logo

Benarkah Memberikan THR di hari Raya dilarang? | Konsultasi Muslim



Islam agama yang tidak mempersulit pemeluknya. Apalagi masalah hukum, sangat mudah sebenarnya, hanya saja pemeluknya lah yang membuatnya menjadi sulit. Salah satu yang dimudahkan di dalam Islam yaitu memberikan hadiah di hari raya, atau dikenal juga dengan istilah THR.

Lalu apa hukum memberikan THR?

Pada asalnya hukum setiap sesuatu (dalam perkara mu'amalah) adalah boleh. Sebagaimana disebutkan di dalam qoidah ushul fiqh nya :


الأصل في الأشياء الإباحة

Asal hukum segala sesuatu (dalam perkara mu'amalah) adalah boleh

Begitu juga dengan memberikan THR di hari raya, hukumnya mubah (boleh), karena selain menyenangkan hati penerimanya, kita juga mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Di sisi lain, kebolehan memberikan THR ini adalah karena kebiasaan yang baik, bisa dijadikan landasan hukum selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Hadist.

Qoidah fiqih menyebutkan :


العُرْفُ وَالْعَادَةُ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي كُلِّ حُكْمٍ حَكَمَ بِهِ الشَّارِعُ, وَلَمْ يَحُدَّهُ بِحَدٍّ

Urf dan kebiasaan dijadikan pedoman pada setiap hukum dalam syari'at yang batasannya tidak ditentukan secara tegas.


Atau di dalam qoidah lain disebutkan :


العادات محكمات

Kebiasaan bisa menjadi landasan hukum


Sejatinya, Rasulullah sendiri pun memberi dan menerima hadiah dari para sahabat dan kita dianjurkan oleh Rasulullah agar saling memberi hadiah, karena bisa melekatkan kecintaan kita kepada kaum Muslimin.

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


وتَهَادَوْا تَحَابُّوا،وَتَذْهَبُ الشَحْنَاءُ

"Saling memberi hadiahlah kalian,maka kalian akan saling mencintai dan akan hilang kebencian. (HR, Malik kitab Al-Muwatha', hadist no. 908)."


Lalu apa hukumnya meminta THR?

Memang ada di dalam hadist yang melarang untuk meminta minta, tapi meminta seperti apa yang di maksud di dalam hadist tersebut?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :


مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

"Barangsiapa meminta minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya dia telah meminta bara api, terserah kepadanya, apakah dia akan mengumpulkan sedikit atau memperbanyaknya. (HR. Muslim, hadist no. 1041)."

Misal: "Ada seorang anak meminta THR kepada Om nya" : "Om mana THR buat saya"?

Nah, hal ini memang tidak seharusnya dilakukan sang anak. Hanya saja hukumnya bukan haram seperti yang telah tersebar di Media Sosial. Tapi lebih kepada makruh. Dan bisa mengarah kepada mubah.

Makruh jika sang anak diajarkan untuk meminta oleh orang tua kepada om nya tersebut. Dan bisa menjadi mubah karena misalnya spontan dari anak dan juga misalnya di kelurganya sudah biasa minta uang seperti itu kepada saudara-saudaranya. Maka bisa menjadi mubah. Karena di sini berlaku hukum urf.

Sebagaimana disebutkan di dalam qoidah diatas :


العُرْفُ وَالْعَادَةُ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي كُلِّ حُكْمٍ حَكَمَ بِهِ الشَّارِعُ, وَلَمْ يَحُدَّهُ بِحَدٍّ

Urf dan kebiasaan dijadikan pedoman pada setiap hukum dalam syari'at yang batasannya tidak ditentukan secara tegas.

Kesimpulan :

1. Memberikan THR hukumnya mubah (boleh)

2. Orang yang memberi hadiah THR diberi pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala

3. Meminta THR pada asalnya makruh jika diajarkan dari orang tua. Tapi jika spontan dari sang anak ditambah lagi sudah menjadi kebiasaan di keluarganya seperti itu, maka hukumnya mubah. Karena meminta di sini tidak menghinakan dirinya sendiri.

Wallahu Ta'ala a'lam.

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.