logo

Hukum Mengambil Keuntungan 100 Persen dalam Berdagang Menurut Islam | Konsultasi Muslim



Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz... Saya mau bertanya..

misalnya ada seorang yg berjualan baju nh ustadz trus harga baju nya itu biasanya di toko lain 150 ribu tapi dia jual dgn harga 160 ribu.. apa itu termasuk riba ustadz? Saya ga paham apa itu riba ustadz.. mohon dijelaskan..

Dari : Fulanah

Dijawab oleh : Fastabikul Randa Ar-Riyawi حفظه الله تعالى  melalui tanya jawab grup Kajian Whatsapp

Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.

Bolehkah mengambil keuntungan besar dari hasil berdagang?

Mengambil keuntungan dari berdagang diperbolehkan di dalam Islam. Berapapun jumlah dan persen nya.

Apakah boleh 100% ustadz? Jawabannya boleh.

Dalilnya adalah :

Dari Urwah al-Bariqi rodhiyallahu 'anhu berkata :


دَفَعَ إِلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم دِينَارًا لأَشْتَرِىَ لَهُ شَاةً فَاشْتَرَيْتُ لَهُ شَاتَيْنِ فَبِعْتُ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ وَجِئْتُ بِالشَّاةِ وَالدِّينَارِ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyerahkan uang sebesar 1 dinar kepadaku untuk dibelikan seekor kambing. Kemudian uang itu saya belikan 2 ekor kambing. Tidak berselang lama, saya menjual salah satunya seharga 1 dinar. Kemudian saya bawa kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seekor kambing dan uang 1 dinar.

Beliau melanjutkan : "Kemudian akupun menceritakan kejadian itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam." Maka beliau berdo'a :


بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى صَفْقَةِ يَمِينِكَ

"Semoga Allah memberkahimu dalam transaksi yang dilakukan tanganmu. (HR. At-Tirmidzi, hadist no. 1304)."

Hadist ini adalah dalil bahwa boleh nya mengambil keuntungan berapapun.

Katanya ada yang mengatakan hanya boleh 30% saja ustadz, gimana tu?

Itu harga pasar yang ditentukan oleh pemerintah. Adapun di dalam Islam boleh mengambil keuntungan berapapun. Hanya saja kita harus mempertimbangkan kembali, karna terkadang pembelinya dari saudara-saudara kita ummat Islam.

Artinya cocokkan lah harganya sesuai dengan kemampuan ummat Islam dalam membelinya. Jangan menyulitkan mereka. Sedangkan Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk memudahkan urusan, lebih-lebih urusan kaum Muslimin.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا


"Permudahlah dan jangan persulit, berilah buatlah mereka gembira dan jangan buat mereka lari. (HR. Bukhari dan Muslim)."

Dan itu bukanlah termasuk riba. Karena pengertian riba adalah tambahan pada harta pokok.

Contoh: "Fulanah meminjam uang kepada antum Rp. 50.000 dan dibayar seminggu lagi." Lalu antum bilang : "Boleh asalkan nanti diwaktu pengembaliannya, kembalikan uangnya sebanyak Rp. 60.000."

Nah, seperti ini disebut riba karena tambahan pada harta pokok. Yang awalnya Rp. 50.000 menjadi Rp. 60.000. Maka ini dilarang di dalam Islam dan hukumnya haram.

Allah berfirman :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Ali Imran : 130)."

Semoga bisa dipahami.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.