logo

Benarkah Jadwal Imsakiyah Itu Bid'ah dan Batil? | Konsultasi Muslim



Banyak orang-orang di luar sana yang gagal memahami apa tujuan imsak, dan akhirnya mereka pun mengatakan bahwa imsak termasuk bid'ah dan batil untuk dilaksanakan.

 

Sebenarnya, orang-orang semacam ini karena kurang luasnya piknik ke ilmu ushul fiqh. Dimana didalam ilmu ushul fiqh mengenal istilah yang dinamakan "Al-Maslahah Al-Mursalah" Yaitu suatu perkara yang mengandung nilai baik dan ada kemaslahatan (kebaikan) dan bermanfaat. Sehingga bisa dijadikan landasan untuk menetapkan suatu hukum Islam.

 

Salah satu qoidah yang bisa dipakai adalah :

 

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

 

Menolak datangnya kemudorotan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat.

 

Dalil para ulama membuat jadwal imsak adalah :

 

Dari zaid bin Tsabit rodhiyallahu ‘anhu berkata :

 

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

 

Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, Berapa lama jarak antara azan Shubuh dan sahur kalian? Zaid menjawab : Sekitar membaca 50 ayat. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Nah, biasanya jadwal imsak di Indonesia itu sekitar 5-10 menit sebelum azan subuh dikumandangkan.

 

Apa tujuannya? Tujuannya adalah agar lebih berhati hati. Memang pada hakikatnya batas waktu sahur itu adalah azan subuh. Akan tetapi untuk mencegah datangnya kemudorotan seperti misalnya kita masih makan dan masih mengunyah nasi, tiba-tiba adzan subuh pun berkumandang, maka ini adalah perkara yang bisa menimbulkan mudorot, di mana nasi masih di dalam mulut sementara azan subuh sudah dikumandangkan, belum lagi haus karena belum minum. Tentunya ini termasuk perkara yang diperhitungkan oleh para ulama.

 

Maka dari itu diambil lah Al-Maslahah Al-Mursalah nya. Di mana supaya lebih berhati hati, dibuatlah jadwal imsak seperti yang tersebar di Indonesia sekarang ini.

 

Dan jadwal imsakiyah itu bukanlah termasuk Bid'ah. Tapi termasuk kedalam Al-Maslahah Al-Mursalah. Ada kebaikan didalamnya dan untuk mencegah datangnya kemudorotan. Sebelum datang kemudorotan, maka hendaklah kita cegah terlebih dahulu.

 

Jadi, tujuan imsak dibuat adalah untuk berhati-hati. Agar jangan sampai ketika azan subuh dikumandangkan, nasi masih berada didalam mulut.

 

Qoidah Ushul Fiqhnya adalah :

 

إِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَصَالِحُ قُدِّمَ اْلأَعْلَى مِنْهَا وَإِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَفَاسِدُ قُدِّمَ اْلأَخَفُّ مِنْهَا

 

Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan. Dan jika ada beberapa mafsadah (bahaya) bertabrakan, maka yang dipilih adalah mafsadah yang paling ringan.

 

 

Masih makan sebelum azan subuh memang tidak dilarang, tapi bagaimana nanti jika kebablasan sampai azan subuh? Begitu juga berhenti makan ketika waktu imsak yang ditetapkan atau sekitar bacaan 50 ayat. Namun kita harus menimbang yang paling tinggi manfaat dari keduanya dan mana yang paling ringan mudorotnya di antara keduanya. Memang yang mudorot bukan makan sahurnya, tapi disaat dia masih makan menjelang azan subuh, di situlah bisa menimbulkan mudorot karena bisa saja nasi masih di dalam mulut, tapi adzan sudah dikumandangkan.

 

Seperti yang kita ketahui bahwa batas waktu tidak boleh makan adalah azan subuh. Akan tetapi jika kita menimbang kemaslahatannya, dan agar lebih berhati hati, maka berhenti di waktu imsak dan sekitar 50 ayat dibacakan sebelum azan subuh tentu lebih baik, bahkan bisa lebih utama.

 

Kenapa? Karena untuk berhati hati dan mencegah datangnya kemudorotan seperti nasi masih didalam mulut, tapi azan sudah dikumandangkan. Tentunya ini sebuah masalah.

 

Walaupun kita tau bahwa mengikuti jadwal imsak bukanlah wajib. Tapi hanya sunnah saja agar lebih berhati hati.

 

Imam Al-Mawardi seorang ulama Mazhab Syafi'i berkata di dalam kitab Al-Iqna' halaman 74 :

 

وزمان الصّيام من طُلُوع الْفجْر الثَّانِي إِلَى غرُوب الشَّمْس لَكِن عَلَيْهِ تَقْدِيم الامساك يَسِيرا قبل طُلُوع الْفجْر وَتَأْخِير (الْفطر) يَسِيرا بعد غرُوب الشَّمْس ليصير مُسْتَوْفيا لامساكمَا بَينهمَا

 

Dan aktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar kedua sampai tenggelamnya matahari. Akan tetapi akan lebih baik bila orang yang berpuasa melakukan imsak (menghentikan makan dan minum) sedikit lebih awal sebelum terbitnya fajar dan menunda berbuka sejenak setelah tenggelamnya matahari agar dia menyempurnakan imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa) di antara keduanya.

 

Imam Ibnu Rusyd, ulama Mazhab Maliki berkata di dalam kitab Fiqihnya Bidayatul Mujtahid kitab Shoum jilid 1 halaman 211 :

 

والمشهور عن مالك وعليه الجمهور أن اﻷكل يجوز أن يتصل بالطلوع، وقيل بل يجب اﻹمساك قبل الطلوع

 

Pendapat yang mashur dari Imam Malik dan sesuai dengan pendapat jumhur (Mayoritas Ulama) adalah, batas makan adalah eksistensi terbit fajar, bukan tampaknya fajar, dan ada yang mengatakan bahkan wajib imsak sebelum terbit fajar.

 

ومن ذهب إلى أنه يجب اﻹمساك قبل الفجر فجريا على اﻻحتياط وسدا للذريعة، وهو أورعالقولين واﻷوا أقيس والله أعلم.

 

Dan mereka yang menentukan batas imsak sebelum terbit fajar hanya sebagai tindakan hati-hati dan menghilangkan keraguan. Pendapat pertama (Imam Malik dan Jumhur) lebih tepat dari pendapat kedua yaitu (imsak sebelum terbit fajar) lebih hati-hati. Wallahu a'lam.

 

Hanya saja jika dia makan setelah waktu imsak, maka diperbolehkan dan tidak ada larangan. Karena waktu imsak dibuat hanya untuk lebih berhati-hati.

 

Allah berfirman :

 

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

 

Dan makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. (QS. Al-Baqarah : 187).

 

Jadwal imsak bukanlah Bid'ah, tapi masuk kedalam Al-Maslahah Al-Mursalah, yaitu ada kebaikan dan manfaat bagi umat di dalamnya. Serta mencegah datangnya kemudorotan.

 

Daripada nasi masih dikunyah di dalam mulut dan dikumandangkan azan, lebih baik berhenti di waktu imsak dan sekitar 50 ayat dibacakan bukan? Karena lebih berhati hati dalam perkara yang baik.

 

Ada sebuah qoidah fiqih menyebutkan :

 

الوَسِيْلَةُ لَهَا أَحْكَامُ المَقَاصِدِ

 

Hukum wasilah tergantung pada tujuan-tujuannya.

 

Artinya adalah jika karena mengikuti jadwal imsak di atas membuat kita lebih berhati-hati, maka itu tindakan yang baik. Karena waktu-waktu sebelum azan subuh kita isi dan sibukkan dengan ibadah kepada Allah, bukan lagi memikirkan urusan perut, sehingga kita beribadah pun bisa tenang dan nyaman.

 

Semoga bermanfaat.

 

Penulis : Fastabikul Randa Ar-Riyawi

Tags

Beliau adalah lulusan S1 Syariah, Jurusan Al-Ahwal Asy-Syakhshiyyah di salah satu Universitas di Surabaya. Saat ini, beliau aktif sebagai Pembimbing Grup-grup Kajian Islam di Whatsapp. Dan beliau juga aktif menulis di blog konsultasimuslim.net, sekaligus sebagai Pengelola blog konsultasimuslim.net.