logo

Bolehkah Wanita Haid Masuk Masjid untuk Mendengarkan Kajian Islam? | Konsultasi Muslim



Banyak berita yang beredar mengenai bolehnya wanita haid masuk kedalam masjid, dengan dalil bahwa hadist yang melarang untuk masuk masjid adalah hadist dhoif dan mereka berdalil dengan hadist berikut :

Dari Aisyah rodhiyallahu 'anha, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda :

نَاوِلِيْنِى الْجُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ. فَقُلْتُ: إِنِّيْ حَائِضٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ.

“Ambilkan untukku khumroh (sajadah kecil) di masjid. Maka aku menjawab : "Sesungguhnya aku sedang haid. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya haidmu itu bukan karena sebabmu. (HR. Muslim, Hadist no. 298).”


Penjelasan :

Hadist ini menunjukkan bahwa wanita dibolehkan memasuki masjid "JIKA" ada "KEPERLUAN YANG PENTING" (udzur Syar'i) saja. Seperti yang dilakukan oleh Ummul Mukminin diatas.

Sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

الحكم يدور مع العلة، وجودا وعدما

Hukum itu berputar bersama illatnya (sebabnya), baik ketika sebabnya ada maupun ketika tidak ada.

Nah, orang-orang yang memasuki masjid tanpa adanya udzur syar'i seperti yang dialami Ummul Mukminin diatas, maka para ulama sepakat melarang nya sebagaimana disebutkan di dalam kitab tafsir Rowai'ul Bayaan ayat Ahkaam, jilid 1, halaman 283 :

Syekh Muhammad 'Ali as-Shobuni rohimahullah berkata :

اتفق العلماء على أن المرأة الحائض يحرم عليها الصلاة، و الصيام، و الطواف، و دخول المسجد، و مس المصحف، و قراءة القرآن، و لا يحل لزوجها أن يقربها حتى تطهر

Para Ulama Mazhab bersepakat bahwa wanita haid diharamkan atasnya : shalat, puasa, thawaf, masuk masjid, menyentuh Al-Qur'an, membaca Al-Qur'an, dan jima' (bersetubuh) dengan istri nya tersebut.

Disini para ulama mengatakan : Tidak boleh bagi wanita haid masuk kedalam Masjid.

Kalo ada pengajian boleh gak?

Imam an-Nawawi rohimahullah menegaskan di dalam kitab al-Majmu' jilid 2, halaman 358 :

يحرم علي الحائض والنفساء مس المصحف وحمله واللبث في المسجد وكل هذا متفق عليه عندنا وتقدمت أدلته وفروعه الكثيرة مبسوطة في باب ما يوجب الغسل والحديث المذكور رواه أبو داود والبيهقي وغيرهما من رواية عائشة رضي الله عنها واسناده غير قوى وسبق بيانه هناك

Diharamkan bagi wanita haid dan nifas menyentuh dan membawa mushaf Al-Qur'an, dan berdiam di masjid. Semua itu telah disepakati di kalangan kami mazhab Syafi'i. Dalilnya sudah dijelaskan. Banyak cabang masalah ini diulas panjang pada bab Hal-hal yang Menyebabkan Mandi wajib. Hadist yang menerangkan tentang ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan perawi lainnya dari Aisyah Rodhiyallahu 'anha dengan sanad yang tidak kuat. Penjelasannya sudah dijelaskan di sana.

Memang Imam an-Nawawi rohimahullah menyebutkan bahwa dalil-dalil yang menerangkan tentang larangan itu tidak kuat, akan tetapi para ulama ingin agar wanita haid tersebut lebih berhati-hati, mana tau ketika dia duduk darah haidnya mengalir, ataupun lantainya dibasahi oleh darah haid, ataupun lantainya berbau. Maka untuk mencegah ini semua, jumhur (mayoritas ulama) melarang wanita haid masuk kedalam masjid, kecuali ada udzur syari'i sebagaimana yang terjadi pada Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallahu 'anha.

Jika berdiam diri dimasjid saja dilarang apalagi ada kajian islam didalam nya. Maka hal ini bukan karena udzur tapi membuat udzur.

Ingat, udzur masuk masjid diperbolehkan kalo ada sesuatu yang penting seperti yang dilakukan oleh Ummul Mukminin diatas.

Adapun seperti masuk masjid mendengarkan kajian, maka tidak seharusnya seorang muslimah memasuki masjid karna hal itu tidaklah beradab memasuki rumah Allah dalam keadaan haid. Oleh sebab itu, jika ada tenda diluar masjid, maka duduklah di bawah tenda, jangan duduk didalam nya. Karna para ulama kita sudah melarang hal tersebut.

Bukankah ada hadist Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang berbunyi :

المسلم لا ينجس

“Muslim itu tidaklah najis. (HR. Bukhari).”

Betul, akan tetapi sebagai seorang muslim, kita diajarkan adab. Sedangkan ketika diundang kerumah bupati misalnya, tentunya seseorang akan mandi dan dalam keadaan bersih, tidak mau datang dalam keadaan tidak bersih. Lalu bagaimana mungkin seorang wanita muslimah menginjak rumah Allah yang mulia dan datang dalam keadaan tidak suci? Tentunya ini tidak beradab sama sekali dan tidak menghormati masjid. Sebab orang yang beradab pasti tau jika dia tidak pantas masuk kerumah Allah yang mulia dalam keadaan tidak suci.

Memang para ulama tidak semuanya sepakat dalam masalah dilarangnya wanita haid masuk kedalam masjid, namun para ulama menginginkan kehati-hatian dalam masalah ini. Dan untuk kehati-hatian, hendaklah wanita yang sedang dalam keadaan haid jangan memasuki masjid, kecuali ada udzur syar'i yang mendorongnya untuk masuk kedalam masjid tersebut, seperti yang terjadi pada Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallahu 'anha sebagaimana yang disebutkan didalam hadist diatas.

Semoga bermanfaat dan bisa dipahami.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.