logo

Hukum Akhwat Menjawab Salam Ikhwan di Jalan | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamu'alaikum ustadz mau tanya wajibkah seorang akhwat menjawab salam ikhwan jika bertemu di jalan?

Dari : Diana

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Sebelum masuk ke pembahasan diatas, kita mesti tau dulu apa hukum mengucapkan salam dan memulai salam.

1. Hukum mengucap salam.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ

“Hak Muslim atas muslim yang lainnya ada 6 macam. Ada salah seorang bertanya : Apa saja yang 6 itu wahai Rasulullah? 1. Apabila kamu bertemu dengan seorang muslim, maka ucapkanlah salam kepadanya. (HR. Muslim, hadist no. 2162).” (Potongan Hadist)

Imam ash-Shon'ani rohimahullah berkata di dalam kitabnya Subulussalam syarah kitab Bulughul Maroom min Jam'i Adillatil Ahkaam jilid 4 halaman 152 :

والأمر دليل على وجوب الابتداء بالسلام. إلا أنه نقل ابن عبد البر وغيره أن الابتداء بالسلام سنة وأن رده فرض

Dan asal perintah dari hadist diatas bahwa memulai mengucapkan salam hukumnya wajib. Dan akan tetapi dinuqil dari perkataan Ibnu Abdil Baar dan selainnya, bahwa memulai salam hukumnya sunnah, sedangkan menjawabnya (menjawab salam) hukumnya wajib.

2. Hukum menjawab salam

Beliau (Imam ash-Shon'ani) mengatakan :

والحديث دليل على أن هذه حقوق المسلم على المسلم، والمراد بالحق ما لا ينبغي تركه، ويكون فعله إما واجبا أو مندوبا ندبا مؤكدا شبيها بالواجب الذي لا ينبغي تركه

Dan hadist ini menunjukkan bahwa ini adalah hak Muslim terhadap Muslim yang lainnya. Dan yang dimaksud dengan hak disini adalah sesuatu yang tidak seharusnya ditinggalkan. Dan hak-hak disini bisa hukumnya menjadj wajib, dan ada yang hukumnya sunnah mu'akkad, dimana sunnah mu'akkad ini menyerupai dengan wajib, yang mana hal ini tidak pantas untuk ditinggalkan.

Lalu apa hukum menjawab salam lelaki bukan mahrom?

Pada dasarnya, mengucapkan salam kepada yang bukan mahrom apabila berpapasan dijalan misalnya, tidaklah wajib atau tidak dianjurkan juga.

Akan tetapi, dilihat dulu apakah dia sudah tua ataukah masih muda.

Dalam hal ini dibagi menjadi 3 :

1. Satu orang lelaki berpapasan dengan sekelompok wanita.

Jika seorang lelaki berpapasan dengan banyak wanita misalnya, maka hukumnya boleh bagi lelaki tersebut mengucapkan salam kepada sekelompok wanita itu, karena tidak berpotensi menimbulkan fitnah.

Dari Asma' binti Yazid rodhiyallahu 'anhuma berkata :

مَرَّ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نِسْوَةٍ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا

“Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam melewati kami (sekelompok wanita), dan beliau pun mengucapkan salam kepada kami. (HR. Abu Dawud, hadist no. 5204).”

Ini adalah dalil bahwa bolehnya satu orang lelaki mengucapkan salam kepada banyak wanita, karena tidak berpotensi menimbulkan fitnah.

2. Satu orang wanita kepada banyak laki-laki.

Adapun satu orang wanita berpapasan dengan banyak lelaki, maka tidak usah mengucapkan salam, karena pada dasarnya wanita itu pemalu dan jika diucapkan salam (dari sekelompok lelaki) tersebut kepadanya, maka jawablah.

Karena hal ini juga bisa berpotensi fitnah, karena setiap lelaki memiliki cara pandang yang berbeda-beda.

3. Seorang wanita berpapasan dengan seorang lelaki.

Jika seorang wanita berpapasan dengan seorang lelaki, maka tidak usah mengucapkan salam. Kenapa? Karena berpotensi menimbulkan fitnah. Sedangkan kita diperintahkan untuk memjauhi fitnah.

Allah berfirman :

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah (siksaan) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal : 25).”

Dan hendaklah salah satu diantara keduanya tidak mengucapkan salam karena berpotensi fitnah. Baik salah satunya tergoda, ataupun lainnya.

Maka sebelum itu terjadi, hendaklah dicegah terlebih dahulu.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Mencegah kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.

Bagaimana cara mencegahnya? Yaitu dengan cara tidak mengucapkan salam.

Bagaimana jika bertemu dengan orang yang sudah tua? Yang sudah tidak mempunyai nafsu lagi?

Jika bertemu dengan orang yang sudah tidak mempunyai nafsu lagi, maka silahkan saja mengucapkan salam. Karena tidak berpotensi menimbulkan fitnah.

Dan sebab-sebab yang bisa menimbulkan fitnah, yaitu nafsu sudah tidak ada lagi pada dirinya.

Semoga bisa dipahami.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.