mencicipi makanan disaat puasa sebagai bentuk kehati-hatian seorang muslim.


Ada sebuah qoidah fiqih menyebutkan :


إذا اجتمع مبيح وحاظر غُلِّبَ جانب الحظر احتياطا


“Apabila berkumpul antara yang mubah dan yang haram, maka dimenangkan oleh yang haram sebagai bentuk kehati-hatian.”


Karena berhati-hati dalam suatu perkara yang bisa menimbulkan perkara yang lebih besar lebih didahulukan daripada mengambil suatu kemanfaatan. Sekalipun kita tau bahwa mencicipi makanan itu bermanfaat karena kita bisa mengetahui sudah atau belum nya masakan kita, dan agar yang memakannya nanti juga merasakan enak dari yang dimasak tersebut.


Namun ada perkara yang lebih besar yang ditimbulkan darinya yaitu bisa tertelan. Karena jika sampai kuahnya tertelan, padahal kita sudah tau itu bisa membatalkan puasa, namun kita tetap mencoba kuah gulai tersebut, dan jika tertelan, maka batal lah puasanya.


Maka dari itu sebuah qoidah ushul fiqh menyebutkan :


درء المفاسد مقدم على جلب المصالح


“Menolak kerusakan (bahaya) lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.”


Artinya : "Daripada nanti menyebabkan kuah bisa tertelan, maka lebih baik dihindari agar tidak membatalkan puasa."


Akan tetapi, jika dirasa bisa mengontrolnya dan bisa menahan agar tidak tertelan, tapi hanya sampai di ujung lidah saja, maka silahkan saja dicicipi masakannya.


Namun untuk lebih berhati-hati dengan menyuruh orang yang tidak puasa didalam rumahnya yang mencicipi masakannya tersebut bukan dia. Seperti misalnya ada wanita yang sedang haid yang tidak berpuasa ataupun orang tua yang sudah tidak kuat lagi berpuasa. Dan tentunya ini lebih selamat dari bahaya dan sebagai bentuk kehati-hatian seorang muslim.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.