logo

Hukum Berdzikir Dengan Biji Tasbih | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamu'alaikum

Ustad apa Hukum menggunakan biji tasbih saat berdzikir?

Dari : Mawar Berduri

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Hukum berdzikir menggunakan tasbih itu boleh dan hal itu juga dikerjakan oleh para sahabat terdahulu. Dalilnya adalah :

Dari Shofiyyah binti Huyai rodhiyallahu 'anha dia berkata :

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآله وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلَافِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا، قَالَ: لَقَدْ سَبَّحْتِ بِهَذِهِ، أَلَا أُعَلِّمُكِ بِأَكْثَرَ مِمَّا سَبَّحْتِ؟ فَقُلْتُ: بَلَى عَلِّمْنِي. فَقَالَ:  قُولِي : سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ

“Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mendatangiku sedangkan di hadapanku terdapat empat ribu biji yang aku bertasbih dengannya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun bersabda : "Sungguh kamu telah bertasbih dengan menggunakan ini, Perhatikanlah aku akan mengajarimu yang lebih banyak dari pada tasbihmu. Lalu aku berkata : Iya, ajarilah aku. Kemudian beliau bersabda : Bacalah Subhanallah adada khalqih (Subhanallah sebanyak ciptaan-Nya).” (HR. At-Tirmidzi).

Imam Syaukani rohimahullah berkata di dalam kitab Nailul Author bahwa Imam As-Suyuthi berkata di dalam kitabnya Al-Fatawa :

ولم ينقل عن أحد من السلف ولا من الخلف المنع من جواز عد الذكر بالسبحة بل كان أكثرهم يعدونه بها ولا يرون في ذلك مكروها انتهى

Tidak ada riwayat dari seorang pun, baik dari kalangan salaf maupun kholaf tentang larangan berdzikir menggunakan tasbih, bahkan sebagian besar mereka menganggapnya dipakai saat berdzikir, mereka tidak memakruhkannya. Selesai. (Nailul Author jilid 2 halaman 358).

Kesimpulannya bahwa hukum berdzikir dengan tasbih adalah boleh. Karena di zaman para sahabat sekalipun mereka memakai tasbih untuk berdzikir.

Adapun orang-orang sekarang yang mengatakan bahwa berdzikir menggunakan biji tasbih itu sebagai bid'ah, maka orang ibi mungkin kurang luas bacaannya, atau saja orang yang baru hijrah yang hanya ikut-ikutan. Padahal apa yang dia ikuti itu belum pasti kebenarannya. Hanya karena semangat hijrah, maka dia ikut-ikutan mengatakan bid'ah dan menyalahkan amalan orang lain, padahal yang dia salahkan itu beramal juga berdasarkan tuntunan Al-Qur'an dan Hadist Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan amalannya juga berdasarkan dari Al-Qur'an dan Sunnah.

Jangan hanya gara-gara masalah furu'iyyah menyalahkan orang lain. Karena furu'iyyah di toleransi oleh para ulama. Yang tidak di toleransi di dalam Islam itu adalah dalam permasalahan ushuliyyah. Apabila amalannya bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadist seperti shalat wajib itu 5 waktu, kemudian dia mengatakan shalat wajib itu 6 waktu. Maka permasalahan-permasalahan seperti inilah yang kemudian boleh keras karena ini menyangkut masalah ushuliyyah.

Adapun selagi amalan yang dia kerjakan masih dalam ruang lingkup furu'iyyah, yang para ulama masih berbeda pendapat tentangnya, maka tidak perlu dipermasalahkan. Semoga bermanfaat.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.