logo

Benarkah Menikah Antar Suku Pamali dan Mendatangkan Musibah? | Konsultasi Muslim



Lagi lagi adanya kepercayaan orang-orang tua di zaman yang serba canggih ini meyakini bahwa menikah antar suku itu dilarang dan akan membawa musibah. Karna hanya berbeda adatnya. Yang perlu diketahui adalah bahwa Islam menghormati adat (kebiasaan) kaum Muslimin. Bahkan para ulama mengatakan adat bisa dijadikan sebagai dalil syar'i yang bisa dijadikan rujukan untuk menghukumi suatu masalah.

Jika permasalahan itu baru, sementara tidak terdapat di dalam Al-Qur'an maupun Hadist, maka adat bisa menjadi salah satu dalil dalam menentukan sebuah hukum terhadap suatu masalah tersebut.

Salah satu qoidah ushul fiqh yang dibuat ulama adalah :

العادات محكمات

Adat (kebiasaan) bisa menjadi landasan hukum

Akan tetapi perlu kita perhatikan, adat yang seperti apa?

Tentunya adat yang tidak bertentangan dengan syari'at Islam dan tidak melenceng darinya. Akan tetapi jika sudah melenceng, maka adat harus dibuang dan harus ikut Al-Qur'an dan Hadist sebagai pedoman Hidup.

Contoh nya seperti pernikahan antar suku yang katanya akan menimbulkan musibah yang besar. Maka hal ini sangat-sangat bertentangan dengan syari'at Islam. Kenapa? Karena Islam tak pernah melarang ummatnya menikah antar suku dan tidak ada yang namanya musibah terjadi karna pernikahan antar suku kecuali musibah itu datang dari Allah dan atas izin Allah.

Allah berfirman :

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah : Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudorotan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS.Al-A'raf : 188).”

Ketahuilah bahwa itu semua tidak bisa mengubah takdir dan tidak pula bisa merubah jodoh serta tidak bisa mendatangkan kemudorotan. Karna kemudorotan itu berasal dari Allah dan atas izinnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لاَ عَدْوَى ،وَلاَ طِيَرَةَ ،وَلاَ هَامَةَ ،وَلاَ صَفَرَ

“Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya (tanpa ketentuan Allah), tidak dibenarkan beranggapan sial, tidak dibenarkan pula beranggapan nasib malang karena tempat, juga tidak dibenarkan beranggapan sial di bulan Shafar. (HR. Bukhari, hadist no. 5757).”

Jadi sekali lagi bahwa Islam tidak pernah melarang ummat nya menikah antar suku, mau orang Melayu menikah dengan orang Jawa, orang Jawa dengan Sunda, Melayu dengan Sunda ataupun Batak misalnya, maka hal ini tidak dilarang dan justru dipersilahkan jika sudah siap melangkah ke jenjang pernikahan.

Nanti pamali dan bisa kena musibah dan rumah tangga nya tidak harmonis dan ujung-ujung nya cerai loh bla bla bla. Maka kami tegaskan. Kamu lebih percaya kepada Allah atau kepada makhluk Allah?

Yang mendatangkan kemudorotan Allah atau makhluk nya?

Jika percaya pernikahan antar suku bisa menimbulkan musibah, berarti sama saja percaya kepada sesuatu dan percaya bisa mendatangkan kemudorotan, maka itu sebuah kesyirikan yang nyata. Sedangkan yang bisa mendatangkan itu semua hanya Allah.

Dan hal itu bisa membatalkan tauhidnya kepada Allah dan pelakunya harus bertobat kepada Allah. Jika dia tidak bertobat sampai mati, maka sesungguhnya pengadilan Allah itu ada.

Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakinya. (QS. An-Nisa' : 48).”

Mari orang tua ngaji ilmu agama biar keyakinan atau percaya kepada hal-hal yang berbau khurofat dan tahayyul hilang dari pikiran kita.

Serta peran para pemuda-pemudi sangat dibutuhkan dalam hal ini untuk senantiasa mengingatkan orang tua mereka dan mengirimkan artikel kepada orang tua misalnya atau melihat kan ceramah-ceramah para Ustadz agar keyakinan-keyakinan yang bertentangan dengan syari'at Islam hilang dari pikiran mereka.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Semoga bermanfaat.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.