logo

Bolehkah Wanita Haid dan Orang Yang sedang Junub Membaca Al-Qur'an? | Konsultasi Muslim



Permasalahan seperti ini sering sekali kita jumpai dikehidupan sehari-hari, khususnya seseorang yang telah berumah tangga, dan dia harus mengetahui hukum-hukum seputar rumah tangga tersebut, agar dia tau mana yang diperintahkan didalam agama ini dan mana yang tidak.

Menurut jumhur (mayoritas ulama) dari ulama-ulama mazhab, bahwa wanita haid dan orang yang dalam keadaan junub dilarang membaca Al-Qur'an, karena membaca Al-Qur'an haruslah dalam keadaan suci.

Dalil-dalil yang melarang :

1. Dalil dari Al-Qur'an

Allah berfirman :

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (QS. Al-Waqi'ah : 79).”

2. Dalil dari hadist

Dari Abu Bakr bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi Wasallam pernah menulis surat untuk penduduk Yaman, isinya :

لاَ يَمَسُّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Al-Qur'an kecuali orang yang suci. (HR. Daruquthni, hadist no. 449).”

Beranjak dari dalil-dalil yang melarang inilah, akhirnya jumhur (mayoritas ulama) dari ulama mazhab mengharamkan bagi wanita haid dan orang yang junub membaca Al-Qur'an.

Pendapat-pendapat ulama mengenai larangan wanita haid dan orang yang sedang junub membaca Al-Qur'an :

A. Pendapat yang mengharamkan, yaitu pendapat jumhur (mayoritas Ulama) dari ulama Mazhab.

1. Mazhab Syafi'i

Imam an-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab at-Tibyan fii Aadaabi Hamalatil Qur'an, Halaman 85 :

وأما الجنب والحائض فإنه يحرم عليهما قراءة القرأن، سواء كان آية أو أقل منها

Dan adapun bagi orang yang junub dan wanita haid, maka bagi mereka diharamkan membaca Al-Qur'an, baik itu satu ayat, maupun lebih sedikit daripada itu.

2. Mazhab Hambali

Ibnu Qudamah rohimahullah berkata di dalam kitab al-Mughni, jilid 1 halaman 165 :

و لا يقرأ القرآن جنب ولا حائض ولا نفساء. ويحرم عليهم قراءة آية

Dan tidak boleh bagi orang yang junub, wanita haid dan wanita yang sedang nifas membaca Al-Qur'an. Dan diharamkan juga bagi mereka membaca satu ayat dari Al-Qur'an.

3. Mazhab Hanafi

Imam al-Kasani rohimahullah berkata di dalam Kitab Badai' Ash-Shanai' fi Tartibis Syarai' Jilid 1 Halaman 44 :

وَأما حكم الحيض والنفاس فمنع جواز الصلاة، والصوم، وقراءة القرآن، ومس المُصحف إلا بغلاف، ودخول المسجد، والطواف بالبيت

Dan adapun wanita haid dan nifas, maka tidak diperbolehkan shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, memegang mushaf tanpa sampul, masuk masjid, dan thawaf di baitullah

4. Pendapat Sayyid Sabiq

Sayyid Sabiq rohimahullah menuqil pendapat jumhur(mayoritas ulama) di dalam kitabnya Fiqih Sunnah, jilid 1 halaman 68, beliau berkata :

يحرم على الجنب أن يقرأ شيئا من القرأن عند الجمهور

Haram bagi orang yang junub membaca sesuatu dari Al-Qur'an menurut jumhur (mayoritas ulama) dari ulama mazhab.

B. Pendapat yang membolehkan.

Adapun yang membolehkan membaca Al-Quran bagi wanita haid dan junub adalah mazhab Maliki.

Imam al-Qarafi berkata di dalam kitab adz-Dzakhirah :

وأما جواز القراءة فلما يروى عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت تقرأ القرآن وهي حائض والظاهر اطلاعه عليه السلام وأما المنع فقياسا على الجنب والفرق للأول من وجهين أن الجنابة مكتسبة وزمانها لا يطول بخلاف الحيض

Dan adapun yang membolehkan wanita haid membaca Al-Qur'an adalah riwayat dari Sayyidah Aisyah Rodhiyallahu 'Anha, bahwasannya dia pernah membaca Al-Qur'an dalam keadaan haid, dan hal itu terjadi dengan sepengetahuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Adapun larangan Membaca Al-qur'an ini diqiyaskan kepada hukumnya orang junub. Dan perbedaan dari keduanya ada 2 segi yaitu : kalau junub terjadi karena kehendak yang melakukan dan hal iniberbeda dengan wanita haid, masa junub tidaklah selama masa haid.

Namun dalam hal ini, mengambil pendapat jumhur (mayoritas ulama) lebih selamat, dan juga sebagai bentuk kehati-hatian dan sebagai bentuk adab kita kepada kalamullah. Karena Al-Qur'an itu suci, dan Al-Qur'an tidak dibaca, kecuali bagi orang-orang yang dalam keadaan suci.

Solusi dari Imam an-Nawawi untuk ibadah wanita haid dan junub :

Imam an-Nawawi rohimahullah berkata di dalam kitab at-Tibyan fii Adaabi Hamalatil Qur'an, halaman 58-59 :

1. Boleh membaca Al-Qur'an didalam hati tanpa dilafadzkan

ويجوز لهما اجراء القرأن على قلبهما من غير تلفظ به

Dan boleh bagi mereka (wanita haid dan junub) membaca Al-Qur'an didalam hati, tanpa dilafadzkan.

2. Boleh melihat mushaf, tapi dibaca didalam hati

ويجوز لهما النظر في المصحف وإمراره على القلب

Dan boleh bagi keduanya melihat mushaf dan membacanya didalam hati.

3. Boleh berdzikir bagi wanita haid dan junub

Beliau rohimahullah melanjutkan :

وأجمع المسلمون على جواز التسبيح والتهليل والتحميد والتكبير والصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم وغير ذلك من الأذكار للجنب والحائض

Dan para ulama sepakat akan kebolehan berdizkir bagi wanita haid dan junub, seperti tasbih, tahlil dan tahmid, serta bersholawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan dzikir-dzikir yang lainnya.

Dan seorang wanita muslimah haruslah mengetahui tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dirinya dan rumah tangga, karena permasalahan-permasalahan seperti ini sering sekali dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Dan semoga kita semua senantiasa memperhatikan adab-adab kita kepada kalamullah, agar senantiasa Allah pun ridho kepada orang-orang yang menghormati perkataan-Nya.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.